Gali lobang, tutup lobang ala Bakrie di IndoCoal Deals

2005fr
Kepemilikan Langsung

PT IndoCoal Kaltim Resources (IKTR) Jakarta, Indonesia
Entitas Bertujuan Khusus

2005
Ownership: 99,99%
Assets: IDR50m

PT IndoCoal Kalsel Resources (IKSR) Jakarta, Indonesia
Entitas Bertujuan Khusus

2005
Ownership: 99,99%
Assets: IDR50m

Kepemilikan tidak langsung

Melalui Forerunner

IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR) Cayman, UK
Distributor Batubara

2005
Ownership: 100,00%
Assets: IDR4.522.049m


Forerunner International Pte. Ltd. (Forerunner)

Pada tanggal 18 Nopember 2005, Perusahaan mendirikan Forerunner di Singapura yang dimiliki 100% saham oleh Perusahaan. Pada tanggal yang sama, Perusahaan mengalihkan 100% kepemilikan saham di IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR) kepada Forerunner dengan nilai sebesar harga saham nominal (lihat Catatan 4d).

IndoCoal Resources (Cayman) Limited

Pada tanggal 13 Mei 2005, Perusahaan mendirikan IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR), suatu perusahaan yang berdomisili di Cayman Island dan bergerak dalam bidang usaha penjualan batubara (lihat Catatan 4a).

PT IndoCoal Kaltim Resources

PT IndoCoal Kaltim Resources (IKTR) didirikan berdasarkan Akta Notaris No 44 tanggal 13 Mei 2005 yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Azazi Manusia sesuai dengan surat keputusan No. C-13305.HT.01.01.TH.2005. IKTR berlokasi di Jakarta dan bergerak dalam usaha pertambangan batubara.

PT IndoCoal Kalsel Resources

PT IndoCoal Kalsel Resources (IKSR) didirikan berdasarkan Akta Notaris No 43 tanggal 13 Mei 2005 yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Azazi Manusia sesuai dengan surat keputusan No. C-13303.HT.01.01.TH.2005. IKSR berlokasi di Jakarta dan bergerak dalam usaha pertambangan batubara.

2005, Saldo Pinjaman Jangka Panjang BUMI dari
IndoCoal Export (Cayman) Ltd. IDR4.263.382m

IndoCoal Exports (Cayman) Ltd.

Pada tanggal 6 Juli 2005, IndoCoal Resources (Cayman) Ltd., (ICR), Anak perusahaan, menandatangani perjanjian hutang (Notes Purchase Agreement) dengan IndoCoal Exports (Cayman) Ltd., (ICE) untuk periode selama tujuh (7) tahun. Berdasarkan perjanjian, ICR menerima dana sebesar AS$ 563.400.000. Pinjaman ini digunakan untuk membayar kembali pinjaman sindikasi II dan III dan pinjaman kepada PT Bank Mandiri atas pinjaman I dan III serta digunakan untuk pembiayaan modal kerja Perusahaan dan Anak perusahaan (lihat Catatan 35a).

Pinjaman ini dikenai bunga sebesar 7,134% dan akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012.

Pinjaman ini dijamin dengan piutang atas penjualan batubara dari KPC dan Arutmin berdasarkan perjanjian originator receivables sale agreements dan long-term supply agreement (lihat Catatan 35a).


Sindikasi Bank dan Lembaga Keuangan III

Pada tanggal 4 Oktober 2004, KPC, Perusahaan, Credit Suisse Singapore (“Arrangers”), mengadakan perjanjian pinjaman (facility agreement) dengan sindikasi bank dan lembaga keuangan. Bertindak sebagai facility agent dan security agent adalah Credit Suisse Ltd., Cabang Singapura.

Tujuan dari pinjaman tersebut adalah melunasi seluruh saldo pinjaman Sindikasi Bank dan Lembaga Keuangan I.

Pinjaman ini dijamin dengan hak tagih fiducia atas piutang usaha, persediaan, klaim asuransi, dan escrow account milik KPC.

Jumlah fasilitas pinjaman yang diperoleh adalah sebesar AS$ 385.000.000 dengan tingkat bunga LIBOR + 4% pertahun.

Pokok pinjaman ini harus dibayar dalam sepuluh (10) kali angsuran masing-masing sebesar AS$ 38.500.000 untuk tiap angsuran, yang harus dibayarkan dalam interval waktu setiap tiga (3) bulan sejak penandatanganan perjanjian kredit.

Pada tahun 2005 fasilitas pinjaman ini telah dilunasi dengan pinjaman yang diperoleh dari IndoCoal Export (Cayman) Ltd., (lihat Catatan 20a dan 35a).


Sindikasi Bank dan Lembaga Keuangan II

Pada tanggal 26 Maret 2004, Arutmin, Credit Suisse First Boston Ltd., dan UFJ Bank Ltd., mengadakan perjanjian pinjaman (facility agreement) dengan sindikasi bank dan lembaga keuangan, yang terdiri dari UFJ Bank Ltd., Singapore Branch (fasilitas pinjaman A), Credit Suisse First Boston Ltd (fasilitas pinjaman B) dan Credit Suisse First Boston Ltd., (fasilitas pinjaman C). Bertindak sebagai facility agent adalah UFJ Bank Ltd., Singapore Branch dan sebagai security agent adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan Credit Suisse First Boston Ltd.

Tujuan dari pinjaman tersebut adalah:

  • Melakukan refinancing seluruh pinjaman dari CSFB sebesar AS$ 58.000.000.
  • Untuk melakukan pembayaran kepada pihak kontraktor pertambangan (PT Cipta Kridatama Mining) sebesar AS$ 32.000.000.
  • Digunakan untuk tujuan-tujuan Arutmin secara umum.

Pinjaman ini dijamin dengan klaim atas asuransi, hak fidusia atas piutang usaha, persediaan (termasuk peralatan-peralatan, mesin-mesin, kendaraan, benda-benda bergerak lainnya, spare parts, aksesoris-aksesoris) dan escrow account Arutmin.

Total fasilitas pinjaman yang diperoleh adalah sebesar AS$ 95.000.000.

Pada 31 Desember 2004, jumlah saldo pinjaman adalah sebagai berikut:

Bank dan Lembaga Keuangan/Fasilitas Pinjaman/Jumlah (AS$)/Tingkat Bunga
UFJ Bank Ltd. A 40.625.000 LIBOR + 5% p.a
Credit Suisse First Boston Ltd. B 14.062.500 LIBOR + 4% p.a
Credit Suisse First Boston Ltd. C 22.500.000 LIBOR + 4% p.a
Total 77.187.500

Untuk fasilitas pinjaman A, Arutmin harus membayar angsuran pokok sebanyak enam belas (16) kali angsuran secara triwulanan masingmasing sebesar AS$ 3.125.000 dimulai pada tanggal 23 Juni 2004 dan berakhir pada tanggal 23 Maret 2008.

Untuk fasilitas pinjaman B, Arutmin harus membayar angsuran pokok sebanyak delapan (8) kali pembayaran secara triwulanan masingmasing sebesar AS$ 2.812.500 dimulai pada tanggal 23 Juni 2004 dan berakhir pada tanggal 23 Maret 2006.

Untuk fasilitas pinjaman C, Arutmin harus membayar angsuran pokok sebanyak delapan (8) kali pembayaran secara triwulanan masingmasing sebesar AS$ 2.812.500 dimulai pada tanggal 30 Juni 2006 dan berakhir pada tanggal 31 Maret 2007.

Pada tahun 2005 seluruh fasilitas pinjaman ini telah dilunasi dengan pinjaman yang diperoleh dari IndoCoal Export (Cayman) Ltd., (lihat Catatan 20a dan 35a).


PT Bank Mandiri (Persero) Tbk – Pinjaman I

Pinjaman kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk merupakan fasilitas kredit talangan yang diperoleh Perusahaan sebesar AS$ 103.906.045 dengan pagu kredit sebesar AS$ 103.950.000 pada tanggal 19 Oktober 2001. Sesuai dengan perjanjian kredit, Perusahaan harus melakukan novasi kredit, sehingga fasilitas kredit talangan berubah menjadi kredit berjangka, non-revolving, terhutang dalam sepuluh (10) kali cicilan setengah tahunan, jangka waktu lima (5) tahun dan dikenakan bunga mengambang sesuai dengan referensi prime rate bank yang dibayarkan setiap bulan. Besarnya tingkat bunga pada tahun 2004 adalah sebesar 9.5% per tahun. Pembayaran cicilan terakhir sebesar AS$ 13.906.045 yang akan jatuh tempo pada tanggal 17 Oktober 2006.

Pada tanggal 12 Desember 2001, atas permintaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sesuai dengan perjanjian novasi kredit, pinjaman tersebut dialihkan kepada Arutmin dengan jaminan seluruh aktiva, persediaan, piutang, seluruh saham Perusahaan yang dimiliki Perusahaan dan jaminan Perusahaan dari Long Haul Ltd., perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa.

Pada tahun 2005 fasilitas pinjaman ini telah dilunasi setelah memperoleh pinjaman dari IndoCoal Export (Cayman) Ltd., (lihat Catatan 20a dan 35a).


PT Bank Mandiri (Persero) Tbk – Pinjaman II

Pada tanggal 25 Juli 2003, Arutmin mengadakan perjanjian kredit dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri) dengan jumlah limit kredit sebesar AS$ 40.000.000. Fasilitas kredit tersebut berupa fasilitas kredit talangan (Bridging Loan) dengan tujuan untuk melakukan refinancing kredit dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk, dengan tingkat bunga 10% pertahun dan jatuh tempo dalam waktu enam (6) bulan.

Jaminan atas fasilitas kredit tersebut berupa jaminan fiducia atas rekening penampungan (escrow account) seluruh piutang dan tagihan debitur kepada pihak manapun, seluruh barang persediaan Anak perusahaan, jaminan fiducia atas polis asuransi dan fiducia atas rekening bank yang besarnya paripassu atas saldo pinjaman PT Bank Mandiri (Persero) Tbk terhadap saldo pinjaman lainnya.

Pada tanggal 26 Maret 2004, Arutmin telah memperoleh persetujuan perpanjangan fasilitas kredit talangan dari Bank Mandiri. Angsuran pertama jatuh tempo pada tanggal 30 Juni 2004 dan angsuran terakhir sebesar AS$ 2.500.000 akan jatuh tempo pada tanggal 16 Maret 2008.

Pada tahun 2005 fasilitas pinjaman ini telah dilunasi dengan pinjaman yang diperoleh dari IndoCoal Export (Cayman) Ltd., (lihat Catatan 20a dan 35a).


Perjanjian Keuangan

Pada tanggal 22 Juni 2005, IndoCoal Exports (Cayman) Ltd., (ICE) sebuah perusahaan terbatas yang didirikan di bawah Undangundang dari Cayman Islands (“Penerbit”), menerbitkan Surat Hutang yang bernilai AS$ 600.000.000 Seri 2005-1 yang akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012 (“Tanggal Pembayaran Terakhir Yang Diharapkan”) dengan bunga 7,134% per tahun. Pokok dan bunga atas surat hutang seri 2005-1 akan dibayar pada setiap Tanggal Pembayaran Bulanan, setiap bulannya sebelum tanggal 28 Juli 2008 sebesar AS$ 12,250,988 dan sesudah tanggal tersebut sebesar AS$ 6,063,308. Pokok dan bunga akan dibayar secara bulanan dengan skedul sebagai berikut:

Jumlah Pokok dan Bunga (AS$)/Jadwal Pembayaran

8.943.221 July 28, 2005

Setiap bulan mulai 28 Agustus 2005

12.250.988
sampai dengan 28 Juni 2008

7.733.981 July 28, 2008

6.063.308
Setiap bulan mulai 28 Agustus 2008 sampai dengan 28 Juni 2012

1.637.093
July 6, 2012

Sehubungan dengan penebitan surat hutang tersebut, KPC dan Arutmin (“Pihak Penjual”), IndoCoal resources (Cayman) Limited (“Originator”) dan Bank of New York (selaku pihak Penjamin) menyepakati perjanjianperjanjian sebagai berikut:

1. Originator Receivable Sale Agreements

Perjanjian ini menyatakan bahwa Originator akan membeli dari pihak Penjual, piutang yang ada dan piutang masa akan datang dan aktiva yang dihasilkan dari penjualan batubara oleh pihak Penjual. Perjanjian ini membatasi pihak Penjual untuk merubah atau memodifikasi persyaratan-persyaratan kontrak yang berkaitan dengan aset piutang, melakukan penawaran untuk menjual piutang yang dapat ditransfer atau kekayaan yang berkaitan (atau kepentingan yang terkait) kepada Pihak lain, menciptakan atau melakukan tindakan atas penerimaan piutang, melakukan merger dengan atau bergabung ke pihak manapun, mengambil segala tindakan yang akan mengurangi hak dan kepentingan para Pihak, membuka rekening untuk menampung hasil penerimaan piutang selain rekening penerimaan, membayar atau mengumumkan pembayaran yang dibatasi lebih dari sekali dalam setiap tiga bulan, merubah kebijakan pemberian pinjaman dan metode penagihannya, menjalankan usaha apapun selain penjualan hasil tambang, dan selama surat hutang Series 2005-1 masih berlaku, menciptakan, melakukan tindakan atau segala hal yang menyebabkan kerugian selain yang dinyatakan dalam Perjanjian ini.

2. Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang

Perjanjian ini dibuat pada tanggal 6 Juli 2005, yang menyebutkan antara lain, bahwa pihak Penjual akan menjual batubara kepada Originator dengan harga AS$ 34,30 per ton. Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang juga menyebutkan bahwa Originator akan memberikan uang muka kepada pihak penjual masing-masing sebesar AS$ 173,230,197 untuk Arutmin dan AS$ 426,769,803 untuk KPC pada tanggal penutupan perjanjian.

Uang muka ini akan berkurang jumlahnya setiap bulan melalui pembayaran sesuai dengan harga pembelian piutang oleh Originator, berdasarkan Originator Receivable Sale Agreements yang dilakukan oleh Arutmin/KPC, dan meningkat akibat pembayaran yang dilakukan oleh Originator kepada Arutmin/KPC berdasarkan perjanjian dan bunga yang terhutang oleh Arutmin/KPC terhadap Originator pada tanggal pembayaran bulanan.

Selama masa berlakunya perjanjian ini, kewajiban Arutmin/KPC tidak dapat dikurangi, dirubah atau hal lainnya yang mengakibatkan perubahan signifikan baik terhadap Arutmin/KPC maupun Originator melakukan perbuatan sesuai dengan persyaratan atau melakukan transaksi antar mereka atau percepatan hutang atau memulai pemaksaan hasil sesuai dengan dokumen yang mempengaruhi transaksi tersebut.

Berdasarkan perjanjian, Arutmin/KPC diwajibkan untuk:
a. Memelihara, memperbaharui dan menjaga keberadaannya secara hukum dan hak material, lisensi, franchise, konsesi, perijinan dari pihak ketiga dan hak khusus lainnya yang sesuai dengan hukum yang berlaku.
b. Menjaga kontrak kerja Arutmin/KPC dan semua kontrak lainnya dengan agen pemasaran dan kontraktor produksi atas persyaratan yang secara substansi sama yang berpengaruh pada tanggal penutupan perjanjian;
c. Memperbaharui pembukuan, akun, dan catatan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku.
d. Memelihara semua aset yang material dan perijinan dari pihak ketiga untuk melakukan usaha dengan cara kerja dan keadaan yang baik.

3. Perjanjian Manajemen Kas dan Rekening

Para pihak, Foo Kon Grant Thornton, IndoCoal Kaltim, IndoCoal Kalsel, The Bank of New York dan Standard Chartered Bank tergabung dalam suatu perjanjian manajemen kas dan rekening. Perjanjian ini menyebutkan bahwa para pihak setuju untuk melakukan serangkaian pembayaran, termasuk pembayaran tertentu yang berhubungan dengan Kontraktor Utama dan Agen Pemasaran Utama sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani dan tercantum dalam kontrak. Pembayaran kepada kontraktor produksi berdasarkan rincian faktur pembayaran prioritas berdasarkan limit yang tertera dalam kontrak.

4. Akte Pengalihan PKP2B

Sehubungan dengan perjanjian Long-term Supply Agreement di atas, KPC dan Arutmin masing-masing menandatangani perjanjian untuk mengalihkan PKP2B kepada IndoCoal Kaltim dan IndoCoal Kalsel. Perjanjian ini berlaku efektif secara otomatis jika dan sejak saat terjadinya kepailitan kepada KPC, Arutmin atau Perusahaan. Jika kepailitan tersebut terjadi atau jika KPC, Arutmin dan Perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya sehubungan dengan Surat Hutang Seri 2005-1, maka IndoCoal Kaltim dan IndoCoal Kalsel diberi kuasa untuk melanjutkan pemasokan batubara ke IndoCoal Resources untuk selanjutnya di jual ke Obligator dan seluruh perjanjian dengan kontraktor yang melaksanakan produksi dan agen marketing dialihkan ke Security Trustee yang ditunjuk untuk selanjutnya dialihkan kembali ke IndoCoal Resources.


Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B)

Pada tanggal 2 Nopember 1981 dan 8 April 1982, KPC dan Arutmin (Anak perusahaan) mengadakan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan PT Bukit Asam (PT BA) dimana Anak perusahaan ditunjuk sebagai kontraktor tunggal untuk melaksanakan operasi penambangan batubara selama tiga puluh (30) tahun dalam area pertambangan tertentu di bagian tenggara Kalimantan dan di daerah Propinsi Kalimantan Timur yang pada awalnya masing-masing meliputi luas 1.260.000 hektar dan 790.900 hektar. PKP2B memberikan hak kepada Anak perusahaan untuk mengambil sebesar 86,5% dari jumlah batubara yang diproduksi dari proses produksi akhir, dan sisanya sebesar 13,5% merupakan milik PT BA. Sebagai kompensasi perjanjian tersebut, Anak perusahaan, antara lain, membiayai pembelian material, suku cadang dan aktiva tetap yang diperlukan dalam kontrak karya antara kedua belah pihak. Semua aktiva tetap dan persediaan suku cadang akan menjadi milik PT BA sejak barang-barang yang diimpor tersebut tiba di pelabuhan Indonesia termasuk barang-barang yang dibeli lokal.

Berdasarkan PKP2B, Anak perusahaan tetap berhak untuk menggunakan aktiva tetap dan persediaan tersebut untuk operasi penambangan sepanjang diperlukan tetapi juga harus bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Biaya perolehan tersebut dicatat sebagai aktiva dalam laporan keuangan Perusahaan.

Anak perusahaan bertanggung jawab penuh atas pembiayaan kegiatan eksplorasi dan kegiatan operasi selanjutnya di wilayah pertambangan, yang tergantung pada perolehan cadangan batubara yang memadai. Anak perusahaan juga berkewajiban membayar sewa atas wilayah pertambangan kepada Pemerintah Indonesia melalui PT BA.

Selanjutnya disebutkan dalam PKP2B apabila pada suatu wilayah yang dieksplorasi tidak ditemukan cadangan batubara yang secara komersial dapat ditambang, Anak perusahaan diizinkan untuk menyerahkan wilayah pertambangan tersebut kepada PT BA. Sejak tahun 1999, luas wilayah pertambangan Anak perusahaan telah berkurang sebesar 1.889.787 hektar atau 92% dari wilayah pertambangan pertama kali dan pada tanggal 31 Desember 2005 luas wilayah pertambangan Anak perusahaan sebesar 161.113 hektar.

Efektif tanggal 1 Juli 1997, semua hak dan kewajiban PT BA berdasarkan PKP2B dialihkan kepada Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi, sesuai dengan perubahan kontrak tanggal 27 Juni 1997, antara Anak perusahaan dan PT BA yang disetujui oleh Menteri Pertambangan dan Energi pada tanggal 7 Oktober 1997.


Perjanjian Penjualan Batubara Bersama

Pada tanggal 30 September 1991 dan 1 Nopember 1999, Arutmin dan KPC, menandatangani Perjanjian Penjualan Batubara Bersama (PPBB) dengan PT BA dimana kedua pihak setuju untuk bekerjasama dalam penyediaan batubara sesuai dengan PKP2B tersebut diatas, untuk periode lima (5) tahun, sampai dengan tanggal 1 Januari 1997, yang mana kemudian telah diperpanjang oleh kedua pihak dengan persetujuan tertulis. Seperti ditentukan dalam PPBB, jumlah setiap pengapalan dari masing-masing pihak ditentukan berdasarkan formula tertentu seperti yang tercantum dalam PPBB. PPBB memberikan hak kepada Perusahaan atas 86,5% dari penjualan batubara yang dihasilkan, sementara sisanya sebesar 13,5% akan menjadi hak PT BA.


2006fr
Kepemilikan Langsung

PT IndoCoal Kaltim Resources (IKTR) Jakarta, Indonesia
Entitas Bertujuan Khusus

2005
Ownership: 99,99%
Assets: $5091

2006
Ownership: 99,99%
Assets: $8217

PT IndoCoal Kalsel Resources (IKSR) Jakarta, Indonesia
Entitas Bertujuan Khusus

2005
Ownership: 99,99%
Assets: $5091

2006
Ownership: 99,99%
Assets: $8222

Kepemilikan tidak langsung

Melalui Forerunner

IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR) Cayman, UK
Distributor Batubara

2005
Ownership: 100,00%
Assets: $460.025.400

2006
Ownership: 100,00%
Assets: $889.483.441


Forerunner International Pte. Ltd. (Forerunner)

Pada tanggal 18 Nopember 2005, Perusahaan mendirikan Forerunner di Singapura yang 100% kepemilikan sahamnya dimiliki oleh Perusahaan. Pada tanggal yang sama, Perusahaan mengalihkan 100% kepemilikan saham di IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR) kepada Forerunner dengan nilai sebesar harga nominal saham (lihat Catatan 4d).

IndoCoal Resources (Cayman) Limited

Pada tanggal 13 Mei 2005, Perusahaan mendirikan IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR), suatu perusahaan yang berdomisili di Cayman Island dan bergerak dalam bidang usaha penjualan batubara. Perusahaan memiliki 100% kepemilikan saham di ICR melalui Forerunner (lihat Catatan 4a).

PT IndoCoal Kaltim Resources

PT IndoCoal Kaltim Resources (IKTR) didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 44 tanggal 13 Mei 2005 dan akta pendirian ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Azazi Manusia sesuai dengan surat keputusan No. C-13305.HT.01.01.TH.2005. IKTR berlokasi di Jakarta dan bergerak dalam usaha pertambangan batubara. Perusahaan memiliki 99,99% kepemilikan saham di IKTR.

PT IndoCoal Kalsel Resources

PT IndoCoal Kalsel Resources (IKSR) didirikan berdasarkan Akta Notaris No. 43 tanggal 13 Mei 2005 akta pendirian ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia sesuai dengan surat keputusan No. C-13303.HT.01.01.TH.2005. IKSR berlokasi di Jakarta dan bergerak dalam usaha pertambangan batubara. Perusahaan memiliki 99,99% kepemilikan saham di IKSR.

Pada tanggal 31 Desember 2006 dan 2005, piutang usaha KPC dan Arutmin atas penjualan batu bara kepada pembeli selain ke IndoCoal Resources (Cayman) Limited telah dijual kepada IndoCoal Exports (Cayman) Limited berdasarkan Originator Receivables Sale Agreement dan the Issuer Receivables Sale Agreement, dan karena itu maka hal ini bukan lagi merupakan aktiva KPC dan Arutmin. Namun demikian, KPC dan Arutmin akan tetap bertanggung jawab untuk melaksanakan seluruh hak, kuasa dan discretion sesuai dengan perjanjian tersebut (lihat Catatan 37a).

Saldo Pinjaman Jangka Panjang BUMI dari IndoCoal Export (Cayman) Ltd.
2005, IDR4.263.382m
2005: $433.711.338
2006: $647.909.571

IndoCoal Export (Cayman) Ltd.

Pada tanggal 6 Juli 2005, KPC, and Arutmin (“Pihak Penjual”), ICR (“Originator”), IndoCoal Exports (Cayman) Limited (“Issuer”), PT IndoCoal Kalsel Resources (“Indo Kalsel”) dan PT IndoCoal Kaltim Resources (Indo Kaltim dan bersama-sama dengan Indo Kalsel, the “Indo SPVs”), Bank of New York (“Trustee”), dan Foo Kon Tan Grant Thornton (“Administrator”) menandatangani fasilitas Indenture dan Series 2005-1 Indenture Supplement, dimana Issuer menerbitkan dan menjual Surat Hutang Seri 2005-1 dengan jumlah pokok keseluruhan sebesar AS$ 600 juta. Pinjaman ini dikenai bunga sebesar 7,134% per tahun dan akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012. Issuer menggunakan hasil dari penjualan Surat Hutang Seri 2005-1 ini untuk membeli piutang milik Originator dengan uang muka sebesar AS$ 600 juta berdasarkan Issuer Receivables Sale Agreement antara Issuer dengan Originator. Originator menggunakan dana sebesar AS$ 600 juta dari uang muka tersebut untuk memberikan uang muka kepada Pihak Penjual (Uang Muka) untuk pembelian piutang yang ada sekarang dan dimasa yang akan datang berdasarkan Originator Receivables Sale Agreement antara Originator dan Pihak Penjual dan untuk pengiriman batubara di masa yang akan datang oleh Pihak Penjual berdasarkan Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang (Long-term Supply Agreements) yang disepakati Pihak Penjual dan Originator (lihat Catatan 37b).

Pada tanggal 28 April 2006, Pihak Penjual, Originator, Indo SPVs, Issuer dan Trustee menandatangani Series 2006-1 Indenture Supplement dimana Issuer menerbitkan Surat Hutang Seri 2006-1 dengan jumlah total sebesar AS$ 800 juta. Hasil dari Surat Hutang Seri 2006-1 ini digunakan untuk melunasi Surat Hutang Seri 2005-1 dan pinjaman yang diberikan oleh Credit Suisse kepada Perusahaan. Surat Hutang Seri 2006-1 jatuh tempo pada 28 Juli 2006, yang kemudian diperpanjang hingga 28 September 2006 dan selanjutnya dilunasi melalui penerbitan Surat Hutang Seri 2006-2.

Pada tanggal 3 Oktober 2006, Pihak Penjual, Originator, Penerbit, Indo SPV, Trustee, dan Administrator, menandatangani Perjanjian Tambahan Surat Hutang Seri 2006-2 (Indenture Supplement), dimana Issuer menerbitkan Surat Hutang dengan tingkat bunga yang mengambang Seri 2006-2 Kelas A-1 sebesar AS$ 600 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2011; serta Surat Hutang dengan tingkat bunga mengambang Seri 2006-2 Kelas A2 sebesar AS$ 300 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2012.

Saldo sisa Surat Hutang Seri 2006-2 dibebankan bunga tahunan yang setara dengan LIBOR ditambah pada marjin tertentu. Bunga atas Surat Hutang Seri 2006-2 di setiap periode bunga harus dibayar pada tanggal jatuh tempo bulanan, Early Amortization Payment Date, atau tanggal jatuh tempo akhir (Expected Final Payment Date). Tanggal pembayaran bulanan adalah hari ke-28 setiap bulan, dimana pembayaran pertama jatuh pada tanggal 28 Oktober 2006 (lihat Catatan 37b).


Transaksi Sekuritisasi Piutang Batubara (Coal Receivables Securitization Transaction)

Pada tanggal 6 Juli 2005, KPC dan Arutmin (Pihak Penjual) dan IndoCoal Resource (Cayman) Limited, Anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Perusahaan (Originator), melakukan transaksi dengan IndoCoal Exports (Cayman) Limited, sebuah Perusahaan yang didirikan dibawah Undangundang Cayman Islands (Penerbit), dimana
(i) Pihak Penjual menjual seluruh piutang penjualan batubaranya yang ada sekarang dan yang akan diproduksi dimasa yang akan datang kepada Originator dan menjual seluruh produksi batubaranya dimasa yang akan datang kepada Originator sebanyak yang dibutuhkan oleh Originator,
(ii) Originator setuju untuk menjual semua piutang penjualan yang ada sekarang dan yang akan datang, baik yang dihasilkannya sendiri maupun yang diperoleh dari Pihak Penjual kepada Penerbit, dan
(iii) Penerbit menerbitkan Surat Hutang Seri 2005-1 yang bernilai AS$ 600 juta dengan bunga 7,134% berdasarkan fasilitas Indenture and Series 2005-1 Indenture Supplement dan menggunakan dana yang dihasilkannya untuk membeli piutang-piutang tersebut dari Originator (Transaksi Sekuritisasi).
Transaksi Sekuritisasi dan dokumen yang terkait dengan transaksi tersebut (Dokumen Transaksi Sekuritisasi) dijelaskan lebih rinci dibawah ini.

Pada tanggal 6 Juli 2005, Penerbit menerbitkan Surat Hutang Seri 2005-1 sebesar AS$ 600 juta yang akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012 dengan tingkat bunga 7,134% per tahun. Penerbit adalah entitas bertujuan khusus yang tidak berafiliasi dengan Anak perusahaan yang dibentuk untuk:
(i) melaksanakan penerbitan surat hutang (termasuk Surat Hutang Seri 2005-1) dalam rangka fasilitas Indenture dan Series 2005-1 Indenture Supplement
(ii) mengelola penggunaan dana yang diperoleh dari penerbitan surat hutang dan dana yang lain yang diperoleh di penerbit dari waktu ke waktu (seperti penagihan piutang dari Originator dan pihak penjual),
(iii) mengelola pembayaran kembali surat hutang yang masih beredar, dan
(iv) sesuai dengan Issuer Receivables Sale Agreement, memperoleh piutang dari Originator, pihak penjual dan, dalam keadaan tertentu, Indo SPV, melalui penjualan batubara.

Suhubungan dengan penerbitan surat hutang Seri 2005-1, Pihak Penjual, Originator dan Bank of NewYork, masing-masing dalam kapasitas sebagai Indenture Trustee dan Security Trustee menandatangani perjanjian sebagai berikut:

1. Perjanjian Penjualan Piutang Milik Penerbit (Issuer Receivables Sale Agreement/IRSA)

Penerbit dan Originator menandatangani IRSA dimana Penerbit akan membeli aktiva dalam bentuk piutang usaha milik Originator yang diperoleh Originator dari Pihak Penjual. Sesuai dengan perjanjian ini, Penerbit akan memberikan sejumlah AS$ 600 juta kepada Originator sebagai uang muka pembelian tersebut (selanjutnya disebut Uang Muka Originator). Originator akan menggunakan uang muka tersebut untuk memberikan uang muka kepada Pihak Penjual sehubungan dengan Perjanjian Penjualan Piutang Milik Originator (Originator Receivable Sale Agreement) dan Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang (Long Term supply Agreement)

2. Perjanjian Penjualan Piutang Milik (Originator Receivable Sale Agreements/ORSA)

Pihak Penjual dan Originator menandatangani ORSA dimana Originator akan membeli dari Pihak Penjual, piutang yang ada dan yang akan timbul dimasa yang akan datang, serta yang akan dihasilkan dari penjualan batubara oleh pihak Penjual.

Perjanjian ini melarang Pihak Penjual untuk mengubah atau memodifikasi persyaratanpersyaratan kontrak yang berkaitan dengan aset piutang, kecuali diperbolehkan oleh kebijakan kredit dan piutang Pihak Penjual, melakukan penawaran untuk menjual piutang yang dapat ditransfer atau kekayaan yang berkaitan atau kepentingan yang terkait kepada pihak lain, menciptakan atau melakukan tindakan penerimaan piutang, melakukan merger dengan atau bergabung ke pihak manapun, mengambil segala tindakan yang akan mengurangi hak dan kepentingan para Pihak, membuka rekening untuk menampung hasil penerimaan piutang selain rekening penerimaan, membayar atau mengumumkan pembayaran yang dibatasi lebih dari sekali dalam setiap tiga bulan, merubah kebijakan pemberian pinjaman dan metode penagihannya, menjalankan usaha apapun selain penjualan hasil tambang, dan selama Surat Hutang Seri 2005-1 masih berlaku, menciptakan, melakukan tindakan atau segala hal yang menyebabkan kerugian selain yang dinyatakan dalam Perjanjian ini.

3. Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang (Long Term Supply Agreement/LTSA)

Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang tanggal 6 Juli 2006, antara lain, menyatakan bahwa, Pihak Penjual akan menjual batubara kepada Originator dengan harga AS$ 34,30 per ton berdasarkan nilai kalori sebesar 6.322 kcal/kg (sesudah di sesuaikan dengan perbedaan nilai kalori milik Originator yang dibeli dari KPC/ Arutmin sesuai dengan perjanjian) (fixed forward price).

Perjanjian ini juga menyatakan bahwa Originator akan membayar uang muka kepada Pihak Penjual sebesar AS$ 600 juta pada tanggal penutupan.

Uang muka yang diterima akan berkurang setiap bulan dengan jumlah nilai pembelian piutang secara keseluruhan (sebagaimana didefinisikan dalam Dokumen Transaksi Sekuritisasi), yang terhutang oleh Originator untuk aktiva piutang yang dibeli berdasarkan ORSA dan akan bertambah dengan pembayaran yang dilakukan oleh Originator kepada Pihak Penjual sesuai dengan LTSA dan ORSA dengan cara yang disediakan dari cash waterfall yang ditetapkan dalam Indenture dan interest amounts payable oleh Pihak Penjual kepada Originator pada tanggal pembayaran bulanan yang berkaitan.

Pihak Penjual diharuskan untuk membayar kepada Originator bunga atas uang muka yang diterima dalam rangka ORSA secara bulanan yang jumlahnya sama dengan bunga yang akan dibayar Penerbit kepada pemegang Surat Hutang Seri 2005-1 berdasarkan Indenture dan Indenture Supplement atas Surat Hutang Seri 2005-1 pada tanggal pembayaran bulanan.

Selama masa berlakunya perjanjian ini, kewajiban Pihak Penjual bersifat mutlak, tidak bersyarat dan tidak dapat dikurangi, dirubah atau dipengaruhi dalam bentuk apapun juga oleh ketidakmampuan baik Pihak Penjual maupun Originator untuk melaksanakan persyaratan dan kondisi dari transaksi antar kedua pihak, percepatan hutang, atau pengenaan sanksi sebagaimana tercantum dalam dokumen transaksi yang bersangkutan.

4. Perjanjian Manajemen Kas dan Rekening (Cash and Accounts Management Agreement/CAMA)

Pada tanggal 6 Juli 2005, penerbit, Originator dan Pihak Penjual, Administrator Transaksi, Indo SPVs, Penjamin, dan Standard Chartered Bank menandatangani CAMA dimana para pihak setuju untuk melakukan serangkaian pembayaran, termasuk pembayaran tertentu yang berhubungan dengan Kontraktor Produksi Utama dan Agen Pemasaran Utama. Pembayaran kepada kontraktor produksi harus berdasarkan rincian faktur pembayaran dan prioritas pembayaran berdasarkan pembatasan yang tertera dalam kontrak.

5. Akte Pengalihan Kontrak Karya (PKP2B)

Sehubungan dengan perjanjian LTSA di atas, KPC dan Arutmin masing-masing menandatangani perjanjian untuk mengalihkan PKP2B kepada IndoCoal Kaltim dan IndoCoal Kalsel. Perjanjian ini berlaku efektif secara otomatis jika dan sejak saat pailitnya KPC, Arutmin atau Perusahaan. Jika kepailitan tersebut terjadi atau jika KPC, Arutmin dan Perusahaan menyatakan tidak dapat memenuhi kewajibannya (seperti dijelaskan dalam Securitization Transaction Documents) sehubungan dengan Surat Hutang Seri 2005-1, maka IndoCoal Kaltim dan IndoCoal Kalsel diberi kuasa untuk melanjutkan pemasokan batubara ke Originator untuk selanjutnya di jual ke Pelanggan. Perjanjian dengan kontraktor oleh pihak Penjual dan agen pemasaran dialihkan ke Security Trustee untuk memberikan ijin kepada Indo Kalsel dan Indo Kaltim pada saat pengalihan PKP2B diselesaikan.

Berdasarkan perjanjian, Arutmin/KPC diwajibkan untuk:
a. Memelihara, memperbaharui dan menjaga keberadaannya secara hukum dan hak, waralaba, perijinan, konsesi dari pihak ketiga dan hak khusus lainnya sesuai dengan hukum yang berlaku.
b. Menjaga kontrak kerja dan semua kontrak lainnya dengan agen pemasaran dan kontraktor produksi dengan persyaratan yang secara substansi sama pada tanggal penutupan;
c. Menyelenggarakan pembukuan, akun, dan catatan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku (seperti dijelaskan dalam Securitization Transaction Documents), dan
d. Memelihara semua aset yang material dan perijinan yang diperlukan untuk melakukan usaha.

Sehubungan dengan perjanjian pengalihan PKP2B dari Pihak Penjual ke Indo Kaltim dan Indo Kalsel, Indo Kaltim dan Indo Kalsel menandatangani Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang Bersyarat dengan Originator dimana Indo Kaltim dan Indo Kalsel menyetujui untuk memasok batu bara kepada Originator dengan harga yang disepakati dalam perjanjian.

Dengan diterbitkannya Surat Hutang Seri 2006-1 dan Seri 2006-2, Penerbit, Originator dan Bank of New York (Indenture Trustee dan Security Trustee) telah melakukan perubahan perjanjian dengan menerbitkan “Perjanjian Perubahan dan Penyajian Kembali” sesuai dengan perjanjian Surat Hutang Seri 2006-1 dan “Perubahan Pertama atas Perjanjian Perubahan dan Penyajian Kembali” sesuai dengan Perjanjian Surat Hutang Seri 2006-2 Notes (lihat Catatan 20a).

Sehubungan dengan Perjanjian Perubahan dan Penyajian Kembali tersebut, Perubahan dan kualifikasi hanya akan menjadi efektif jika para pihak menyetujui Perubahan dan modifikasi tersebut.


IndoCoal Exports (Cayman) Ltd.

1. Seri 2006-2 Note

Pada tanggal 3 Oktober 2006, KPC dan Arutmin (Pihak Penjual), Indocoal Resources (Cayman) Limited (Originator), IndoCoal Exports (Cayman) Limited (Penerbit), PT Indocoal Kalsel Resources (Indo Kalsel) dan PT Indocoal Kaltim Resources (Indo Kaltim dan, bersama dengan Indo Kalsel, Indo SPVs), Bank New York (Penjamin), dan Foo Kon Tan Grant Thornton (Administrator Transaksi), menandatangani Perjanjian Tambahan (Indenture Supplement), atas Surat Hutang Seri 2006-2, dimana dengan perjanjian ini Penerbit akan mengeluarkan:
(i) Surat Hutang Seri 2006-2 Kelas A-1 dengan tingkat bunga mengambang dan akan jatuh tempo pada 2011 sebesar AS$ 600 juta.
(ii) Surat Hutang Seri 2006-2 kelas A-2 dengan tingkat bunga mengambang dan akan jatuh tempo pada 2012 sebesar AS$ 300 juta.

Dana hasil Surat Hutang Seri 2006- 2 digunakan untuk:
(a) Pelunasan Surat Hutang Seri 2006-1 sebesar AS$ 800 juta;
(b) Pendanaan sebagian dari cadangan Surat Hutang Seri 2006, sebesar AS$ 25,5 juta;
(c) Modal kerja untuk KPC dan Arutmin sebesar AS$ 30 juta; dan
(d) Pembayaran fee dan biaya yang terjadi sehubungan dengan pijaman.

Saldo Surat Hutang seri 2006-2 dibebankan bunga tahunan yang setara dengan LIBOR plus margin tertentu. Bunga yang masih harus dibayar pada Surat Hutang Seri 2006-2 di setiap periode bunga akan dibayar pada tanggal jatuh tempo bulanan (Monthly Payment Date), tanggal jatuh tempo yang dipercepat (Early Amortization Payment Date) atau tanggal pelunasan akhir (Expected Final Payment Date). Tanggal pembayaran bulanan adalah hari ke 28 setiap bulan, dimana pembayaran pertama jatuh pada tanggal 28 Oktober 2006.

Persyaratan atas Pengikatan, perwakilan dan penjaminan, yang akan disepakati yang berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2006-2 (Seri 2006-2 Supplemen Perjanjian) sama dengan Persyaratan Dokumen Transaksi Sekuritisasi, termasuk percepatan pelunasan (early amortization events) dan peristiwaperistiwa pemicu (trigger events), sepanjang perubahan tersebut disetujui oleh semua pihak, antara Perusahaan, Pihak Penjual, Indo SPVs, Originator dan Pelaksana (lihat Catatan 21a)

Jaminan yang diberikan berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2006-2 sama dengan jaminan yang diberikan berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2005-1. Perusahaan memberikan jaminan berupa 99.99% saham Arutmin dan 99.98% saham Indo SPVs, Forrerunner memberikan jaminan berupa 100% dari saham Originator. Berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2006-2, pemegang saham KPC memberikan jaminan berupa 92% saham KPC.


2. Seri 2006-1 Note

Pada tanggal 28 April 2006, KPC dan Arutmin (Pihak Penjual), IndoCoal Resources (Cayman) Limited (the Originator), IndoCoal Export (Cayman) Limited (Penerbit), Indo Kalsel dan Indo Kaltim (Indo SPVs), dan Bank of New York (Indenture Trustee) menandatangani Perjanjian Tambahan Surat Hutang Seri 2006-1, dimana penerbit mengeluarkan Surat Hutang Seri 2006-1 dengan jumlah total AS$ 800 juta. Dana dari Surat hutang Seri 2006-1 ini digunakan untuk melunasi Surat Hutang Seri 2005-1 (lihat Catatan 38c) dan dana talangan yang diperoleh Perusahaan dari Credit Suisse. Surat hutang Seri 2006-1 akan jatuh tempo pada tanggal 28 Juli 2006 (Expected Final Payment Date) dan dibebani tingkat bunga 7% per tahun yang terhutang pada tanggal tertentu setiap bulan.

Pada tanggal 28 Juli 2006, sehubungan dengan Surat Hutang Seri 2006-1 tanggal 28 April 2006, semua pihak menyetujui perubahan ketentuan dalam Surat Hutang Tambahan Seri 2006-1. Perubahan yang signifikan adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran akhir diharapkan diperpanjang dari tanggal 28 Juli 2006 menjadi tanggal 28 September 2006.
2. Tingkat bunga diubah dari 7.0% per tahun menjadi 7.0% per tahun untuk periode sebelum tanggal 28 Juli 2006, dan sesudahnya menggunakan tingkat bunga 7.5% per tahun.
3. Tambahan fee atas perpanjangan (extention fee) adalah sebesar AS$ 2 juta.

Pada tanggal 3 Oktober 2006, bagian dari pinjaman Surat Hutang Seri 2006-2 digunakan untuk membayar pelunasan Surat Hutang 2006-1 dan biaya yang berkaitan dengan pelunasan tersebut (lihat Catatan 21a).


3. Seri 2005-1 Note

Pada tanggal 6 juli 2005, Pihak Penjual, Indo SPVs, Penjamin, dan Administrator Transaksi mengadakan Perjanjian Surat Hutang Seri 2005-1 dimana Penerbit mengeluarkan dan menjual Surat Hutang Seri 2005-1 dengan total pokok sebesar AS$ 600 juta dengan tingkat bunga sebesar 7,134% per tahun dan akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012. Penerbit menggunakan dana yang dihasilkan dari penjualan Surat Hutang 2005-1 tersebut untuk membeli piutang-piutang tersebut dari Orginator dengan membayar uang muka sebesar AS$ 600 juta kepada Orginator sesuai dengan Issuer Receivables Sale Agreement antara Penerbit dan Orginator. Orginator menggunakan AS$ 173,3 juta dari Orginator Prepayment Amount yang diterima dari Penerbit untuk membayar uang muka kepada Pihak Penjual (Prepayment Amount) atas pembelian piutang yang ada sekarang dan yang akan datang milik Penjual sesuai dengan Orginator Receivables Sale Agreement antara Penerbit dan Pihak Penjual dan pembelian batu bara dimasa yang akan datang sehubungan dengan Long-term Supply Agreeement antara Pihak Penjual dan Orginator.

Pihak Penjual diharuskan membayar ke Originator biaya bunga atas Prepayment Amount yang jumlahnya sama dengan biaya bunga yang dibayar Penerbit kepada pemegang Surat Hutang Seri 2005-1 sehubungan dengan Tambahan Perjanjian Surat Hutang Seri 2005-1 pada setiap tanggal pembayaran bulanan.

Pihak Penjual menggunakan dana hasil Prepayment Amount untuk hal-hal sebagai berikut:
a. Sejumlah AS$ 438.7 juta untuk membayar kembali pinjaman sehubungan Fasilitas KPC 2004, Pinjaman Mandiri Arutmin 2001, Arutmin 2004 Pinjaman Mandiri dan Perjanjian Fasilitas Arutmin 2004;
b. AS$ 69.5 juta untuk pembayaran uang muka kepada Perusahaan
c. AS$ 36.6 juta untuk reserve dalam rangka Perjanjian Tambahan Surat Hutang Seri 2005-1 Suplemen Perjanjian; dan
d. Jumlah yang tersisa untuk membayar tunggakan pasti yang berkaitan dengan Transaksi Sekuritas dan untuk modal kerja Pihak Penjual.

Pada tanggal 28 April 2006, sebagian dana hasil pinjaman Surat Hutang Seri 2006-1 digunakan untuk membayar pelunasan Surat Hutang 2005-1 dan biaya yang berkaitan dengan pelunasan tersebut (lihat Catatan 21a).


Perjanjian Pemasaran

1. Pada tanggal 22 Oktober 2001, Arutmin mengadakan perjanjian dengan BHP Biliton Marketing AG (BHPB) dimana BHPB bertindak sebagai agen pemasaran Anak perusahaan untuk penjualan batubara di Indonesia sesuai PPBB. Sebagai kompensasi, Arutmin harus membayar komisi sebesar 4% dari harga F.O.B batubara yang dijual di Indonesia, setelah dikurangi penjualan dan komisi bagian Pemerintah Indonesia yang dihitung sesuai dengan PPBB antara Arutmin dengan BA, tetapi hanya sebatas penjualan yang pembayarannya diterima Anak perusahaan tersebut. Jangka waktu perjanjian adalah lima (5) tahun yang dimulai dari tanggal setelah penandatanganan kontrak, dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama tiga (3) bulan sebelum berakhirnya perjanjian ini.

Pada tanggal 4 Oktober 2003, perjanjian tersebut telah diperbaharui, dimana dalam amandemen perjanjian tersebut ditetapkan bahwa BHPB berhak atas komisi sebesar 4% dari setiap pengapalan ekspor dari seluruh batubara di lokasi penambangan Satui, Senakin, Ata-Mereh Batulicin, dan dari lokasi penambangan baru yang akan dibuka dimasa depan yang ditujukan untuk memenuhi pasar ekspor, selain itu disebutkan juga bahwa pihak BHPB berkewajiban untuk membayar service fee sebesar 0,75% kepada pihak Enercorp, dari setiap komisi yang diterima oleh pihak BHPB. Jangka waktu perjanjian berlaku sampai dengan tanggal 29 November 2011.

Pada tanggal 6 Juli 2005, Arutmin dan BPHB memutuskan perjanjian kontrak jasa pemasaran tanggal 22 Oktober 2001 dan 4 Oktober 2003, lalu Arutmin, BHPB, Originator, dan Indo Kalsel menandatangani perjanjian jasa pemasaran yang baru. Dalam perjanjian baru ini BHPB setuju untuk menyediakan jasa pemasaran bagi Arutmin, Originator, dan (sesuai dengan pengalihan kontrak kerja Arutmin ke Indo Kalsel) Indo Kalsel. BHPB berhak untuk menerima komisi sebesar 4% dari penjualan ekspor diluar penjualan Arutmin ke Originator dalam rangka Perjanjian Penyediaan Jangka Panjang dan yang dijual Indo Kalsel ke Originator, dalam rangka Perjanjian Penyediaan Jangka Panjang. Perjanjian akan berakhir pada tanggal 29 Nopember 2011.

2. Pada tanggal 6 Oktober 2003, Arutmin mengadakan perjanjian dengan Enercorp Limited (Enercorp), dimana Enercorp akan bertindak sebagai agen pemasaran batubara untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Sebagai imbal jasa Arutmin akan membayar komisi sebesar 4% dari FOB, CIF, CFR atau dasar lainnya. Jangka waktu perjanjian adalah lima (5) tahun sejak berlakunya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian dengan Enercorp diperbaharui dan disajikan kembali untuk melibatkan Originator dan Indo Kalsel dalam perjanjian pemasaran. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui dan disajikan kembali tersebut, Enercorp setuju untuk memberikan jasa pemasaran kepada Arutmin dan Originator dan (sesuai dengan pengalihan Perjanjian Batubara Arutmin kepada Indo Kalsel) Indo Kalsel.

3. Pada tanggal 10 Oktober 2003, KPC mengadakan perjanjian dengan Glencore Coal (Mauritius) Limited (Glencore),dimana Glencore akan bertindak sebagai agen pemasaran batubara untuk seluruh negara kecuali Jepang. Sebagai imbal jasa KPC akan membayar komisi sebesar 5% dari FOB, CIF, CFR atau dasar lainnya. Jangka waktu perjanjian adalah selama dua belas (12) tahun sejak berlakunya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian pemasaran dengan Glencore di perbaharui dan disajikan kembali untuk melibatkan Originator dan Indo Kaltim terlibat dalam perjanjian pemasaran. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui dan disajikan kembali tersebut, Glencore setuju untuk memberikan jasa pemasaran untuk KPC, Originator, dan (sesuai dengan Perjanjian Pengalihan PKP2B KPC ke Indo Kaltim) Indo Kaltim.

4. Pada tanggal 9 Januari 2004, KPC mengadakan perjanjian dengan Mitsubishi Corporation (Mitsubishi), dimana Mitsubishi akan bertindak sebagai agen pemasaran batubara untuk negara Jepang. Sebagai imbal jasa KPC akan membayar komisi sebesar 5% dari FOB, CIF, CFR atau dasar lainnya. Jangka waktu perjanjian adalah selama dua belas (12) tahun sejak tanggal berlakunya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian pemasaran dengan Mitsubishi di perbaharui dan disajikan kembali untuk melibatkan Originator dan Indo Kaltim terlibat dalam perjanjian pemasaran. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui dan disajikan kembali tersebut, Mitsubishi setuju untuk memberikan jasa pemasaran untuk KPC, Originator, dan (sesuai dengan Perjanjian Pengalihan PKP2B KPC ke Indo Kaltim) Indo Kaltim.

5. Pada tanggal 9 Januari 2004 dan 20 April 2004, Perusahaan dan Mitsubishi Corporation (Mitsubishi), serta Perusahaan dan Glencore Coal (Mauritius) Ltd. (Glencore) menandatangani Perjanjian Jasa Konsultasi Pemasaran (MAA) sehubungan dengan penjualan batubara. Sebagai kompensasi atas jasa tersebut, Mitsubishi dan Glencore akan membayar Perusahaan komisi atas penjualan batubara yang dilakukan oleh KPC (lihat Catatan 40d).


Perjanjian Operasi

1. Pada tanggal 19 Oktober 2000, Arutmin menandatangani perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) untuk pengoperasian dan perawatan tambang Satui dan Senakin. Dalam perjanjian disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan aktiva tetap, perlengkapan, peralatan fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain dari barang yang akan disediakan oleh Arutmin, yang disebutkan dalam perjanjian), serta tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, Arutmin akan membayar kepada Thiess biaya dan pelayanan yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian operasi diperbaharui untuk melibatkan Indo Kalsel dalam perjanjian tersebut. Dalam perjanjian operasi disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan jasa penambangan kepada Indo Kalsel jika pada suatu saat PKP2B dialihkan kepada Indo Kalsel. Sesuai dengan perjanjian operasi yang diperbaharui, Perusahaan diijinkan untuk mengalihkan haknya atas perjanjian operasi kepada Bank of New York, sebagai security trustee under the indenture dan memodifikasi syarat pembayaran dan penghentian perjanjian.

2. Pada tanggal 1 Maret 2006 Arutmin menandatangi perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Bokormas Wahana Makmur (“Bokor”) untuk melakukan penambangan secara ekonomis dari cadangan batubara yang ada serta memaksimalkan usia operasi tambang serta sekaligus secara aktif bekerjasama bersama perusahaan dalam menghentikan aktivitas penambangan tanpa izin di Batulicin. Dalam perjanjian ini, Bokor menyediakan tenaga kerja, dana, material, peralatan, transportasi dan akomodasi, penyeliaan, serta administrasi untuk melaksanakan pekerjaan menurut perjanjian ini sesuai dengan lingkup kerja, spesifikasi, peta, gambar (bila ada) dan segala persyaratan dari perjanjian ini. Perjanjian ini berlaku mulai tanggal 1 Maret 2006 dan berakhir tanggal 1 Maret 2008.

3. Pada tanggal 10 Oktober 2003, KPC menandatangani perpanjangan perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) untuk operasi dan perawatan tambang Melawan dan Sangatta. Dalam perjanjian disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan aktiva tetap, peralatan, fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain dari barang-barang yang akan disediakan oleh KPC seperti yang disebutkan dalam perjanjian), tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, KPC akan membayar kepada Thiess biaya dan pelayanan yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian operasi jasa penambangan diperbaharui untuk melibatkan Indo Kaltim dalam perjanjian operasi tersebut. Dalam perjanjian disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan jasa penambangan untuk Indo Kaltim jika pada satu saat PKP2B KPC dialihkan ke Indo Kaltim. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui, KPC diijinkan untuk mengalihkan haknya atas perjanjian operasi kepada Bank of New York, sebagai Security trustee under the indenture, dan memodifikasi syarat pembayaran dan penghentian perjanjian.

4. Pada tanggal 1 Nopember 2002, Arutmin menandatangani Perjanjian kontrak jasa penambangan dengan PT Cipta Kridatama Mining (CKM) untuk membuka lokasi penambangan di konsesi Ata-Mereh, Batulicin Kalimantan Selatan. Sesuai dengan kontrak No. BTL/02/RC02-D disebutkan bahwa pihak CKM akan menangani seluruh aktivitas penambangan, yang meliputi aktivitas penyediaan tenaga kerja, peralatan, supervisi, penambangan, transportasi, pengolahan dan pengapalan batubara. CKM juga akan mendesain, membangun dan mengoperasikan fasilitas pabrik pengolahan batubara baik dilokasi Ata maupun di Mereh, serta jalan akses masuk ke tambang dan jalur pengangkutan batubara dari lokasi tambang ke pelabuhan. Perjanjian ini berlaku untuk periode lima (5) tahun sejak tanggal 1 Nopember 2002.

5. Pada tanggal 8 April 2004, KPC menandatangani perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) untuk pengoperasian dan perawatan tambang KPC. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa PAMA akan menyediakan aktiva tetap, peralatan, fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain barang yang akan disediakan oleh KPC, yang disebutkan dalam Perjanjian), serta tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, KPC akan membayar kepada PAMA suatu biaya dan pelayanan yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian. Perjanjian ini berlaku untuk periode sebelas (11) tahun sejak tanggal 1 Juli 2004 (lihat Catatan 37r).

Pada tanggal 27 Mei 2004, KPC menandatangani perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Darma Henwa (DH) dimana DH setuju untuk menyediakan jasa penambangan untuk KPC. Dalam perjanjian disebutkan bahwa DH akan menyediakan aktiva tetap, peralatan, fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain barang yang akan disediakan sendiri oleh KPC, yang disebutkan dalam perjanjian), serta tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, KPC akan membayar kepada DH suatu biaya yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian. Perjanjian ini berlaku selama sepuluh (10) tahun sejak tanggal ditandatanganinya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian operasi jasa penambangan dengan DH diperbaharui untuk melibatkan Indo Kaltim dalam perjanjian operasi tersebut. Dalam perjanjian disebutkan bahwa DH akan menyediakan jasa penambangan untuk Indo Kaltim jika pada satu saat kontrak batubara KPC dialihkan ke Indo Kaltim. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui, KPC diijinkan untuk mengalihkan haknya atas perjanjian operasi kepada Bank of New York, sebagai Security trustee under the indenture, dan memodifikasi syarat pembayaran dan penghentian perjanjian.


i. Perjanjian Penambangan Bawah Tanah Satui

Pada tanggal 8 Nopember 2002, Arutmin menandatangani perjanjian penambangan bawah tanah dengan Tunnel Mining Australia Pty. Ltd. diareal konsesi Satui, Kalimantan Selatan. Sebagaimana tercantum dalam kontrak No. STI/02/C10 Rev 1, kontraktor bertanggung jawab untuk membangun bangunan kantor, fasilitas penambangan bawah tanah, sarana jalan dan jaringan komunikasi yang terkait dengan pekerjaan penambangan bawah tanah. Sampai dengan tanggal laporan ini proyek ini masih terus berlangsung.


l. Perjanjian Jual Beli Bersyarat

Perusahaan dan PT Borneo Lumbung Energi (Borneo), afiliasi dari PT Renaisance Capital menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB) tanggal 16 Maret 2006 tentang pengalihan saham Anak Perusahaan KPC, Arutmin, BRJ, ICR, IKTR dan IKSR dengan harga penjualan sebesar AS$ 3,25 milyar.

Sesuai dengan PJBB penyelesaian atas penjualan terjadi apabila persyaratan-persyaratan tersebut di bawah ini dipenuhi dalam kurun waktu 3,5 bulan:
1. Transaksi disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan;
2. Transaksi tidak melanggar peraturan dalam Kontrak Karya dengan Pemerintah Indonesia;
3. Transaksi disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham KPC/Arutmin;
4. Tidak ada peraturan dari Pemerintah Indonesia yang membatasi atau melarang transaksi tersebut;
5. Tidak terdapat pelanggaran yang berarti dari perusahaan-perusahaan yang dijual terhadap persyaratan perjanjian keuangan yang ada; dan
6. Pembentukan “Completion Escrow Account”.

Pada tanggal 25 Agustus 2006, Perusahan mengumumkan kepada masyarakat bahwa Perusahaan dan PT Borneo Lumbung Energi memutuskan untuk tidak melanjutkan proses PJBB yang ditanda tangani pada tanggal 16 Maret 2006. kesepakatan untuk tidak meneruskan PJBB membuka kesempatan kepada kedua pihak untuk bebas memanfaatkan peluang lain masing-masing, dan lagi syarat dan kondisi PJBB tidak akan berlaku kembali (lihat Catatan 41d).

Pada tanggal 1 Januari 2007, KPC, Arutmin, Enercorp Ltd (Pembeli) dan ICR (Penjual), membuat Perjanjian Jual Beli Batubara, dimana Penjual telah menyetujui menjual dan mengirimkan dan Pembeli menyetujui membeli dan menerima kiriman batubara sesuai dengan persyaratan yang disetujui dan KPC dan Arutmin setuju untuk menjamin kewajiban Penjual ke Pembeli. Kecuali perjanjian diakhiri secara lebih awal, Perjanjian akan berlaku sampai dengan 31 Desember 2016. Persyaratan terdiri dari:

1. “Persyarat Pertama” akan berlaku sejak tanggal 1 Januari 2007 dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 atau sampai kewajiban kedua belah pihak telah dipenuhi dan disetujui bersama, mana yang lebih dahulu.
2. “Perpanjangan waktu” berlaku sejak persyaratan awal berakhir sampai dengan selesainya batas waktu. Persyaratan dari perpanjangan waktu ini akan dibahas kemudian atas persetujuan bersama.

Setelah penundaan rencana divestasi pada tanggal 25 Agustus 2006, Perusahaan mempunyai rencana baru untuk melepas 30% kepemilikan saham KPC, Arutmin, dan IndoCoal Resources (Perusahaan Batubara). Berdasarkan surat Perusahaan kepada PT Bursa Efek Jakarta pada tanggal 21 Maret 2007, Perusahaan telah mengundang beberapa perusahaan untuk mengikuti proses tender dari enam (6) Perusahaan telah menyelesaikan proses uji tuntas mereka pada tanggal 28 Pebruai 2007. Keputusan tentang siapa yang akan menjadi pemilik saham baru atas 30% saham Perusahaan Batubara akan diumumkan pada tanggal 30 Maret 2007.


2007fr
Kepemilikan Langsung

PT IndoCoal Kaltim Resources (IKTR) Jakarta, Indonesia
Entitas Bertujuan Khusus

2005
Ownership: 99,99%
Assets: $5091

2006
Ownership: 99,99%
Assets: $8217

2007
Ownership: 70%
Assets: $575

PT IndoCoal Kalsel Resources (IKSR) Jakarta, Indonesia
Entitas Bertujuan Khusus

2005
Ownership: 99,99%
Assets: $5091

2006
Ownership: 99,99%
Assets: $8222

Kepemilikan tidak langsung

Melalui Forerunner

IndoCoal Resources (Cayman) Limited (ICR) Cayman, UK
Distributor Batubara

2005
Ownership: 100,00%
Assets: $460.025.400

2006
Ownership: 100,00%
Assets: $889.483.441

2007
Ownership: 70,00%
Assets: $405.945.684


Divestasi 30% Saham Anak perusahaan (Perusahaan batubara)

Berdasarkan Perjanjian Jual Beli (PJB) tanggal 30 Maret 2007, Perusahaan dan Anak-anak perusahaan, SHL, KCL dan Forerunner, menjual 30% kepemilikan saham di KPC, Arutmin, ICRL, Indo Kaltim dan Indo Kalsel kepada Tata Power Company Ltd (Tata Power). Harga penjualan tersebut secara keseluruhan adalah sebesar AS$ 1,1 miliar ditambah atau dikurangi dengan hak pembeli atas penyesuaian saldo modal kerja, yang akan ditentukan pada saat transaksi pembayaran (lihat Catatan 39g).

Calipso Investment Pte. Ltd

Pada tanggal 10 Oktober 2007, Perusahaan melalui IndoCoal Resources (Cayman) Ltd. mengakuisisi 1 lembar saham dari Calipso Investment Pte. Ltd. suatu perusahaan yang berdomisili di Singapura, dengan nilai nominal sebesar S$ 1 (atau setara dengan AS$ 0,68), Calipso adalah anak perusahaan yang seluruhnya dimiliki oleh IndoCoal Resources (Cayman) Ltd.

Piutang Tata Power (Cyprus) Ltd. (Tata) merupakan saldo pinjaman ($45.611.595) yang diberikan oleh Indocoal Resources (Cayman) Ltd. (ICRL) sehubungan dengan fasilitas pinjaman yang ditanda tangani pada tanggal 26 Juni 2007. Piutang ini tidak dikenai bunga dan akan dilunasi dari deviden yang akan dibayarkan oleh ICRL kepada Tata.

IndoCoal Export (Cayman) Ltd.

Saldo pinjaman jangka panjang pada tanggal 31 Desember
2007, $0
2006, $647.909.571

Pada tanggal 6 Juli 2005, KPC, and Arutmin (Pihak Penjual), IndoCoal Resources (Originator), IndoCoal Exports (Cayman) Limited (Penerbit), PT IndoCoal Kalsel Resources (Indo Kalsel) dan PT IndoCoal Kaltim Resources (Indo Kaltim dan bersama-sama dengan Indo Kalsel, “Indo SPVs”), Bank of New York (Trustee), dan Foo Kon Tan Grant Thornton (Administrator) menandatangani fasilitas Indenture dan Series 2005-1 Indenture Supplement, dimana Penerbit menerbitkan dan menjual Surat Hutang Seri 2005-1 dengan jumlah pokok keseluruhan sebesar AS$ 600 juta. Pinjaman ini dikenai bunga sebesar 7,134% per tahun dan akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012. Penerbit menggunakan hasil dari penjualan Surat Hutang Seri 2005-1 ini untuk membeli piutang milik Originator dengan uang muka sebesar AS$ 600 juta berdasarkan Issuer Receivables Sale Agreement antara Penerbit dengan Originator. Originator menggunakan dana sebesar AS$ 600 juta dari uang muka tersebut untuk memberikan uang muka kepada Pihak Penjual (Uang Muka) untuk pembelian piutang yang ada sekarang dan dimasa yang akan datang berdasarkan Originator Receivables Sale Agreement antara Originator dan Pihak Penjual dan untuk pengiriman batubara di masa yang akan datang oleh Pihak Penjual berdasarkan Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang (Long-term Supply Agreements) yang disepakati Pihak Penjual dan Originator (lihat Catatan 39c dan 39d).

Pada tanggal 28 April 2006, Pihak Penjual, Originator, Indo SPVs, Penerbit dan Trustee menandatangani Series 2006-1 Indenture Supplement dimana Penerbit menerbitkan Surat Hutang Seri 2006-1 dengan jumlah total sebesar AS$ 800 juta. Hasil dari Surat Hutang Seri 2006-1 ini digunakan untuk melunasi Surat Hutang Seri 2005-1 dan pinjaman yang diberikan oleh Credit Suisse kepada Perusahaan. Surat Hutang Seri 2006-1 jatuh tempo pada 28 Juli 2006, tapi kemudian diperpanjang hingga 28 September 2006.

Pada tanggal 3 Oktober 2006, Pihak Penjual, Originator, Penerbit, Indo SPV, Trustee, dan Administrator, menandatangani Perjanjian Tambahan Surat Hutang Seri 2006-2 (Indenture Supplement), dimana Penerbit menerbitkan Surat Hutang dengan tingkat bunga yang mengambang Seri 2006-2 Kelas A-1 sebesar AS$ 600 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2011; serta Surat Hutang dengan tingkat bunga mengambang Seri 2006-2 Kelas A2 sebesar AS$ 300 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2012. Hasil Surat Hutang Seri 2006-2 digunakan untuk melunasi Surat Hutang Seri 2006-1.

Pada tanggal 26 Juni 2007, Perusahaan melunasi Surat Hutang Seri 2006-2 sesuai dengan IndoCoal Securitization Programme (lihat Catatan 39g).


Surat Hutang Seri 2005-1

Pada tanggal 6 Juli 2005, KPC dan Arutmin (Pihak Penjual) dan IndoCoal Resource (Cayman) Limited, Anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Perusahaan (Originator), melakukan transaksi dengan IndoCoal Exports (Cayman) Limited, sebuah Perusahaan yang didirikan dibawah Undang-undang Cayman Islands (Penerbit), dimana
(i) Pihak Penjual menjual seluruh piutang penjualan batubaranya yang ada sekarang dan yang akan diproduksi dimasa yang akan datang kepada Originator dan menjual seluruh produksi batubaranya dimasa yang akan datang kepada Originator sebanyak yang dibutuhkan oleh Originator,
(ii) Originator setuju untuk menjual semua piutang penjualan yang ada sekarang dan yang akan datang, baik yang dihasilkannya sendiri maupun yang diperoleh dari Pihak Penjual kepada Penerbit, dan
(iii) Penerbit menerbitkan Surat Hutang Seri 2005-1 yang bernilai AS$ 600 juta dengan bunga 7,134% berdasarkan fasilitas Indenture and Series 2005-1 Indenture Supplement dan menggunakan dana yang dihasilkannya untuk membeli piutang-piutang tersebut dari Originator (Transaksi Sekuritisasi). Transaksi Sekuritisasi dan dokumen yang terkait dengan transaksi tersebut (Dokumen Transaksi Sekuritisasi) dijelaskan lebih rinci dibawah ini.

Pada tanggal 6 juli 2005, Pihak Penjual, Indo SPVs, Penjamin, dan Administrator Transaksi mengadakan Perjanjian Surat Hutang Seri 2005-1 dimana Penerbit mengeluarkan dan menjual Surat Hutang Seri 2005-1 dengan total pokok sebesar AS$ 600 juta dengan tingkat bunga sebesar 7,134% per tahun dan akan jatuh tempo pada tanggal 6 Juli 2012. Penerbit menggunakan dana yang dihasilkan dari penjualan Surat Hutang 2005-1 tersebut untuk membeli piutang-piutang tersebut dari Originator dengan membayar uang muka sebesar AS$ 600 juta kepada Originator sesuai dengan Issuer Receivables Sale Agreement antara Penerbit dan Originator. Originator menggunakan AS$ 173,3 juta dari Originator Prepayment Amount yang diterima dari Penerbit untuk membayar uang muka kepada Pihak Penjual (Prepayment Amount) atas pembelian piutang yang ada sekarang dan yang akan datang milik Penjual sesuai dengan Originator Receivables Sale Agreement antara Penerbit dan Pihak Penjual dan pembelian batu bara dimasa yang akan datang sehubungan dengan Long-term Supply Agreeement antara Pihak Penjual dan Originator.

Pihak Penjual diharuskan membayar kepada Originator biaya bunga atas Prepayment Amount yang jumlahnya sama dengan biaya bunga yang dibayar Penerbit kepada pemegang Surat Hutang Seri 2005-1 sehubungan dengan Tambahan Perjanjian Surat Hutang Seri 2005-1 pada setiap tanggal pembayaran bulanan.

Pihak Penjual menggunakan dana hasil Prepayment Amount untuk hal-hal sebagai berikut:
a. Sebesar AS$ 438,7 juta untuk membayar kembali pinjaman sehubungan Fasilitas KPC 2004, Pinjaman Mandiri Arutmin 2001, Arutmin 2004 Pinjaman Mandiri dan Perjanjian Fasilitas Arutmin 2004;
b. AS$ 69,5 juta untuk pembayaran uang muka kepada Perusahaan;
c. AS$ 36,6 juta untuk reserve dalam rangka Perjanjian Tambahan Surat Hutang Seri 2005-1 Suplemen Perjanjian; dan
d. Jumlah yang tersisa untuk membayar tunggakan pasti yang berkaitan dengan Transaksi Sekuritas dan untuk modal kerja Pihak Penjual.

Pada tanggal 28 April 2006, bagian dari pinjaman Surat Hutang Seri 2006-1 digunakan untuk membayar pelunasan Surat Hutang 2005-1 dan biaya yang berkaitan dengan pelunasan tersebut (lihat Catatan 22e).

Suhubungan dengan penerbitan surat hutang Seri 2005-1, Pihak Penjual, Originator dan Bank of NewYork, masing-masing dalam kapasitas sebagai Indenture Trustee dan Security Trustee menandatangani perjanjian sebagai berikut:

1. Perjanjian Penjualan Piutang Milik Penerbit (Issuer Receivables Sale Agreement/IRSA)

Penerbit dan Originator menandatangani IRSA dimana Penerbit akan membeli aktiva dalam bentuk piutang usaha milik Originator yang diperoleh Originator dari Pihak Penjual. Sesuai dengan perjanjian ini, Penerbit akan memberikan sebesar AS$ 600 juta kepada Originator sebagai uang muka pembelian tersebut (selanjutnya disebut Uang Muka Originator). Originator akan menggunakan uang muka tersebut untuk memberikan uang muka kepada Pihak Penjual sehubungan dengan Perjanjian Penjualan Piutang Milik Originator (Originator Receivable Sale Agreement) dan Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang (Long Term supply Agreement).

2. Perjanjian Penjualan Piutang Milik (Originator Receivable Sale Agreements/ORSA)

Pihak Penjual dan Originator menandatangani ORSA dimana Originator akan membeli dari Pihak Penjual, piutang yang ada dan yang akan timbul dimasa yang akan datang, serta yang akan dihasilkan dari penjualan batubara oleh pihak Penjual.

Perjanjian ini melarang Pihak Penjual untuk mengubah atau memodifikasi persyaratanpersyaratan kontrak yang berkaitan dengan aset piutang, kecuali diperbolehkan oleh kebijakan kredit dan piutang Pihak Penjual, melakukan penawaran untuk menjual piutang yang dapat ditransfer atau kekayaan yang berkaitan atau kepentingan yang terkait kepada pihak lain, menciptakan atau melakukan tindakan penerimaan piutang, melakukan merger dengan atau bergabung ke pihak manapun, mengambil segala tindakan yang akan mengurangi hak dan kepentingan para Pihak, membuka rekening untuk menampung hasil penerimaan piutang selain rekening penerimaan, membayar atau mengumumkan pembayaran yang dibatasi lebih dari sekali dalam setiap tiga bulan, merubah kebijakan pemberian pinjaman dan metode penagihannya, menjalankan usaha apapun selain penjualan hasil tambang, dan selama Surat Hutang Seri 2005-1 masih berlaku, menciptakan, melakukan tindakan atau segala hal yang menyebabkan kerugian selain yang dinyatakan dalam Perjanjian ini.

3. Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang (Long Term Supply Agreement/LTSA)

Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang tanggal 6 Juli 2006, antara lain, menyatakan bahwa, Pihak Penjual akan menjual batubara kepada Originator dengan harga AS$ 34,30 per ton berdasarkan nilai kalori sebesar 6.322 kcal/kg (sesudah di sesuaikan dengan perbedaan nilai kalori milik Originator yang dibeli dari KPC/Arutmin sesuai dengan perjanjian) (fixed forward price).

Perjanjian ini juga menyatakan bahwa Originator akan membayar uang muka kepada Pihak Penjual sebesar AS$ 600 juta pada tanggal penutupan.

Uang muka yang diterima akan berkurang setiap bulan dengan jumlah nilai pembelian piutang secara keseluruhan (sebagaimana didefinisikan dalam Dokumen Transaksi Sekuritisasi), yang terhutang oleh Originator untuk aktiva piutang yang dibeli berdasarkan ORSA dan akan bertambah dengan pembayaran yang dilakukan oleh Originator kepada Pihak Penjual sesuai dengan LTSA dan ORSA dengan cara yang disediakan dari cash waterfall yang ditetapkan dalam Indenture dan interest amounts payable oleh Pihak Penjual kepada Originator pada tanggal pembayaran bulanan yang berkaitan.

Pihak Penjual diharuskan untuk membayar kepada Originator bunga atas uang muka yang diterima dalam rangka ORSA secara bulanan yang jumlahnya sama dengan bunga yang akan dibayar Penerbit kepada pemegang Surat Hutang Seri 2005-1 berdasarkan Indenture dan Indenture Supplement atas Surat Hutang Seri 2005-1 pada tanggal pembayaran bulanan.

Selama masa berlakunya perjanjian ini, kewajiban Pihak Penjual bersifat mutlak, tidak bersyarat dan tidak dapat dikurangi, dirubah atau dipengaruhi dalam bentuk apapun juga oleh ketidakmampuan baik Pihak Penjual maupun Originator untuk melaksanakan persyaratan dan kondisi dari transaksi antar kedua pihak, percepatan hutang, atau pengenaan sanksi sebagaimana tercantum dalam dokumen transaksi yang bersangkutan.

4. Perjanjian Manajemen Kas dan Rekening (Cash and Accounts Management Agreement/CAMA)

Pada tanggal 6 Juli 2005, Penerbit, Originator dan Pihak Penjual, Administrator Transaksi, Indo SPVs, Penjamin, dan Standard Chartered Bank menandatangani CAMA dimana para pihak setuju untuk melakukan serangkaian pembayaran, termasuk pembayaran tertentu yang berhubungan dengan Kontraktor Produksi Utama dan Agen Pemasaran Utama. Pembayaran kepada kontraktor produksi harus berdasarkan rincian faktur pembayaran dan prioritas pembayaran berdasarkan pembatasan yang tertera dalam kontrak.

5. Akte Pengalihan Kontrak Karya (PKP2B)

Sehubungan dengan perjanjian LTSA di atas, KPC dan Arutmin masing-masing menandatangani perjanjian untuk mengalihkan PKP2B kepada Indo Kaltim dan Indo Kalsel. Perjanjian ini berlaku efektif secara otomatis jika dan sejak saat pailitnya KPC, Arutmin atau Perusahaan. Jika kepailitan tersebut terjadi atau jika KPC, Arutmin dan Perusahaan menyatakan tidak dapat memenuhi kewajibannya (seperti dijelaskan dalam Securitization Transaction Documents) sehubungan dengan Surat Hutang Seri 2005-1, maka Indo Kaltim dan Indo Kalsel diberi kuasa untuk melanjutkan pemasokan batubara ke Originator untuk selanjutnya di jual ke Pelanggan. Perjanjian dengan kontraktor oleh pihak Penjual dan agen pemasaran dialihkan ke Security Trustee untuk memberikan ijin kepada Indo Kalsel dan Indo Kaltim pada saat pengalihan PKP2B diselesaikan.

Berdasarkan perjanjian, Arutmin/KPC diwajibkan untuk:
a. Memelihara, memperbaharui dan menjaga keberadaannya secara hukum dan hak, waralaba, perijinan, konsesi dari pihak ketiga dan hak khusus lainnya sesuai dengan hukum yang berlaku;
b. Menjaga kontrak kerja dan semua kontrak lainnya dengan agen pemasaran dan kontraktor produksi dengan persyaratan yang secara substansi sama pada tanggal penutupan;
c. Menyelenggarakan pembukuan, akun, dan catatan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang berlaku (seperti dijelaskan dalam Securitization Transaction Documents); dan
d. Memelihara semua aset yang material dan perijinan yang diperlukan untuk melakukan usaha.

Sehubungan dengan perjanjian pengalihan PKP2B dari Pihak Penjual ke Indo Kaltim dan Indo Kalsel, Indo Kaltim dan Indo Kalsel menandatangani Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang Bersyarat dengan Originator dimana Indo Kaltim dan Indo Kalsel menyetujui untuk memasok batu bara kepada Originator dengan harga yang disepakati dalam perjanjian.

Dengan diterbitkannya Surat Hutang Seri 2006-1 dan Seri 2006-2, Penerbit, Originator dan Bank of New York (Indenture Trustee dan Security Trustee) telah melakukan perubahan perjanjian dengan menerbitkan “Perjanjian Perubahan dan Penyajian Kembali” sesuai dengan perjanjian Surat Hutang Seri 2006-1 dan “Perubahan Pertama atas Perjanjian Perubahan dan Penyajian Kembali” sesuai dengan Perjanjian Surat Hutang Seri 2006-2 Notes.

Selanjutnya, pada tanggal 26 Juni 2007, tanggal penyelesaian aktual atas divestasi 30% saham perusahaan-perusahaan Batubara, para pihak dalam Transaksi Sekuritas Piutang Batubara membatalkan Dokumen Transaksi Sekuritas Indocoal. Perusahaan, Tata Power, Bank of New York (BONY) dan Bank Standard Chartered cabang Singapura menandatangani Cash Distribution Agreement (CDA) untuk menggantikan Perjanjian Manajemen Kas dan Rekening CAMA yang telah berakhir, salah satunya adalah Dokumen Transaksi Sekuritas Indocoal, dan mengimplementasikan perjanjian manajemen kas dan administrasi akun yang berhubungan dengan pendapatan KPC, Arutmin dan ICRL. Perjanjian manajemen kas dalam CDA sama dengan perjanjian manajemen kas dalam CAMA sebelumnya, kecuali syarat syarat dalam CAMA sebelumnya yang berhubungan dengan program sekuritas Indocoal. Selanjutnya pihak tersebut menyetujui merevisi dan penyajian kembali Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang LTSA KPC dan Arutmin sesuai dengan CDA baru.

6. Perubahan dan Perbaikan Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang KPC dan Arutmin.

Pada tanggal 26 Juni 2007, KPC dan ICRL; Arutmin dan ICRL menandatangani Perjanjian Pengadaan Jangka Panjang LTSA, karena KPC dan Arutmin memproduksi dan menjual produk (memproduksi batubara atau yang akan diproduksi) ke ICRL, dari wilayah kerja sebagaimana didefinisikan dalam kontrak karya, dan ICRL membutuhkan untuk produk dari dan mulai pada tanggal efektif perjanjian sampai tanggal berakhirnya perjanjian.

ICRL harus menjamin bahwa agen pemasaran harus mempertimbangkan produk yang diproduksi oleh KPC dan Arutmin ( termasuk, tanpa pembatasan, menyangkut kuantitas, jenis, kualitas dan biaya) dan merundingkan dengan KPC dan Arutmin, ketika menandatangani kontrak dengan konsumen dan/atau harus menjamin bahwa agen pemasaran menyimpan laporan KPC dan Arutmin mengenai detail setiap kontrak dan pembaharuan mengenai perbedaan dan penghentian.

7. Perjanjian Distribusi Kas

Pada tanggal 27 Juni 2007, Perusahaan, Tata Power, dan Perusahaan Batubara, Bank of New York, Bank Standard Chartered dan Kontraktor dan Agen Marketing menyetujui perjanjian ini, karena:
(a) Pihak pihak tersebut setuju mengimplementasikan perjanjian manajemen kas dan administrasi akun yang berhubungan dengan pendapatan dan pembayaran KPC dan Arutmin ke berbagai pihak sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam perjanjian ini.
(b) KPC dan Arutmin setuju untuk mengimplementasikan perjanjian pembayaran yang berhubungan dengan jumlah terhutang oleh KPC dan Arutmin masing masing sesuai dengan jangka waktu dalam Perjanjian Kontraktor Pokok dan Perjanjian Pemasaran yang ditetapkan dalam perjanjian ini.

Sesuai dengan perubahan dan perbaikan perjanjian, tidak ada perubahan dan perbaikan yang efektif dengan perjanjian tersebut kecuali setiap pihak menyetujui perubahan dan perbaikan tersebut.


Surat Hutang Seri 2006-2

Pada tanggal 3 Oktober 2006, KPC dan Arutmin (Pihak Penjual), Indocoal Resources (Cayman) Limited (Originator), IndoCoal Exports (Cayman) Limited (Penerbit), PT Indocoal Kalsel Resources (Indo Kalsel) dan PT Indocoal Kaltim Resources (Indo Kaltim dan, bersama dengan Indo Kalsel, Indo SPVs), Bank New York (Penjamin), dan Foo Kon Tan Grant Thornton (Administrator Transaksi), menandatangani Perjanjian Tambahan (Indenture Supplement), atas Surat Hutang Seri 2006-2, dimana dengan perjanjian ini Penerbit akan mengeluarkan:
(i) Surat Hutang Seri 2006-2 Kelas A-1 dengan tingkat bunga mengambang dan akan jatuh tempo pada 2011 sebesar AS$ 600 juta.
(ii) Surat Hutang Seri 2006-2 kelas A-2 dengan tingkat bunga mengambang dan akan jatuh tempo pada 2012 sebesar AS$ 300 juta.

Dana hasil Surat Hutang Seri 2006-2 digunakan untuk:
(a) Pelunasan Surat Hutang Seri 2006-1 sebesar AS$ 800 juta;
(b) Pendanaan sebagian dari cadangan Surat Hutang Seri 2006, sebesar AS$ 25,5 juta;
(c) Modal kerja untuk KPC dan Arutmin sebesar AS$ 30 juta; dan
(d) Pembayaran fee dan biaya yang terjadi sehubungan dengan pinjaman.

Saldo Surat Hutang seri 2006-2 dibebani bunga tahunan yang setara dengan LIBOR plus margin tertentu. Bunga yang masih harus dibayar pada Surat Hutang Seri 2006-2 di setiap periode bunga akan dibayar pada tanggal jatuh tempo bulanan (Monthly Payment Date), tanggal jatuh tempo yang dipercepat (Early Amortization Payment Date) atau tanggal pelunasan akhir (Expected Final Payment Date). Tanggal pembayaran bulanan adalah hari ke 28 setiap bulan, dimana pembayaran pertama jatuh pada tanggal 28 Oktober 2006.

Persyaratan atas Pengikatan, perwakilan dan penjaminan, yang akan disepakati yang berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2006-2 (Seri 2006-2 Supplemen Perjanjian) sama dengan Persyaratan Dokumen Transaksi Sekuritisasi, termasuk percepatan pelunasan (early amortization events) dan peristiwa-peristiwa pemicu (trigger events), sepanjang perubahan tersebut disetujui oleh semua pihak, antara Perusahaan, Pihak Penjual, Indo SPVs, Originator dan Pelaksana.

Jaminan yang diberikan berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2006-2 sama dengan jaminan yang diberikan berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2005-1 dan Seri 2006-1. Perusahaan memberikan jaminan berupa 99.99% saham Arutmin dan 99.98% saham Indo SPVs, Forrerunner memberikan jaminan berupa 100% dari saham Originator. Berkaitan dengan Surat Hutang Seri 2006-2, pemegang saham KPC memberikan jaminan berupa 92% saham KPC.

Pada tanggal 26 Juni 2007, Perusahaan melunasi Seri 2006-2 di bawah Program Sekuritas IndoCoal (lihat Catatan 39g).


Surat Hutang Seri 2006-1

Pada tanggal 28 April 2006, KPC dan Arutmin (Pihak Penjual), IndoCoal Resources (Cayman) Limited (Originator), IndoCoal Export (Cayman) Limited (Penerbit), Indo Kalsel dan Indo Kaltim (Indo SPVs), dan Bank of New York (Indenture Trustee) menandatangani Perjanjian Tambahan Surat Hutang Seri 2006-1, dimana penerbit mengeluarkan Surat Hutang Seri 2006-1 dengan jumlah total AS$ 800 juta. Dana dari Surat hutang Seri 2006-1 ini digunakan untuk melunasi Surat Hutang Seri 2005-1 dan dana talangan yang diperoleh Perusahaan dari Credit Suisse. Surat hutang Seri 2006-1 akan jatuh tempo pada tanggal 28 Juli 2006 (Expected Final Payment Date) dan dibebani tingkat bunga 7% per tahun yang terhutang pada tanggal tertentu setiap bulan.

Pada tanggal 28 Juli 2006, sehubungan dengan Surat Hutang Seri 2006-1 tanggal 28 April 2006, semua pihak menyetujui perubahan ketentuan dalam Surat Hutang Tambahan Seri 2006-1. Perubahan yang signifikan adalah sebagai berikut:

1. Pembayaran akhir diharapkan diperpanjang dari tanggal 28 Juli 2006 menjadi tanggal 28 September 2006.
2. Tingkat bunga diubah dari 7.0% per tahun menjadi 7.0% per tahun untuk periode sebelum tanggal 28 Juli 2006, dan sesudahnya menggunakan tingkat bunga 7.5% per tahun.
3. Tambahan fee atas perpanjangan (extention fee) adalah sebesar AS$ 2 juta.

Pada tanggal 3 Oktober 2006, bagian dari pinjaman Surat Hutang Seri 2006-2 digunakan untuk membayar pelunasan Surat Hutang 2006-1 dan biaya yang berkaitan dengan pelunasan tersebut (lihat Catatan 22e).


Perjanjian fasilitas kredit

Pada tanggal 30 Maret 2007, Perusahaan (Peminjam), Lembaga Keuangan (Pemilik Dana) dan Credit Suisse, cabang Singapore (Arranger, Facility agent and Security agent) menandatangani perjanjian kredit, dimana Pemilik Dana menyediakan fasilitas kredit kepada Peminjam dengan jumlah yang disetujui sebesar AS$ 110 juta.

Tingkat bunga pinjaman pada setiap periode adalah tingkat presentase per tahun yang sama dengan margin dan LIBOR. Kecuali terdapat hal-hal yang bertentangan dengan yang tercantum dalam Perjanjian, Perusahaan harus membayar hutang bunga atas pinjaman pada setiap akhir periode.

Setiap jangka waktu pinjman memiliki periode yang berurutan, dimana setiap periode pinjaman akan berlaku selama tiga bulan atau lebih pendek seperti yang disetujui oleh Perusahaan dan pemberi pinjaman utama.

Pada tanggal 26 Juni 2007, yaitu tanggal penyelesaian aktual atas divestasi 30% saham perusahaan-perusahaan batubara, Perusahaan dan Credit Suisse merubah persyaratan dan kondisi perjanjian, dimana, pada tanggal 12 Juli 2007, tangal jatuh tempo dirubah dari 2 Mei 2007 menjadi 12 Juli 2008 dengan tingkat bunga 4% per tahun.


Divestasi 30% saham Anak perusahaan (Perusahaan Batu bara)

Berdasarkan Perjanjian Jual Beli (PJB) tanggal 30 Maret 2007, Perusahaan dan anak-anak perusahaan, SHL, KCL dan Forerunner, menjual 30% kepemilikan saham di KPC, Arutmin, ICRL, Indo Kaltim dan Indo Kalsel kepada Tata Power Company Ltd (Tata Power). Harga penjualan tersebut secara keseluruhan adalah sebesar AS$ 1,1 miliar ditambah atau dikurangi dengan hak pembeli atas penyesuaian modal kerja, yang akan ditentukan pada saat transaksi pembayaran.

Seperti tercantum dalam PJB, kedua Pihak, antara lain, menyepakati kondisi-kondisi sebagai berikut:

1. Persyaratan dan kondisi pelaksanaan perjanjian telah disepakati oleh Pemegang saham Perusahaan, SHL, KCL, Forerunner, Amara, PT Sitrade Coal, KPC, Arutmin, ICRL, Indo Kaltim, dan Indo Kalsel.
2. Transaksi tersebut bukan merupakan penyimpangan dari PKP2B KPC dan Arutmin dengan Pemerintah Indonesia.
3. Transaksi tersebut telah disetujui oleh Menteri Sumber daya Energi dan Mineral dan Badan Kordinasi Penanaman Modal berdasarkan PKP2B Arutmin dan KPC serta disetujui oleh Institusi Pemerintah yang diwajibkan oleh Hukum.

Disamping kondisi diatas kedua pihak juga menyepakati hal-hal sebagai berikut:
(a) Seluruh Surat Hutang (Seri 2006-2 Notes) yang dikeluarkan berdasarkan IndoCoal Notes Program harus dilunasi;
(b) Seluruh sekuritas yang dijamin sesuai dengan Security Trustee dari IndoCoal Notes Program harus diselesaikan dan diberhentikan secara penuh;
(c) Setiap Perjanjian Penyediaan Jangka Panjang harus dirubah untuk menyediakan kelanjutan terhadap penebusan Surat Hutang berdasarkan IndoCoal Notes Program dan dalam hal untuk menghapus beberapa acuan atas IndoCoal Notes Program; dan
(d) Selain kewajiban lancar dan sewa guna usaha, bid bonds dan performance guarantees, tidak ada kewajiban keuangan yang dipinjam oleh Perusahaan Batubara kepada orang lain.
(e) Seluruh pinjaman dan bunga oleh Perusahaan batubara kepada perusahaan yang terkait (termasuk penjual); dan
(f) Seluruh pinjaman dan bunga oleh perusahaan terkait dengan perusahaan batubara (termasuk penjual) kepada perusahaan batubara, harus dibayar kembali secara penuh.

Penerimaan dari hasil divestasi 30% perusahaan perusahaan batubara digunakan untuk pembayaran hutang antar perusahaan dan penyelesaian Surat Hutang Series 2006-2 (lihat Catatan 39d).


Perjanjian Operasi

1. Pada tanggal 19 Oktober 2000, Arutmin menandatangani perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) untuk pengoperasian dan perawatan tambang Satui dan Senakin. Dalam perjanjian disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan aktiva tetap, perlengkapan, peralatan fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain dari barang yang akan disediakan oleh Arutmin, yang disebutkan dalam perjanjian), serta tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, Arutmin akan membayar kepada Thiess biaya dan pelayanan yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian operasi diperbaharui untuk melibatkan Indo Kalsel dalam perjanjian tersebut. Dalam perjanjian operasi disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan jasa penambangan kepada Indo Kalsel jika pada suatu saat PKP2B dialihkan kepada Indo Kalsel. Sesuai dengan perjanjian operasi yang diperbaharui, Arutmin diijinkan untuk mengalihkan haknya atas perjanjian operasi kepada Bank of New York, sebagai security trustee under the indenture dan memodifikasi syarat pembayaran dan penghentian perjanjian.

2. Pada tanggal 1 Nopember 2002, Arutmin menandatangani Perjanjian kontrak jasa penambangan dengan PT Cipta Kridatama Mining (CKM) untuk membuka lokasi penambangan di konsesi Ata-Mereh, Batulicin Kalimantan Selatan. Sesuai dengan kontrak No. BTL/02/RC02-D disebutkan bahwa pihak CKM akan menangani seluruh aktivitas penambangan, yang meliputi aktivitas penyediaan tenaga kerja, peralatan, supervisi, penambangan, transportasi, pengolahan dan pengapalan batubara. CKM juga akan mendesain, membangun dan mengoperasikan fasilitas pabrik pengolahan batubara baik dilokasi Ata maupun di Mereh, serta jalan akses masuk ke tambang dan jalur pengangkutan batubara dari lokasi tambang ke pelabuhan.

Perjanjian ini berlaku untuk periode lima (5) tahun sejak tanggal 1 Nopember 2002.

Pada tanggal 1 Juli 2006, Arutmin dan CKM memperbaharui Kontrak dengan No. BTL/05/C06, yang akan memperpanjang masa tambang di Batulicin (ATA dan Mangkalapi) sesuai dengan jangka waktu dan kondisi yang tercantum dalam kontrak.

3. Pada tanggal 8 Nopember 2002, Arutmin menandatangani perjanjian penambangan bawah tanah dengan Tunnel Mining Australia Pty. Ltd. Di areal konsesi pertambangan Satui, Kalimantan Selatan. Sebagaimana tercantum dalam kontrak No. STI/02/C10 Rev 1, kontraktor bertanggung jawab untuk menyediakan bangunan kantor, fasilitas penambangan bawah tanah, sarana jalan dan jaringan komunikasi yang terkait dengan pekerjaan penambangan bawah tanah.

Pada tanggal 19 Nopember 2007, Arutmin menyampaikan surat pembertahuan kepada Direktur Jendral Penambangan Umum dan Sumber Daya Mineral (sekarang Direktur Jenderal Geologi, Batubara dan Panas Bumi) mengenai dihentikannya kegiatan penambangan bawah tanah diatas. Pada akhir Desember 2007, Arutmin mengadakan perjanjian kerja sama dengan PT Wahana Baratama Mining (“WBM”) untuk penambangan batubara didaerah perbatasan daerah penambangan Satui.

Pada tanggal 31 Desember 2007 dan 2006, total pembayaran kepada Tunnel Mining Australia Pty.Ltd. masing-masing sebesar AS$ 53.356 and AS$ 103.341.

4. Pada tanggal 10 Oktober 2003, KPC menandatangani perpanjangan perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Thiess Contractors Indonesia (Thiess) untuk operasi dan perawatan tambang Melawan dan Sangatta. Dalam perjanjian disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan aktiva tetap, peralatan, fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain dari barang-barang yang akan disediakan oleh KPC seperti yang disebutkan dalam perjanjian), tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, KPC akan membayar kepada Thiess biaya dan pelayanan yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian operasi jasa penambangan diperbaharui untuk melibatkan Indo Kaltim dalam perjanjian operasi tersebut. Dalam perjanjian disebutkan bahwa Thiess akan menyediakan jasa penambangan untuk Indo Kaltim jika pada satu saat PKP2B KPC dialihkan ke Indo Kaltim. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui, KPC diijinkan untuk mengalihkan haknya atas perjanjian operasi kepada Bank of New York, sebagai Security trustee under the indenture, dan memodifikasi syarat pembayaran dan penghentian perjanjian.

5. Pada tanggal 8 April 2004, KPC menandatangani perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) untuk pengoperasian dan perawatan tambang KPC. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa PAMA akan menyediakan aktiva tetap, peralatan, fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain barang yang akan disediakan oleh KPC, yang disebutkan dalam Perjanjian), serta tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, KPC akan membayar kepada PAMA suatu biaya dan pelayanan yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian. Perjanjian ini berlaku untuk periode sebelas (11) tahun sejak tanggal 1 Juli 2004 (lihat Catatan 39r2).

6. Pada tanggal 27 Mei 2004, KPC menandatangani perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Darma Henwa Tbk. (DH) dimana DH setuju untuk menyediakan jasa penambangan untuk KPC. Dalam perjanjian disebutkan bahwa DH akan menyediakan aktiva tetap, peralatan, fasilitas, pelayanan, material, persediaan suku cadang dan bahan pembantu (selain barang yang akan disediakan sendiri oleh KPC, yang disebutkan dalam perjanjian), serta tenaga kerja dan manajemen yang dibutuhkan. Sebagai kompensasi, KPC akan membayar kepada DH suatu biaya yang jumlahnya akan dihitung sesuai dengan tarif dan formula seperti yang disebutkan dalam perjanjian. Perjanjian ini berlaku selama sepuluh (10) tahun sejak tanggal ditandatanganinya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian operasi jasa penambangan dengan DH diperbaharui untuk melibatkan Indo Kaltim dalam perjanjian operasi tersebut. Dalam perjanjian disebutkan bahwa DH akan menyediakan jasa penambangan untuk Indo Kaltim jika pada satu saat kontrak batubara KPC dialihkan ke Indo Kaltim. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui, KPC diijinkan untuk mengalihkan haknya atas perjanjian operasi kepada Bank of New York, sebagai Security trustee under the indenture, dan memodifikasi syarat pembayaran dan penghentian perjanjian.

7. Pada tanggal 1 Maret 2006 Arutmin menandatangi perjanjian operasi jasa penambangan dengan PT Bokormas Wahana Makmur (Bokor) untuk melakukan penambangan secara ekonomis dari cadangan batubara yang ada serta memaksimalkan usia operasi tambang serta sekaligus secara aktif bekerjasama dengan Arutmin dalam menghentikan aktivitas penambangan tanpa izin di Batulicin. Dalam perjanjian ini, Bokor menyediakan tenaga kerja, dana, material, peralatan, transportasi dan akomodasi, penyeliaan, serta administrasi untuk melaksanakan pekerjaan menurut perjanjian ini sesuai dengan lingkup kerja, spesifikasi, peta, gambar (bila ada) dan segala persyaratan dari perjanjian ini.

Perjanjian ini berlaku mulai tanggal 1 Maret 2006 dan berakhir tanggal 1 Maret 2008.

8. Pada bulan Desember 2007, Arutmin dan PT Wahana Baratama Mining (“WBM”), mengadakan perjanjian kerja sama penambangan batubara didaerah perbatasan daerah penambangan Satui untuk memaksimalkan ekploitasi yang terdapat di area tersebut. Berdasarkan perjanjian pertambangan, masing-masing pihak harus melakukan perencanaan pertambangan dimana pihak-pihak yang mempunyai hak atas batubara, batasan pit, mekanisme pembebanan batubara, parameter dalam menambang batubara, pembuangan overburden, keamanan dan lingkungan, pembebasan tanah, pengairan kembali, survey, agreement rates, penagihan dan pembayaran dan juga resolusi ketidaksepakatan.

Perjanjian ini akan tetap berjalan sampai dengan terjadinya (Persyaratan Perjanjian) :
(i) Berakhirnya masa berlaku, pembatalan dan pencabutan perjanjian atau perjanjian kerja WBM untuk perusahaan penambangan batu bara dan setiap perpanjangan atau PKP2B milik Arutmin;
(ii) Salah satu pihak telah menyalahi kontrak perjanjian yang telah disepakati.


Perjanjian Pemasaran

1. Pada tanggal 6 Oktober 2003, Arutmin mengadakan perjanjian dengan Enercorp, dimana Enercorp akan bertindak sebagai agen pemasaran batubara untuk seluruh wilayah Republik Indonesia. Sebagai imbal jasa Arutmin akan membayar komisi sebesar 4% dari FOB, CIF, CFR atau dasar lainnya. Jangka waktu perjanjian adalah lima (5) tahun sejak berlakunya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian dengan Enercorp diperbaharui untuk melibatkan Originator dan Indo Kalsel dalam perjanjian pemasaran. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui dan disajikan kembali tersebut, Enercorp setuju untuk memberikan jasa pemasaran kepada Arutmin dan Originator dan Indo Kalsel.

2. Pada tanggal 10 Oktober 2003, KPC mengadakan perjanjian dengan Glencore Coal Mauritius Ltd. (Glencore), dimana Glencore akan bertindak sebagai agen pemasaran batubara untuk seluruh negara kecuali Jepang. Sebagai imbal jasa KPC akan membayar komisi sebesar 5% dari FOB, CIF, CFR atau dasar lainnya. Jangka waktu perjanjian adalah dua belas (12) tahun sejak berlakunya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian pemasaran dengan Glencore di perbaharui untuk melibatkan Originator dan Indo Kaltim dalam perjanjian pemasaran. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui tersebut, Glencore setuju untuk memberikan jasa pemasaran untuk KPC, Originator, dan Indo Kaltim.

3. Pada tanggal 9 Januari 2004, KPC mengadakan perjanjian dengan Mitsubishi Corporation (Mitsubishi), dimana Mitsubishi akan bertindak sebagai agen pemasaran batubara untuk negara Jepang. Sebagai imbal jasa KPC akan membayar komisi sebesar 5% dari FOB, CIF, CFR atau dasar lainnya. Jangka waktu perjanjian adalah selama dua belas (12) tahun sejak tanggal berlakunya perjanjian.

Pada tanggal 6 Juli 2005, perjanjian pemasaran dengan Mitsubishi di perbaharui untuk melibatkan Originator dan Indo Kaltim dalam perjanjian pemasaran. Sesuai dengan perjanjian yang diperbaharui dan disajikan tersebut, Mitsubishi setuju untuk memberikan jasa pemasaran untuk KPC, Originator, dan Indo Kaltim.

4. Pada tanggal 6 Juli 2005, Arutmin dan BPHB memutuskan perjanjian kontrak jasa pemasaran tanggal 22 Oktober 2001 dan 4 Oktober 2003, lalu Arutmin, BHPB, Originator, dan Indo Kalsel menandatangani perjanjian jasa pemasaran yang baru. Dalam perjanjian baru ini BHPB setuju untuk menyediakan jasa pemasaran bagi Arutmin, Originator, dan Indo Kalsel. BHPB berhak untuk menerima komisi sebesar 4% dari penjualan ekspor diluar penjualan Arutmin ke Originator dalam rangka Perjanjian Penyediaan Jangka Panjang dan yang dijual Indo Kalsel ke Originator, dalam rangka Perjanjian Penyediaan Jangka Panjang. Perjanjian ini akan berakhir pada tanggal 29 Nopember 2011.


Perjanjian Kerjasama dengan Koba Steel

Pada tanggal 19 Mei 2006, Perusahaan menandatangani perjanjian kerjasama dengan Kobe Steel Ltd. (KSL), dimana Perusahaan berpartisipasi dalam pengembangan proses peningkatan batubara kalori rendah (UBC) untuk selanjutnya memanfaatkan hasil dari pengembangan tersebut untuk memproduksi dan menjual produk UBC, dibawah lisensi yang diberikan KSL.

Atas lisensi yang diberikan KSL, Perusahaan harus membayar kontribusi kepada KSL sebesar Yen 1.100.000.000 Kontribusi tersebut dibayar dalam 4 cicilan, dimana cicilan pertama sebesar Yen 220.000.000 jatuh tempo 60 hari sejak ditandatanganinya perjanjian. Cicilan kedua sebesar Yen 440.000.000 jatuh tempo pada bulan Maret 2007. Dua cicilan terakhir masing masing sebesar Yen 220.000.000 jatuh tempo pada bulan Maret 2008 dan 2009.

Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007 dan 2006, Perusahaan telah membayar kontribusi sebesar masing-masing Yen 660.000.000 (setara dengan AS$ 5.549.786) dan Yen 220.000.000 (setara dengan AS$ 1.913.560).


Perjanjian penjualan dan pembelian Batubara

Pada tanggal 1 Januari 2007, KPC dan Arutmin, Enercorp (Pembeli) dan ICRL (Penjual), mengadakan perjanjian Jual Beli Batubara, dimana Penjual sepakat untuk menjual dan mengirim kepada pembeli dengan persyaratan dan kondisi yang disepakati dan KPC dan Arutmin sepakat untuk menjamin kewajiban Penjual kepada pembeli. Kecuali Perjanjian berakhir lebih awal menurut pencadangan yang ada, Perjanjian ini berlanjut dan effektif hingga tanggal 31 Desember 2016. Persyaratan dibagi menjadi dua yaitu:

1. “Periode awal” yang berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 2007 dan berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 atau sampai dengan kewajiban kedua pihak telah diselesaikan seperti yang disepakati bersama; mana yang lebih cepat terjadi; dan
2. “Periode perpanjangan” yang akan dimulai setelah berakhirnya batas waktu periode awal sampai dengan periode penyelesian. Persyaratan untuk periode perpanjangan akan dibahas dan disepakati bersama.


Perjanjian Penjualan Batubara

Berdasarkan Perjanjian Penjualan Batubara pada tanggal 30 Maret 2007 yang ditandatangani antara Tata Power (Pembeli) dan ICRL (Pemasok), Pembeli untuk membeli batubara dari beberapa sumber, termasuk dari Pemasok. Perjanjian ini berlaku pada tanggal 26 Juni 2007.


Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB)

Perusahaan dan PT Borneo Lumbung Energi (Borneo), afiliasi dari PT Renaisance Capital menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PJBB) tanggal 16 Maret 2006 tentang pengalihan saham Anak perusahaan KPC, Arutmin, ICRL, Indo Kaltim dan Indo Kalsel dengan harga penjualan sebesar AS$ 3,25 miliar. Sesuai dengan PJBB penyelesaian atas penjualan terjadi apabila persyaratan-persyaratan tersebut telah dipenuhi.

Pada tanggal 25 Agustus 2006, Perusahan dan PT Borneo Lumbung Energi memutuskan untuk tidak melanjutkan proses PJBB.


Perjanjian Investasi dengan PT Recapital Asset Management

Pada tanggal 8 Oktober 2007, Perusahaan telah menandatangani kontrak jasa manajer investasi dengan PT Recapital Asset Management (Recapital) untuk jangka waktu 6 (enam) bulan sejak ditanda tanganinya kontrak. Perusahaan memberikan kewenangan penuh kepada Recapital sebagai manajer investasi untuk mengelola dana Perusahaan berdasarkan pedoman/kebijakan investasi yang telah disepakati bersama. Sebagai kompensasi atas jasa yang diberikan, Recapital berhak untuk mendapatkan penggantian biaya investasi sebesar 1% dari nilai dana yang ditempatkan.


Gugatan Hukum Pemprov Kaltim

Pada tanggal 5 April 2006, Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mengajukan gugatan kepada Perusahaan, Rio Tinto Plc, BP Plc, Pasific Resources Investment Ltd, BP International Limited, SHL dan KCL pada forum arbitrase International Center for Settlement of Investment Disputes (ICSID) (Gugatan Arbitrase). Gugatan Arbitrase ini diajukan sehubungan dengan klaim Pemprov Kaltim bahwa Perusahaan dan tergugat lainnya tidak menyelesaikan kewajiban-kewajiban tertentu dalam Kontrak Karya dengan tidak menyelesaikan kewajiban pelepasan 51% saham Perusahaan.

Dari sudut pandang Perusahaan, Pemprov Kaltim tidak memiliki dasar hukum untuk mengajukan Gugatan Arbitrase di forum ICSID karena Pemprov Katim bukanlah Contracting State yang menandatangani PKP2B KPC, dan juga bukan sub-divisi atau agen dari Contracting State yang ditunjuk Pemerintah untuk mengajukan gugatan ke Perusahaan pada forum arbitrase ICSID.

The Tribunal yang terdiri atas Prof. Gabrielle Kauffman Kohler (Presiden), Prof. Albert Jan Van Den Berg dan Michael Hwang telah terbentuk pada tanggal 12 April 2007. Selanjutnya pada tanggal 27 dan 28 Pebruari 2008, the Tribunal telah menyelenggarakan Hearing on Juridiction diruang sidang Singapore International Arbitration Center di Singapura. Hearing on Juridiction diselenggarakan untuk memerikasa legal standing Pemprov Kaltim dalam mengajukan gugatan serta untuk memeriksa juridiksi ICSID dalam mengadili perkara pada Hearing on Juridiction. The Tribunal meminta agar para penggugat dan para tergugat menyampaikan jawaban tertulis pada tanggal 10 April 2008 berkaitan dengan beberapa pernyataan yang disampaikan Tribunal kepada penggugat dan para tergugat.

Advertisements