Dua menteri yang dijadikan tumbal SBY

Dua menteri yang dijadikan tumbal SBY

Endang Rahayu Sedyaningsih
https://id.wikipedia.org/wiki/Endang_Rahayu_Sedyaningsih

Menteri Kesehatan Indonesia ke-18
Masa jabatan 22 Oktober 2009 – 30 April 2012
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Didahului oleh Siti Fadilah
Digantikan oleh Ali Ghufron Mukti sebagai pelaksana tugas
Nafsiah Mboi

Informasi pribadi
Lahir 1 Februari 1955, Jakarta, Indonesia
Meninggal 2 Mei 2012 (umur 57), Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Indonesia
Suami/istri Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM
Anak Arinanda Wailan Mamahit
Awandha Raspati Mamahit
Rayinda Raumanen Mamahit
Alma mater Universitas Indonesia
Harvard School of Public Health

dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH (lahir di Jakarta, 1 Februari 1955 – meninggal di Jakarta, 2 Mei 2012 pada umur 57 tahun) adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 30 April 2012. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes.

Endang memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan gelar magister dan doktor dari Harvard School of Public Health.

Karier

Endang memulai kariernya pada tahun 1979 sebagai dokter di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Dia bergabung pada pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun 1980 dan bekerja di daerah terpencil sebagai Kepala Puskesmas Waipare di Nusa Tenggara Timur selama tiga tahun.

Pada tahun 1983, ia pindah ke Jakarta dan meneruskan bekerja dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Pada tahun 1997, dia bergabung dengan Badan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dia bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Pengendalian dan Pengembangan Program Penyakit , NIHRD untuk lebih dari satu dekade. Selama 6 bulan pada tahun 2001, dia menghabiskan waktunya dengan bekerja pada Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss.

Ia diangkat sebagai Direktur Pusat Penelitian Biomedis dan Program Pengembangan, NIHRD pada tahun 2007. Pada bulan Oktober 2009, ia diangkat sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid Dua. Pada tanggal 26 April 2012 ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai Menteri Kesehatan karena kondisi kesehatan. Ia resmi diberhentikan pada tanggal 30 April 2012.

Kehidupan pribadi

Ia bersuamikan Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM (Direktur RSUD Tangerang) dan memiliki dua putra dan satu putri .Putra pertama bernama Arinanda Wailan Mamahit, putra kedua bernama Awandha Raspati Mamahit, dan anak putri paling kecil bernama Rayinda Raumanen Mamahit.

Pada tanggal 2 Mei 2012, Endang meninggal dunia karena kanker paru lanjut di usia 57 tahun di RSCM, sekitar pukul 11.41 WIB.


https://superhalaman.wordpress.com/2008/04/29/hh-samosir-heboh-soal-namru/
HH Samosir: Heboh soal Namru
20080429

Di Forum Apakabar sedang berlangsung diskusi berjudul: “Heboh soal Namru” – http://forums.superkoran.info/viewtopic.php?t=48530 yang dimulai dengan komentar Wiro yang kemudian minta pendapat HH Samosir (Let Kol US Marine). : “Bermula dari Menkes kita yang emang sudah ada ‘story’ dengan AS soal sample virus flu burung. Awalnya, Menkes Siti Fadillah Supari melarang semua rumah sakit di Indonesia mengirim contoh bibit penyakit ke Namru-2 (Naval Medical Research Unit-2), laboratoriun angkatan laut AS itu, dengan alasan kontrak kerja belum diperpanjang.

Perkembangan berlanjut hingga soal gosip tuduhan Menkes bahwa Dino Pati Djalal sebagai agen intelijen di Namru, meski belakangan dibantah oleh Menkes.

Efek latah berlanjut, ada koalisi mahasiswa yang menyerukan agar fasilitas Namru ini diusir saja dari indonesia, padahal Namru sudah ada di Indo kurang lebih 20 tahun, dan manfaatnya aku kira banyak juga kita rasakan.

Bukan mahasiswa saja, anggota dpr-ri yang menjabat sebagai Ketua Fraksi PDI-P, Tjahjo Kumolo sampai mengusulkan agar membentuk pansus Namru.

Nah, ini ada tulisan Kartono Muhammad di Kompas hari ini, 29 April 2008 di halaman opini yang layak disimak!

wiro
*Seandainya Bung HH Samosir berkenan nyumbang pendapat soal ini, kayaknya menarik!* ”

Bang Wiro sir,
Mohon maap nggak nongol beberapa minggu karena sedang asyik ke pelosok Pakistan, lagi pula sayangnya thread tentang makanan “exotic” sudah lewat, kebetulan di perbatasan dengan Afghan ada makanan kepala unta yang di masak kare yang disajikan di sebuah nampan lebar dan disekelilingnya diberi tabouli bercampur kismis. Untuk makan bersama.

Anyway…..
Saya kadang geli dengan masalah NAMRU-2 ini. Sebenarnya memang telah ada MOU dengan RI dan ini telah terjadi dalam kurun waktu sekitar dua dasawarsa.

Benar memang NAMRU-2 adalah misi penelitian US Navy/Marines untuk bidang kajian pathogen dan biologi di daerah tropis.
http://www.nhrc.navy.mil/geis/sites/namru2.htm#Mission

Jadi tidak melulu bertujuan untuk memecahkan masalah di negara host demikian pula harus bertanggung jawab serta berkewajiban memikul rentang masalah kesehatan dinegara host. Karena tujuannya adalah riset yang dikembangkan dan hanya bertanggung jawab hasil riset kepada US Navy/Marines. Untuk third parties yang digandeng NAMRU-2 lebih kurang adalah laborat perusahaan Merck Global pharmaceutical dan Pfizer dan Abbott Lab.

1. Dulu Menlu Alwi Shihab juga sudah menyatakan dan mengancam mengakhiri proyek NAMRU-2 ini di tahun 2000.

2. Wakil ketua Komisi III Soeripto yang sangat lantang tentang ditutupnya proyek NAMRU-2 ini. Dia juga mengatakan bahwa banyak pasal pasal di MOU sudah tidak cocok dan tidak menguntungkan posisi Indonesia. Saya juga setuju dengan beliau. Lebih jauh Soeripto mengatakan bahwa: “….berkeberatan dengan klausul tentang pengejawantahan arti “should be permitted to enter Indonesian territory”

3. Menkes Siti Fadillah Supari (Jawa Pos 04-19) bertanya ke US Health Minister Michael O’ Leavitt saat berkunjung ke Indonesia 04-14 kemarin, yang mengatakan kira kira : “Kenapa laboratotium kesehatan kok dijalankan militer?” Kemudian Menkes mengancam bye-bye MoU dan MTA.

4. Masalah ini menjadi pelik setelah kasus virus HSN-5, masalah ini diperberat lagi dengan dihubungkannya issu agama yang saat ini sarat dengan kelompok agamais “you know who” yang menuduh bahwa NAMRU-2 adalah agen intel yang bisa masuk kepelosok dan kampung kampung guna mematai matai kalangan “you know what”. Memang tidak ada hubungannya tetapi ini masalah nyata dilapangan.

Kalau kita lihat penanganan dan terapan NAMRU-2 ini memang tidak seperti yang diharapkan dan di impikan oleh pihak Indonesia (dep-kes). Memang, karena tanggung jawab mereka dan laporan hasil penelitian mereka memang ditujukan dan bertanggung jawab untuk pencegahan dan surveillances pathogen jika pasukan US berada di daerah tertentu spesifik didaerah ASEAN.

Kasarannya mungkin seperti ini: Jika saya mau ke daerah X sekitar tanggal D bulan M tahun Y dengan durasi 2 minggu maka dinas kesehatan US Navy memberi beberapa suntikan yang spesifik untuk mencegah outbreak selama durasi tersebut, juga gunanya untuk meminimalkan si-pelaut/marinir tersebut sebagai carrier (pembawa) bagi pathogen ke US saat dia selesai tugas, ataupun daerah ber populasi tinggi di negara host.

Mungkin ada sanggahan: “Loh.. lha itu sipil US mondar mandir tanpa suntikan kok, kalau mencegah khan sama saja bo-ong..” [Laughing] Betul, tetapi, khan sipil atau orang lain sekitar kota kota yang telah ada standar kesehatan. Juga tidak mblusak-mblusuk keluar masuk belukar, terjun kedalam hutan, atau keluar masuk kapal selam daerah terpencil, atau berlayar di-daerah yang jarang dilalui manusia.

Saya juga heran Menkes dan para wakil rakyat RI apa tidak TANGGAP (melihat dan mendengar) saat kejadian Tsunami di Acheh, gempa kedua di Sumatra, Gempa di Jogja dll yang cukup berukuran besar hingga butuh perhatian dunia, yang pertama kali memberikan bantuan ke Republik Indonesia adalah Militer US. Penanganan gerak cepat ini ditangani oleh US Navy/Marine yang sebelumnya mendapat pengarahan dari analis dari NAMRU-2 yang membimbing Joint Task Force 536 dari Utapao Thailand untuk membawa pasukan yang lebih besar dari Kadena Japan dan Armada ke 7 beserta perangkat kerasnya kelapangan.

Juga militer di NAMRU-2 inilah yang pertama kali mendirikan post-Tsunami Health assessment pertama di Meulaboh. Serta memberikan briefing bagi para pasukan US, sukarelawan asing dan lokal serta pemerintah RI, WHO maupun badan international lain yang bertugas tentang penangan yang berhubungan dengan kesehatan dilapangan, tentang penanganan para korban, epidemiological investegation, menangani mayat mayat, serta pengambilan sample pathogen yang terbawa tsunami ke pantai, dll.

Berkat usaha NAMRU-2 ini juga maka usaha pertama yang dilakukan adalah membuat pengadaan Air bersih, running-water system, MCK dll.

Demikian juga saat terjadi bencana kedua di Sumatra dan di Jogja.

Saya jadi berpikir:

1. entah MENKES dan para wakil rakyat RI belum pirsa. Bahwa tindakan tercepat untuk penanganan management bencana oleh militer masih belum tergantikan oleh sipil.
Bisa dibayangkan jika terlambat memberi bantuan entah berapa ratus ribu lagi RAKYAT INDONESIA yang tewas akibat tidak adanya adequate health assesment saat terjadi bencana bencana tersebut. (ehemmm… let alone DepKes RI !!)
Seandainya proyek setara NAMRU tersebut dijalankan sipil US mungkin lebih runyam mengingat proses lebih pelik dan berlarut larut. Yang mana tiap keputusan bergantung pada untung-rugi secara finansial.

2. Jadi kalau dikatakan tidak ada manfaatnya bagi Rakyat, saya kira sedikit keliru. Saya kira proyek NAMRU diakhiri juga tidak apa, toh Thailand dan Malaysia cukup mewakili. Entah mungkin ada masalah politis lainnya saya tidak tahu.
Cuma ya itu… kalau terjadi lagi bencana mungkin rakyat Indonesia lebih mengandakan DepKes, terutama kelompok yang mengompori rakyat bahwa tidak usah memakai fasilitas kesehatan para Kafirun barangkali lebih suka antri di Poliklinik atau unit gawat darurat Rumah Sakit Umum. (smile)

3. Mengenai tarik ulur masalah virus flu burung, saya kira terletak pada posisi bargaining dari pengumpulan sample. Jadi disitu hanya murni bisnis dan burni politis antar agregat. Mungkin lebih enak dengan mengancam kelangsungan proyek NAMRU2. Padahal kalau NAMRU2 dihentikan maka LITBANGKES akan kehilangan donor perangkat laboratorium yang canggih, kehilangan bantuan dana hibah dari US Navy/Marine, US Government, American Pharmaceutical Corp, dll Juga akan kehilangan momentum atas Priority Health assessment service jika terjadi bencana.

Jadi saya kira semuanya itu terserah pada pemerintah atau rakyat Indonesia saja. Entah proyek ini masih dibutuhkan atau tidak. Barangkali saja Indonesia sudah sedemikian mandiri, sehingga memutuskan untuk tidak melanjutkan program tersebut.

Semper Fi,
HH Samosir

Tambahan dari Superkoran: http://jakarta.usembassy.gov/bhs/siaran-pers/April08/FactSheetNamru2.html

23 April 2008

Lembar Fakta: Fakta tentang NAMRU-2

English

Apakah NAMRU-2?

Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas kesehatan umum internasional. NAMRU-2 didirikan pada tahun 1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI.

Apa saja lingkup kerja NAMRU-2 di Indonesia?

Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung. Penelitian NAMRU-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Mengapa NAMRU-2 menjadi bagian dari fasilitas militer?

Militer Amerika Serikat, dan terutama Angkatan Laut nya, memiliki sejarah panjang dalam penelitian medis. Hal ini berawal pada tahun 1853 ketika Kongres AS membangun fasilitas Penelitian Medis Angkatan Laut di Brooklyn, New York. NAMRU-2 menjadi bagian tersebut dan merupakan salah satu dari lima laboratorium penelitian penyakit tropis AS yang berada di luar negeri. Laboratorium lainnya berada di Thailand, Mesir, Kenya, dan Peru. Pemerintah AS tidak mengambil keuntungan dari kegiatan NAMRU-2, dan bahkan banyak penelitiannya menitikberatkan pada bidang yang dianggap tidak “menguntungkan” oleh lembaga penelitian medis swasta.

Apakah NAMRU-2 merupakan sebuah fasilitas rahasia? Apakah NAMRU-2 melakukan kegiatan intelijen?

Tidak. Fasilitas yang ada di NAMRU-2 selalu terbuka untuk semua pengunjung yang berminat, dan menyambut baik para ilmuwan, dokter dari laboratorium milik Pemerintah Indonesia, dari pihak militer, maupun perguruan tinggi. NAMRU-2 adalah organisasi yang transparan dan hanya melakukan penelitian medis dan ilmiah dengan menitikberatkan pada penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Siapa yang bekerja di NAMRU-2?

Staf NAMRU-2 hampir semuanya terdiri dari ilmuwan, dokter, dokter hewan, ahli teknologi, dan pegawai administratif dari Indonesia. Dari sekitar 175 personil, hanya 19 orang staf yang berasal dari Amerika. Para staf Indonesia lah yang membuat NAMRU-2 sukses.

Siapa yang mengarahkan kegiatan NAMRU-2 di Indonesia?

Semua proyek NAMRU-2 dilakukan atas persetujuan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan LITBANGKES). NAMRU-2 menjalankan kegiatannya dengan bermitra bersama rekan-rekan dari Indonesia, dan tidak pernah melakukan kegiatan sendiri. NAMRU-2 merupakan bagian dari Kedutaan Besar AS di Jakarta. NAMRU-2 berada di bawah yurisdiksi Kedutaan Besar AS.

Apa yang telah dilakukan NAMRU-2 untuk Indonesia?

Memberikan pelatihan di bidang teknik laboratorium dasar bagi ratusan pekerja kesehatan dan peneliti Indonesia secara menerus.
Memberikan pelatihan kepada lebih dari 50 ilmuwan dari Indonesia di bidang pengembangbiakan parasit malaria dalam laboratorium dan metode canggih pendeteksian penyakit.
Memberikan pelatihan kepada 30 mahasiswa perguruan tinggi Indonesia setiap tahunnya di bidang teknik virologi dan bakteriologi.
Menunjukkan bahwa Primaquine mampu mencegah malaria sehingga obat untuk umum dan yang terjangkau ini terbukti berguna bagi warga Indonesia yang bepergian ke tempat-tempat yang berisiko tinggi.
Memimpin upaya senilai 4 juta dolar AS untuk memberantas epidemi malaria di Jawa Tengah; angka kasus malaria tahunan turun dari 70.000 menjadi kurang dari 4000.
Memberikan pelatihan, dukungan pengujian tingkat tinggi, peralatan, dan epidemiologi bagi Departemen Kesehatan untuk meneliti wabah demam berdarah yang terjadi di Palembang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Medan.
Membuka lapangan kerja bagi lebih dari 150 warga Indonesia.
Medonasikan laboratorium penelitian mereka di Jayapura, Papua kepada LITBANGKES.



http://crofsblogs.typepad.com/h5n1/2008/05/a-fact-sheet-on.html
A fact sheet on NAMRU-2
May 01, 2008

What is NAMRU-2?
Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) is a biomedical research laboratory that studies infectious diseases of mutual interest to the United States, the Indonesian Ministry of Health, and the international public health community. NAMRU-2 was established in Jakarta in 1970 upon the invitation of Indonesian Ministry of Health officials.

What is the scope of NAMRU-2’s work in Indonesia?
These shared research interests focus on malaria, viral diseases including dengue fever, enteric infections leading to diarrhea, and other emerging infectious diseases, including avian influenza. NAMRU-2 studies only relate to naturally-occurring tropical diseases.

Why is NAMRU-2 a military facility?
The United States military, and especially its Navy, has a long history of medical research. This began in 1853, when the U.S. Congress created the first Naval Medical Research facility in Brooklyn, New York. NAMRU-2 is part of that tradition, and one of five U.S. overseas tropical disease research laboratories. The others are located in Thailand, Egypt, Kenya and Peru. The U.S. Government does not profit from the operation of NAMRU-2, and in fact, much of its research focuses on research considered “unprofitable” by private medical research facilities.

Is NAMRU-2 a secret facility?
Is NAMRU-2 doing intelligence work? No. NAMRU-2’s facilities are always open to all visitors who share their interests, and welcomes scientists and physicians from Government of Indonesia laboratories, from the military, and from universities. It is an entirely transparent organization, and conducts only medical and scientific research, focusing on naturally-occurring tropical diseases.

http://jakarta.usembassy.gov/press_rel/April08/FactSheetNAMRU2.html


https://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/22/virus-namru-2-dan-ibu-menkes-baru/
Virus, Namru 2 dan Ibu Menkes Baru
Kopral Cepot on Oktober 22, 2009

Ibu Menkes Baru : Endang Rahayu Setyaningsih

Menteri Kesehatan terpilih Endang Rahayu Setyaningsih adalah staf Departemen Kesehatan, yang paling ‘dekat’ dengan Namru (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut.

Endang adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979, dan memperoleh gelar master dan dokter dari Harvard School of Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997. Ia menjalani karier di bidang kesehatan dengan menjadi dokter puskesmas di NTT dan pernah menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ia juga pernah ditugaskan di Kanwil Departemen Kesehatan DKI Jakarta menjadi seorang peneliti, dan pernah menjabat Kepala Litbang Biomedik dan Farmasi Departemen Kesehatan.

“Dia (Endang) adalah mantan pegawai Namru. Dia memang sekarang ini tidak mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam perbincangan dengan TvOne, Rabu, 21 Oktober 2009.

Dipilihnya Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai menteri kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II membuat kaget Siti Fadilah Supari. Siti yang masih menjabat Menkes hingga pelantikan menteri baru Kamis besok, tidak habis pikir, kenapa Endang yang terpilih.

“Semua juga kaget, ternyata, kok bisa dia. Dia itu eselon II dan tidak punya jabatan,” kata Siti dalam perbincangan dengan tvOne setelah Yudhoyono mengumumkan susunan KIB II, Rabu 21 Oktober 2009.

Menurut Siti Fadilah, Endang memang lulusan dari Amerika Serikat. Siti melanjutkan, Endang dikenal sebagai staf Departemen Kesehatan yang ‘dekat’ dengan Namru.

“Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara dengan semua pegawai Depkes,” ujar Siti Fadilah.

Meski pun bekerja di Depkes, kata dia, pekerjaan sehari-hari Endang hanya di laboratorium. “Tapi disertasinya di masyarakat. Dia tidak punya pengalaman di puskermas. Tapi saya melihat kecerdasannya,” kata Siti.

Maka itu, Siti Fadilah berharap untuk periode mendatang, Endang Setyaningsih dapat mengikuti kebijakan yang sudah diambil sebelumnya.

“Dimana Namru, sudah secara resmi sudah tutup. dan saya mohon, ini jangan dibuka lagi,” ujar dia. (sumber berita) http://politik.vivanews.com/

Munculnya nama Endang Rahayu Sedyaningsih di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II, Rabu (21/10), memunculkan tudingan dia terlalu pro Amerika Serikat. Tetapi hal itu dibantah oleh mantan staf peneliti Namru 2 itu.

Endang mengakui bahwa semasa Menkes Siti Fadhilah Supari, dia sempat diskors karena dianggap berpihak kepada AS dalam soal virus flu burung. “Bagi saya ini persoalan yang tidak penting-penting amat. Dan ini wajar kalau atasan tidak senang kemudian menskors bawahannya,” kata Endang dalam wawancara dengan Media Indonesia, Rabu (21/10) malam. (sumber) http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/101565/3/1/Menkes-Bantah-Terlalu-Pro-Amerika-Serikat

Ada apa dengan NAMRU 2 ?

Dalam Lembar Fakta tentang NAMRU-2 yang ada di situs Kedubes Amerika Serikat dinyatakan bahwa Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas kesehatan umum internasional. NAMRU-2 didirikan pada tahun 1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI. http://jakarta.usembassy.gov/bhs/siaran-pers/April08/FactSheetNamru2.html

Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung. Penelitian NAMRU-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Kenapa NAMRU bisa bercokol begitu lama di Indonesia ? Apa yang mereka cari di negara kepulauan ini, dan apa manfaat kehadiran mereka bagi Indonesia ? Dan, kenapa lembaga dari Amerika Serikat ini terkesan begitu misterius ? Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab mengenai lembaga riset ini. Dan aku berani memastikan, tak satu pun wartawan di Indonesia memiliki akses ke lembaga ini; malahan mungkin mereka pun tak pernah tahu keberadaan NAMRU.

Siti Fadilah Supari telah melarang semua rumah sakit di Indonesia untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Sebab, kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Pakar intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini keberadaan laboratorium medis milik angkatan laut AS, The U.S. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU-2) merupakan alat intelijen AS. Hal ini diyakini Subardo berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30 tahun bekerja di bidang intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.

“Kalau saya pribadi yakin itu ada motif intelijen dari Amerika. Saya kan kerja di bidang intelijen ini sejak Letnan hingga Bintang Dua (laksmana muda). Lebih dari 30 tahun,” kata Subardo di sela-sela Seminar Hari Kesadaran Keamanan Informasi (HKKI) di Fakultas MIPA UGM, Yogyakarta, Jumat (25/4/2008).

Meski meyakini keberadaan NAMRU-2 terkait operasi intelijen milik AS, Subardo, mengaku dirinya tidak lagi mempunyai wewenang menangani persoalan tersebut. Dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah khususnya melalui Badan Intelijen Negara (BIN).

“Saya tidak punya wewenang lagi. Itu urusannya pemerintah dan BIN. Saya hanya mengungkapkan ini agar kita lebih waspada, sebab penyadapan informasi melalui intelijen ada di mana-mana,” tegasnya.

Menurut dia kesadaran akan keamanan informasi di Indonesia sampai saat ini masih cukup lemah. Hal ini terbukti dari laporan Lemsaneg beberapa waktu lalu yang menemukan bukti dari 28 kantor Kedubes Indonesia di Luar Negeri, sebanyak 16 diantaranya telah disadap sehingga harus dilakukan pembersihan dan pembenahan. Kasus ini menurutnya sebagai preseden buruk bagi Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan informasi.

“Sekitar 16 kedubes yang disadap di luar negeri. Jelas hal itu sebagai preseden buruk agar kita lebih berhati-hati melakukan pengamanan, khususnya informasi,” imbuhnya. (sumber detiknews) http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/25/time/191541/idnews/929732/idkanal/10

Kontroversi keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia rampung sudah. Tercatat sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 sudah tidak beroperasi lagi.

“Surat resmi penghentian kerjasama dengan Namru resmi dilayangkan dubes AS di Indonesia tanggal 16 Oktober kemarin. Jadi perjanjian yang diawali 16 Januari 1970 sudah resmi berakhir 16 Oktober kemarin,” ujar mantan Menkes Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10/2009)

Siti Fadilah mengatakan dirinya keberadaan Namru-2 mengganggu kedaulatan Indonesia. Sebab, pusat penelitian itu meneliti virus yang dilakukan Angkatan Laut AS.

“Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada penelitian tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” harapnya..

Oleh karena itu Siti Fadilah berharap pada penerusnya, Endang Rahayu Edyaningsih, agar tidak membuka lagi Namru-2. Dia yakin Endang bisa melanjutkan kebijakannya tersebut. “Saya kira Ibu Endang bisa mengikuti langkah-langkah yang telah kita ambil pada periode ini, di mana Namru sudah secara resmi ditutup, dan saya mohon jangan dibuka lagi,” katanya. (sumber) http://www.detiknews.com/read/2009/10/22/010526/1226054/10/sejarah-namru-2-berakhir-16-oktober-2009

Saatnya Dunia Berubah


Saatnya-dunia-berubah

Bagi Anda yang masih percaya akan adanya nasionalisme dan keadilan global dalam hubungan internasional maka wajib hukumnya untuk membeli buku ini. Buku ini sebenarnya catatan harian dari Ibu Menteri Siti Fadilah Supari ketika memperjuangkan transparansi dan keadilan dalam organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization).

Ceritanya berawal ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung untuk menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka. Namun anehnya, hasil penelitian dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected countries). Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial.

Vietnam, contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung. Vietnam pun memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang didapat malah terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu perusahaan farmasi AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal kalau bukan dari sampel virus flu burung Vietnam?

Ibu Menteri mencium aroma kapitalistik dari negara-negara maju, sebut saja, Amerika Serikat. Jelas saja ini akan sangat merugikan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya apabila memberikan virus Flu Burung namun tidak mendapatkan vaksinnya. Ada dugaan kalau WHO justru menjual kembali virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk dibuatkan vaksinnya yang akan dijual secara komersial kepada negara-negara yang menderita pandemi Flu Burung.

Hal ini semakin jelas ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman mendatangi Ibu Menteri Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan sampel virus Flu Burung Indonesia kepada WHO. Dari hasil sebuah penelitian, virus Flu Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi. Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi virus Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus Flu Burung ala Indonesia yang sangat dibutuhkan WHO adalah sebuah bargaining power untuk mereformasi WHO yang tidak adil dan menguntungkan AS saja.

Dimulailah pertarungan antara Daud dan Goliat. Daud yang diwakili Menteri Kesehatan RI melawan Goliat yang diwakili WHO dan AS. Sangat seru membaca bagaimana Ibu Menteri Kesehatan berjuang menghadapi perwakilan WHO yang sangat ngotot meminta RI memberikan virus Flu Burung tanpa syarat. Meskipun berlatar belakang dokter, Ibu Menteri berusaha belajar bagaimana berdiplomasi multilateral di tingkat organisasi internasional.

Untunglah DEPLU RI bersedia membantu Ibu Siti Fadilah dalam menggalang dukungan dari negara lain untuk proposal Indonesia. Bu Siti Fadilah pun cukup lihai dalam menggunakan media internasional untuk menyudutkan WHO dan AS. Beberapa kali media internasional seperti The Economist, Guardian mendukung dan memuji perjuangan Ibu Siti Fadilah. Anehnya, media nasional dan anggota DPR justru mencaci maki gerakan ini (mungkin karena keterbatasan informasi dan sibuk buat “UUD”).

Sangat seru membaca dialog-dialog antara Ibu Siti Fadilah dengan pejabat-pejabat WHO seperti David Heyman dan Margareth Chan. Terjadi beberapa kali pertemuan menegangkan antara Ibu Siti Fadilah Supari dengan WHO. Bahkan, pejabat-pejabat senior AS sendiri sempat bertemu dua kali dengan Ibu Siti Fadilah membujuk Ibu Siti Fadilah membatalkan niat Indonesia untuk mereformasi WHO.

Meskipun berdarah Jawa, bagi saya Ibu Siti Fadilah ini orang Batak tulen. Tidak ada basa-basi, langsung menusuk ke inti persoalan. Bahkan ketika memberikan pidato di depan majelis sidang World Health Assembly, Ibu Siti Fadilah tidak sungkan menuduh pabrik farmasi AS dapat membuat senjata biologi melalui virus Flu Burung ini. Telinga pejabat AS pun panas mendengar hal ini.

Ibu Siti Fadilah pun sangat tegar dalam prinsip dengan cerdas mencari solusi permasalahan. Dalam beberapa sidang, deadlock hampir terjadi. Pak Makarim Wibisono, duta besar Indonesia untuk PBB pun sempat menyerah terhadap situasi sidang. Tetapi Ibu Siti Fadilah tetap tegar dengan mencari berbagai senjata ampuh untuk menaklukkan AS. Dan akhirnya ketemu satu senjata ampuh untuk tidak terjadi deadlock!

Menarik juga untuk mengikuti sisi religius dari perjuangan reformasi WHO ini. Ketika ketika terjadi keterlambatan penerbangan dari Iran ke Jenewa, Ibu Siti Fadilah hampir tidak bisa mengikuti proses sidang World Health Assembly yang menentukan apakah agenda Indonesia diluluskan atau tidak. Tapi untungnya, sidang WHA pun terlambat sehingga Ibu Siti Fadilah dapat menyampaikan pidatonya untuk meyakinkan proposal Indonesia.

Ada satu kejadian seru lagi dimana ketika memasuki persidangan, agenda Indonesia tidak mendapat satupun dukungan (co-sponsorship) dari negara-negara anggota WHO. Namun menjelang detik-detik akhir, Iran datang dan menandatangi co-sponsorship dan membantu mencarikan dukungan dari negara-negara muslim dan sosialis. Indonesia akhirnya didukung oleh semua negara anggota WHO dan tidak ada yang mendukung AS. Luar biasa! Ibu Siti Fadilah sangat yakin kalau Tuhan yang Maha Kuasa berada di balik perjuangannya.

Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui bagaimana AS melalui WHO berupaya membujuk Indonesia membatalkan rencana reformasi WHO, segeralah membeli buku ini. Akan terlihat sangat nyata bahwa AS di berbagai arena internasional memiliki segudang pengaruh untuk merealisasikan kepentingan negaranya. Entah melalui pemberian uang, bantuan atau bahkan sanksi.

Saya sungguh menikmati buku ini, bahkan beberapa kali saya merinding ketika membaca buku ini. Rupanya masih ada satu kejadian dimana kapitalisme egoistik global yang biasanya memangsa negara berkembang bisa dipadamkan oleh seorang pejabat senior di Republik Indonesia. Terima kasih Ibu Siti Fadilah Supari atas perjuangannya! (sumber artikel) http://portalhi.web.id/?p=96

Berikut adalah kutipan dari berbagai pihak dan media terhadap buku dan perjuangan yang dilakukan oleh Siti Fadilah :

“Keberhasilan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mereformasi WHO adalah contoh sangat bagus keberhasilan perjuangan berdiplomasi kelas dunia secara modern.” Prof. Dr. Juwono Soedarsono, Menteri Pertahanan Indonesia.

“For the sake of basic human interests, the Indonesian government declares that genomic data on bird flu viruses can be accessed bu anyone”. With those words, spoken on August, 3rd, Siti Fadilah Supari started a revolution that could yet save the world from the ravages of a pandemic disease. That is because Indonesia’s health minister has chosen a weapon that may prove more useful than todays best vaccines in tackling such emerging threats as avian flu: transparency. The Economist, London (UK), August 10th, 2006 (sumber) http://id.wikipedia.org/wiki/Saatnya_Dunia_Berubah!_Tangan_Tuhan_di_Balik_Virus_Flu_Burung

Apa yang dikhawatirkan Oleh Menkes lama?

https://serbasejarah.files.wordpress.com/2009/10/sitifadilah.jpg?w=309&h=246
sitifadilah

Ceritanya bermula dari paksaan WHO terhadap Indonesia agar mengirimkan virus flu burung H5N1 strain Indonesia yang melanda negeri ini dua tahun lalu ke WHO Collaborating Center (CC) untuk dilakukan risk assesement, diagnosis, dan kemudian dibuatkan seed virus. Entah bagaimana caranya, virus asal Indonesia itu berpindah tangan ke Medimmune dan diolah menjadi seed virus.

Hebatnya, seed virus ini diakui sebagai miliknya karena diolah dengan teknologi yang sudah mereka patenkan. Indonesia, yang memiliki virusnya tidak punya hak apa-apa. Padahal, dengan seed virus inilah perusahaan swasta itu membuat vaksin yang dijual ke seluruh dunia dengan harga mahal.

Bagi Siti Fadilah, hal ini aneh. Yang memiliki teknologi mendapatkan hak amat banyak. Sebaliknya, yang memiliki virus tidak dapat apa-apa. “Sehebat apapun teknologi Medimmune, jika ditempelkan di jidatnya kan tidak akan menghasilkan seed virus H5N1 strain Indonesia,” kata lulusan kedokteran Universitas Gadjah Mada yang juga lulus program doktor di Universitas Indonesia itu dalam bukunya yang berjudul Saatnya Dunia Berubah – Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung

Siti Fadilah melihat ketidakadilan itu – yang ternyata sudah berlangsung selama 60 (enam puluh) tahun dilakukan oleh WHO. Tergeraklah nuraninya. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang Menteri Kesehatan dari negara bukan super power. Namun, ia berpikir dan bergerak cepat. Nalurinya mengatakan, kalau bahwa pemaksaan pengiriman virus ke WHO adalah salah satu kunci lingkaran setan.

Maka kalau ia enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi. Intuisinya benar. Dunia bereaksi. Negara barat – terutama pemerintah dari negara penghasil vaksin – geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke seluruh dunia dan terjadi pandemi.(sumber) http://sudutpandang.com/2008/05/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/

Indonesia dan WHO telah menjalin kesepakatan tentang pengiriman virus dengan cara baru, yang memberikan akses vaksin terhadap negara pengirim virus. Siti Fadillah Supari berharap Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih, tidak mengubah kesepakatan itu.

“Saya khawatir kalau policy tentang virus yang ditandatangani WHO. Jangan sampai diubah!” kata Siti di rumah dinasnya, Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2009).

Dikatakan Siti, persoalan virus sangat penting karena menyangkut ketahanan nasional. Dia berharap penggantinya mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi.

“Saya kira dia yang bisa mengerti. Saya harap dia punya jiwa nasionalis sehingga bisa meneruskan apa-apa yang bisa dicapai di WHO,” kata perempuan asal Solo, Jawa Tengah itu.

Jika ternyata tidak? “Saya akan berteriak. Saya harap semua ikut mengawal,” pungkasnya. (sumber) http://www.detiknews.com/read/2009/10/21/235146/1226031/10/siti-harap-menkes-baru-pertahankan-policy-virus-indonesia-di-who

Catatan : Sepertinya memang terlalu dini untuk menilai kemana arah esbeye jilid dua hanya saja ada kata kunci yang dikhawatirkan oleh Siti Fadillah Supari tentang WHO, Amerika Serikat dengan NAMRU-2 dan Virus. Kenapa pejabat eselon II yang jadi Menteri Kesehatan? Kenapa Endang Rahayu Setyaningsih baru muncul saat detik-detik menjelang pengumuman KIB jilid 2? TITIPAN SIAPAKAH BELIAU ???

LAYAK DI KETAHUI !! Purnomo Yusgiantoro dan “Pertahanan” Freeport


http://kokiers.com/articles/930/kontroversi-menkes-namru-2-dan-imunisasi
Kontroversi Menkes, Namru 2, dan Imunisasi
Kinanthi – Jakarta
Monday, 26 October 2009

Pos Kesehatan di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua, akhirnya dipimpin oleh seseorang yang mengagetkan banyak pihak, terutama pihak-pihak yang tidak menyetujui keberadaan Namru 2 di Indonesia. Endang Rahayu Sedyaningsih resmi menggantikan Siti Fadilah Supari menjadi Menteri Kesehatan, sekalipun dengan sedikit polemik akibat Endang tidak menjalani medical check up seperti yang dipersyaratkan untuk semua calon menteri.

Kasus Namru 2 ini sudah lama menghangat, sejak beberapa tahun yang lalu, terutama sejak tudingan Menkes Siti Fadilah Supari bahwa AS ‘merampok’ sampel virus-virus penyakit menular Indonesia untuk kepentingan AS dan pabrik-pabrik pembuat farmasi AS. Termasuk yang dituduh terkait pembawa sampel itu adalah Endang Rahayu Sedyaningsih , sang Menkes yang baru. Meski, Endang tentu saja mengelak atas nama penelitian.

Fakta mengenai Namru 2 bisa dilihat disini,

http://jakarta.usembassy.gov/bhs/siaran-pers/April08/FactSheetNamru2.html

Waktu menjelajah yang pertama (di kantor), saya sempat menemukan MoM dari kerjasama Namru 2 dengan Depkes, sayang setelah saya ulang telusuri google di rumah kok tidak ketemu. Maaf, maklum amatiran yang sok gaya pengen nulis.

Yang saya ingat hanya satu pasal mengenai para personil asing di Namru 2 mempunyai kekebalan diplomatik, dan semua fasilitas untuk personel Namru 2 disediakan oleh Indonesia.

Saya tidak akan menulis detail tentang Namru 2 ini, saya ingin mengaitkan saja dengan imunisasi. Yup, imunisasi, siapa yang tidak kenal dengan imunisasi? Pasti saat kita bayi, ibu kita membawa kita ke posyandu atau puskesmas untuk diimunisasi. Seperti dalam lagu yang teramat sangat kita kenal, “Aku Anak Sehat” hehe.

Seperti diketahui, Namru 2 ini sudah eksis di Indonesia sejak tahun 1968, dengan tujuan meneliti penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah di Asia Tenggara. Malaria, demam berdarah, diare, TBC, termasuk flu burung. Sayangnya, penelitian ini cenderung tertutup dan akses informasi sangat dibatasi, padahal kantor Namru 2 ini berdekatan dengan kantor Depkes di Jl. Percetakan, masih satu area.

Entah bagaimana skema laporan dari kerjasama ini, apa yang diberikan kepada Indonesia, apa yang diambil oleh AS dan militernya, tidak pernah jelas. Hal ini pulalah yang membuat Menkes Siti Fadilah meradang, dan akhirnya terbit Surat Edaran dari Depkes mengenai berhentinya kerjasama tersebut terhitung sejak Januari 2006. Yang anehnya, baru-baru ini di Detik diberitakan baru resmi berhenti per 16 Oktober 2009.

Para peneliti kabarnya kebanyakan orang Indonesia, mereka juga yang bertugas mengambil sampel-sampel virus dari rakyat Indonesia, mulai dari Papua, Aceh (setelah tsunami masih ada penelitian), Yogya (juga setelah gempa), Kalimantan, Jakarta, dan wilayah-wilayah lain. Membaca sebuah blog seseorang yang mengaku pernah masuk ke Namru 2 dan menganggap Namru 2 sangat welcome, dalam hemat saya, itu karena si penulis adalah peneliti dan sedang membutuhkan peralatan-peralatan canggih di Namru 2 yang berharga milyaran. Namun, sang penulis sendiri mengakui memang semua hasil penelitian tersebut dilarang untuk dipublikasikan. Jadi?

Dalam hemat saya, yang sepanjang pengetahuan saya, semua penyakit yang diakibatkan oleh virus belum ditemukan obatnya dan tidak akan sembuh dengan antibiotik, jika Namru 2 telah berhasil melakukan penelitian mengenai penyakit-penyakit di Indonesia yang disebabkan oleh virus dan mengakibatkan kematian, seharusnya ada laporan untuk kedua belah pihak, termasuk ke WHO karena dalam fakta tentang Namru 2 mengklaim penelitian itu juga untuk komunitas kesehatan internasional. Termasuk didalamnya adalah penemuan untuk vaksin-vaksinnya.

Tidak berlebihan bila Menkes Siti Fadilah marah dan meminta kembali strain virus flu burung milik Indonesia yang telah sampai ke AS lewat peneliti-peneliti Namru 2, karena pada kenyataannya Indonesia pun harus membuat sendiri vaksin flu burung agar bisa diberikan kepada rakyat Indonesia dan menekan angka kematian akibat virus flu burung.

Kita tahu betapa mahalnya harga vaksin, bahkan yang diwajibkan pun masih mahal. Ditambah, kesadaran rakyat Indonesia untuk memberikan perlindungan dini kepada anak-anak dari penyakit-penyakit berbahaya dan yang pernah menjadi pandemi di Indonesia sangat rendah. Betapa berat sebenarnya tugas Depkes di Indonesia, lepas dari peran Depkes sendiri yang seolah malah membodohi rakyat.

Mengapa pula bentuk kerjasama dengan Namru 2 tidak bisa dibuat aplikasinya lebih lanjut yang lebih mudah dijalankan oleh masyarakat? Memberikan informasi yang benar juga sudah bentuk sebuah kerjasama. Mengapa pula jika Namru 2 mengambil sampel-sampel virus dari Indonesia, tidak memberikan vaksin-vaksinnya kembali ke Indonesia secara cuma-cuma? Toh, Indonesia lewat para peneliti di Namru 2, termasuk para penderita ketika diambil sampelnya, memberikannya secara cuma-cuma? Inikah harga yang harus dibayar Indonesia untuk ‘nebengnya’ para peneliti menggunakan alat-alat di Namru 2?

Ya, virusnya dari kita, nanti ketika kita ingin melindungi anak kita dengan vaksinasi, eh vaksinnya kita harus membayar mahal karena dibeli dari LN.

Sejak mengetahui mengenai keberadaan Namru 2 ini sudah sangat lama di Indonesia, saya merasa keberadaannya tak sebanding dengan perbaikan kesehatan rakyat Indonesia. Masih banyak orang tua takut memvaksin anaknya, masih banyak orang tua yang panik anaknya diare, masih banyak orang tua yang iya-iya saja anaknya diklaim radang paru-paru atau flek yang bahasa lugasnya adalah TBC.

Entah, seharusnya para peneliti adalah orang-orang yang berjiwa baik, melakukan tugasnya untuk kebaikan umat, tidakkah mereka tergerak untuk memberikan hasil jerih mereka untuk kebaikan lingkungannya? Kemana para peneliti Indonesia yang mengaku telah berada di Namru 2 tersebut? Mana sumbangsih mereka untuk perbaikan kesehatan rakyat Indonesia? Atau mereka telah sedemikian silau dengan iming-iming beasiswa sekolah di AS dan bekerja di perusahaan-perusahaan farmasi AS? Entah, atau mereka telah tersebar di laboratorium-laboratorium milik AS atas nama PBB untuk kepentingan AS? Siapa yang tahu?

Yang jelas, jika Menkes Endang akan melanjutkan proyek dengan Namru 2, meski dengan nama berbeda dan seolah tanpa keterlibatan militer AS, mbok yao kerjasama itu lebih transparan, lebih mengikat dan memberikan keuntungan untuk Indonesia, dalam peningkatan kesehatan rakyat Indonesia. Jangan malah sebaliknya. Kasihan anak cucu kita kelak, jika mereka tiba-tiba dibombardir dengan virus-virus baru yang sebenarnya asalnya dari nenek moyang mereka sendiri, tetapi mereka tidak pernah belajar melawannya sejak dini.

Salam,
Kinanthi

(Mohon maaf bila tulisan ini kurang informatif dan kurang logis, mohon koreksinya ya, jika ada yang salah. Trims)

Bahan bacaan:
http://intelindonesia.blogspot.com/2008/04/namru-2.html
http://afie.staff.uns.ac.id/2009/08/09/berkunjung-ke-namru2-jakarta-pusat/
http://jakarta.usembassy.gov/bhs/siaran-pers/April08/FactSheetNamru2.html
detik.com
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/10/22/82894/Misteri-Ibu-Endang-dan-Namru-2


https://konspirasizionis.wordpress.com/2010/09/06/perjuangan-ibu-siti-fadilah-supari-dalam-melawan-konspirasi-usa-vaksin-flu-burung-di-indonesia/#more-133
Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari, dalam melawan konspirasi USA (Vaksin Flu Burung di-Indonesia)
06/09/2010

fadilah-supariMenteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian Influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung. Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. “Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon (silahkan saja). Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menindas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. “Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. “Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. “Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.

= Mengubah Kebijakan =

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia. Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005. Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi” tulis The Economist. The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam. Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung. Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Source: Jendela Indonesia


http://www.tribunnews.com/nasional/2012/05/02/detik-detik-meninggalnya-menkes-endang-rahayu
Menkes Meninggal Dunia
Detik-detik Meninggalnya Menkes Endang Rahayu
Rabu, 2 Mei 2012 13:36 WIB
Editor: Willy Widianto


Menkes Endang Sedyaningsih, tribunnews.com/herudin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 11.41 WIb, Rabu(2/5/2012) karena penyakit kanker paru. Sebelum wafat Menkes berjuang melawan penyakitnya, tidak sebentar Menkes bertahan dalam sakitnya.

Awal terdeteksi penyakit itu adalah sewaktu Menkes menjalani “check-up” (pemeriksaan) kesehatan rutin pada bulan Oktober 2010.

Dari pemeriksaan lebih lanjut itulah ditemukan adanya kanker di tubuh Menkes.Setelah menerima berita tersebut, Menkes mengaku telah melaporkan kondisinya ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menerima dukungan untuk berobat.

Menkes pun mengupayakan pengobatan di RSPAD, RS Gading Pluit dan rumah sakit di luar negeri. Ketika itu, Menkes menyatakan tidak ada kelonggaran yang diberikan dalam menjalankan tugas kementerian meskipun ia menderita kanker yang menyerang paru-parunya itu.

Hampir dua tahun lebih Menkes mengidap kanker paru, akhirnya ia harus dirawat secara intensif di RSCM pada Selasa(17/4/2012).

Direktur Utama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Profesor Akmal Taher saat itu membenarkan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih dan saat ini tengah dirawat. Namun Akmal mengaku tak tahu persis sejak kapan Endang Rahayu menjalani perawatan.

“Sejak kapannya saya tidak tahu. Yang jelas, beliau sekarang beristirahat (di RSCM),” ujarnya.

Lama dirawat di RSCM, Menkes Endang pun meminta mundur dari jabatan menteri. Presiden SBY pun ketika itu sempat menjenguk dan mengumumkan pengunduran diri Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih. Rupanya, Endang sudah merasakan bahwa usianya tidak lama ketika itu.

Hampir dua minggu Menkes dirawat di RSCM namun tidak kunjung membaik, bahkan tim dokter RSCM pada Selasa(1/5/2012) menyatakan kondisi Menkes terus menurun. Seharian penuh keluarga saat itu langsung menjenguk ke RSCM.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, yang kemarin malam menjenguk Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, di RSCM Kencana mengatakan berdasarkan keterangan suami Endang, Reanny Mamahit, Dahlan mengatakan Mantan Menkes tersebut telah koma, sejak Selasa pagi.

“Beliau, menurut suaminya, sudah koma sejak kemarin pagi, habis subuh,” demikian Dahlan Iskan mengatakan kepada Tribun, Jakarta, Rabu (2/5/2012).

Akhirnya, tak kuasa menahan penyakitnya, Menkes Endang akhirnya dipanggil sang khalik tepat pada pukul 11.44 WIB.

Kesimpulan hasil pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan tim dokter RSCM menemukan Menkes memerlukan pengobatan berupa radioterapi atau radiasi secara serial. Selain radioterapi, dilakukan pula pemantauan kondisi darah dan metabolisme untuk meningkatkan stamina atau kondisi tubuh.

“Kita sudah melakukan yang terbaik untuk ibu, tapi Tuhan berkehendak lain,” kata Dirut RSCM, Akmal Taher, Rabu(2/5/2012).

Selamat Jalan bu Menkes.


https://www.arrahmah.com/2012/05/02/menkes-meninggal-dunia-sisakan-kontroversi-namru-2/
Menkes meninggal dunia sisakan Kontroversi NAMRU-2
Bilal, Rabu, 10 Jumadil Akhir 1433 H / 2 Mei 2012 15:25


Ilustrasi – Menkes meninggal dunia sisakan Kontroversi NAMRU-2
Follow @arrahmah

JAKARTA (Arrahmah.com) – Setelah berjuang melawan kanker paru-paru stadium 4 akhirnya menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 11.50 WIB di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Rabu, 2 Mei 2012.

Kematian Endang selain mengejutkan juga menyisakan tanda tanya, seputar keterlibatannya dahulu pada proyek Namru-2. Bagaimana perjalanan kontroversi tersebut? Mari kita simak.

Endang Rahayu Sedyaningsih nama yang asing ditengah publik ketika itu. Namun setelah ia ditetapkan sebagai Menteri Kesehatan pada Oktober 2009 yang lalu oleh Presiden RI Susilo bambang Yudhoyono,masyarakat mulai mengenal sosok wanita tersebut.

Tak hanya mulai dikenal oleh publik sebagai Menkes, Endang Rahayu pun mulai dikenal dengan kontroversinya yang aktif di dalam proyek Naval Medical Research Unit No 2 (Namru 2). Proyek yang pernah ditentang keras menteri kesehatan sebelumnya, yaitu Siti Fadilah Supari.

Ketika itu, Menkes lama Siti Fadilah Supari menyampaikan keterkejutannya. Ia tersentak karena Endang dipilih SBY sebagai Menkes baru. “Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara dengan semua pegawai Depkes,” ujar Siti Fadilah.

Naval Medical Research Unit 2 (Namru 2) adalah unit kesehatan angkatan laut Amerika yang berada di Indonesia untuk mengadakan berbagai penelitian mengenai penyakit menular. Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Saat itu, Siti Fadilah Supari telah melarang semua rumah sakit di Indonesia untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Karena, kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Saatnya Dunia Berubah’, Siti Fadilah Supari menyoroti WHO dan negara asing lainnya memanfaatkan sampel virus flu burung Indonesia untuk dibuat vaksin, yang selanjutnya dijual ke Indonesia dengan harga mahal. Siti Fadilah Supari juga mengaku sempat memutasi Endang. Alasannya, “Ibu Endang pernah membawa virus flu burung tanpa sepengetahuan kami.” Akhirnya Endang duduk sebagai eselon II tanpa jabatan.

Banyak pihak mencurigai keberadaan Namru menjadi sarana kegiatan intelijen AS dengan berkedok riset. Pada 16 Oktober 2009, pemerintah secara resmi menghentikan kerjasama dengan Naval Medical Research Unit 2 (Namru). Penghentian kerjasama ditandai dengan sebuah surat.

“Dengan hormat, pemerintah Republik Indonesia menyatakan pemberhentian kerjasama,” demikian isi surat Siti Fadilah kepada Duta Besar Amerika Serikat, Cameron Hume.

Bahkan ketika itu, Munarman pernah menyatakan NAMRU-2 sebagai lab intelijen berkedok medis sehingga layak ditutup, Munarman juga menyebut Jubir Presiden Dino Patti Djalal sebagai agen AS.

“Dino Patti Djalal patut dipertanyakan karena dia mendukung kerjasama laboratorium Indonesia-AS. Seorang jubir presiden menjadi intelijen asing,” ujar Munarman dalam jumpa pers di kantor Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C), Jl Kramat Lontar, Jakarta Pusat, Rabu (23/4/2008).

Munarman berpendapat, Presiden SBY tentunya juga telah tahu NAMRU-2 melakukan kegiatan intelijen. “Tapi dia lagi bingung. Menurut saya sih nggak usah bingung, rakyat pasti mendukung (NAMRU) untuk ditutup,” ujar eks Ketua YLBHI ini.

Menanggapi isu tersebut kala itu, Endang bersikap diplomatis. Dia mengatakan akan tetap bekerjasama dengan Amerika untuk bidang kesehatan. “Tapi bukan dengan Namru. Kami akan lihat nanti bentuk apa yang sesuai,” kata Endang dalam jumpa pers, Kamis 22 Oktober 2009.

Namru- 2 kini pun berganti nama menjadi Indonesia United States Center for Medical Research (IUC). Kerja sama Indonesia-Amerika, menurut dia, luas, salah satunya adalah laboratorium biomedis untuk pengembangan vaksin, alat diagnostik, identifikasi virus, bakteri, dan lain-lain.

Ia juga membantah informasi yang mengatakan bahwa dia menjual specimen virus flu burung ke luar negeri. “Apakah saya menjual specimen, tidak benar. Saya tidak menjual specimen,” kata Endang

Kini, kebenaran kontroversi tersebut, dibawa pergi bersama kepergian Menkes Endang rahayu, apakah Namru-2 benar seperti yang dituduhkan dan keterlibantan Menkes Endang di dalamnya, maka biarlah sejarah yang akan mengungkapkannya. Wallahualam bishshowab. (bilal/arrahmah.com)


http://www.kompasiana.com/ferlyqc/sby-bertanggung-jawab-atas-meninggalnya-menkes-endang-rahayu_55103f8da33311c237ba7f15
SBY “Bertanggung Jawab” Atas Meninggalnya Menkes Endang Rahayu
Ferly Norman
07 Mei 2012 02:05:18 Diperbarui: 25 Juni 2015 05:37:04

http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/5580039924a9d5b7558b4567.jpeg?t=o&v=760

Tidak terasa telah 5 hari berlalu wafatnya Almarhumah Mantan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih pada hari Rabu (2/5) minggu yang lalu, secara umum Pers memberitakan secara positif sepak terjang Menkes selama ia menjabat menjadi Menteri di Kabinet Indonesia Jilid II.

Dari berbagai kalangan yang dimintai tanggapan oleh media, rata-rata memberikan apresiasi yang tinggi terhadap sikap/kepribadian serta kepemimpinan dr. Endang selama ini. Mulai dari koleganya di Kabinet, Politisi DPR, LSM sampai anak buahnya di Kemenkes, semua merasa kehilangan sosok wanita yang tangguh ini.

Dari sekian wawancara dan artikel yang penulis ikuti sejak kontroversi pengangkatan beliau diangkat jadi Menteri hingga wafat, penulis menyimpulkan Presiden secara tidak langsung “bertanggung jawab” atas kematian dr.Endang oleh kanker paru. Setidaknya Presiden tidak memberikan almarhumah waktu yang cukup untuk berobat secara intensif untuk penyembuhan penyakit akutnya.

Saya begitu terkejut saat mendengarkan wawancara Sindo Radio dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Agum Gumelar pada pagi hari saat Almarhumah di makamkan. Menteri Linda secara gamblang menyebutkan bahwa saat pertama kali didiagnosa terkena kanker paru sekitar medio Oktober 2010, saat itu penyakit almarhumah telah mencapai Stadium 3!

Dari berbagai sumber yang saya telaah, untuk penyakit seperti kanker paru, stadium 3 ini sudah terbilang sudah dalam tahap yang kritis. Dengan terkena kanker paru stadium 3 dan 4, persentase sembuh penderita (survival) sangatlah kecil dibandingkan jika terkena kanker jenis yang lain. Jikalau penderita bertahan, rata-rata mereka yang terkena kanker paru di stadium 3 dan 4 hanya sanggup bertahan hidup sekitar 9 bulan saja.

Intinya disini adalah mengapa Presiden SBY yang tinggi intelektualitasnya dan mempunyai Tim Dokter Kepresidenan lengkap, “tega” mempekerjakan seorang penderita kanker paru yang divonis stadium 3 dan masih menjabat Menkes RI hingga 18 bulan lamanya?? Inilah pertanyaan yang mengusik penulis hingga sekarang.

SBY sepatutnya memberhentikan atau setidaknya men-nonaktifkan sementara Almarhumah dari jabatannya, untuk memberikan beliau kesempatan berobat secara intensif melawan penyakitnya. Tentu saja pemerintah menanggung biaya beliau berobat baik jika diberhentikan atau hanya di non-aktifkan saja.

Saya teringat dengan non-aktifnya sementara Lee Hsien Long (anak pendiri Singapura Lee Kuan Yew yang sekarang menjadi PM Singapura) dari jabatan Menteri Perdagangan pada medio 1992 lalu, saat itu Lee muda mundur sementara karena terserang penyakit kanker getah bening dan dirawat secara intensif oleh selama setahun oleh dokter ahli dari Singapura dan Cina. Lee muda akhirnya berhasil menjalani pengobatan dan sembuh total, sekarang ia telah menjadi PM Singapura sejak beberapa tahun lalu sejak menerima estafet kepemimpinan dari Goh Chok Tong (PM yang menggantikan Lee senior dahulu).

Seharusnya langkah ini yang seharusnya ditempuh oleh SBY, bukannya tetap membebankan dr.Endang menjabat Menkes dengan segudang kesibukan dan tanggung-jawabnya. Malah dihari pemakaman Almarhumah, SBY dengan bangga menceritakan ketika almarhumah mendampinginya melakukan Safari Ramadhan 2011 ke berbagai tempat di Pulau Jawa, dr.Endang tetap mendampingi ia menyapa rakyat selama berhari-hari tanpa jeda.

“Wujud dari tanggung jawabnya yang tinggi tetap ditunjukkan almarhumah hingga menjelang akhir hayatnya. Meskipun satu tahun terakhir ini almarhumah telah berjuang untuk mengatasi penyakitnya, namun sama sekali tidak mengurangi semangat, ketekunan, dan kerja kerasnya, termasuk melakukan kunjungan ke daerah-daerah dan bertemu rakyat,” kata Presiden (Kompas.Com,3/5/12)

http://assets.kompasiana.com/statics/crawl/5580039924a9d5b7558b4568.jpeg?t=o&v=700
1336356285103818230
SBY Saat Pemakaman (Dok:TribunNews)

Terbetik dari sebuah sumber, Almarhumah sebenarnya telah mengajukan pengunduran diri sebelumnya, pengajuan pengunduran diri saat Presiden menjenguknya di RSCM adalah kali keduanya. Jika itu yang terjadi mengapa Presiden tetap mempertahankannya?

Ada beberapa analisa penulis mengapa SBY tetap mempertahankan dr.Endang sebagai Menkes sejak terdiagnosa terkena kanker paru (oktober 2010) hingga akhir hidupnya:

1.Presiden sepertinya gamang memberhentikan Menkes Endang, sebab ia merasa malu hati menolak kandidat pertama Menkes saat itu Nila Djuwita Moeloek dengan alasan tidak resmi saat itu akibat gagal di tes kesehatan. Ketika itu pemberitaan siapa mengisi jabatan Menkes memenuhi headline pemberitaan media-media di Indonesia berikut kontroversinya. Pertama Pers menduga kuat dr.Nila akan menjadi Menkes berikutnya sebab ialah yang dipanggil ke Cikeas pertama kalinya dan mengikuti tes kesehatan waktu itu. Tetapi pada menit-menit terakhit dr.Endang yang mengisi pos Menkes di kabinet. Tercatat hanya dr.Nila seorang yang dipanggil SBY ke Cikeas tetapi gagal menjadi Menteri di Kabinet.

2.Tahun 2010 tercatat merupakan tahun hura-hara politik yang besar saat itu, dimana isu Bank Century merupakan isu paling liar bagi Presiden dan Partai Demokrat. Selain itu pengangkatan dr.Endang sangatlah kontroversi saat itu, mungkin SBY gamang jika memberhentikan dr.Endang akan menambah amunisi oposisi menggempur kedudukan politiknya yang lemah saat itu.

Apapun alasannya, adalah tidak bijaksananya seorang Presiden seperti SBY tidak memberikan kesempatan berobat bagi dr.Endang secara intensif, SBY tercatat hanya memberikan paruh waktu bagi dr.Endang dan mengangkat seorang Wamen untuk membantunya. Padahal Wamen bukanlah anggota kabinet dan mempunyai wewenang yang terbatas, jadi tetap saja urusan-urusan strategis diambil oleh Menterinya.

Memang sejarah mencatat, dr.Endang bukanlah seorang penderita kanker yang cengeng, tetapi beliau selalu tetap tegar dan berfikiran positif atas penyakitnya tersebut. Tapi adalah baiknya Presiden memberikan dr.Endang berobat untuk kesehatan pribadinya tanpa memikirkan tanggungjawabnya sebagai Menteri Kesehatan. Walaupun sekecil apapun peluang untuk sembuh dari kanker paru stadium 3, tetapi dr.Endang berhak dan layak dirawat dengan maksimal, terutama di bulan-bulan pertama ia di diagnosa.

Sekarang nasi sudah jadi bubur….

Semoga ketabahan dan ketegarannya menghadapi penyakit sambil tetap menyelesaikan tugas mulianya sebagai Menkes mengantarkannya ke tempat yang terbaik di sisi Allah dan diterima amal ibadahnya serta diampunkan semua dosanya.

Amien…………………………


http://bersama14.blogspot.co.id/2013/03/misteri-kematian-ibu-menteri-kesehatan.html
Misteri Kematian Ibu Menteri kesehatan RI
Rabu, 20 Maret 2013 16.08

Ada apa dengan Laboratorium biologi militer AS di Jakarta?

2 Mei 2012 yang lalu, Ibu Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, pada pukul 11.41 WIB. Secara resmi, ibu Menkes, meninggal dunia karena penyakit kanker paru-paru.

Namun ada yang janggal dengan penyakit ibu Menkes RI tersebut. Sebab dalam jumpa pers, pada 2011 Endang mengaku: “Penyakit kanker paru-paru tidak terdeteksi saat melakukan cek kesehatan calon anggota Kabinet Indonesia Bersatu II. Satu tahun setelah uji kesehatan itu, saya melakukan medical cek up, dan baru terdeteksi adanya penyakit kanker paru-paru”.

Endang Rahayu Sedyaningsih diangkat menjadi Menteri Kesehatan RI pada Oktober 2009, menggantikan Siti Fadilah Supari – Menteri Kesehatan RI yang menentang keberadaan Laboratorium biologi militer AS, Namru 2 (Naval Medical Research Unit No.2). Setelah tidak menjadi Menkes, Siti Fadilah di dakwah sebagai koruptor.

Namru 2, yang bermarkas di dalam komplek Badan Penelitan & Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, di jalan Percetakan Negara, Salemba, Jakarta, sempat dicurigai dan di tentang keras oleh Siti Fadilah Supari perihal kasus sample virus flu burung yang diam-diam di bawa oleh AS ke luar negeri. Bahkan pihak Namru 2 menolak sidak yang dilakukan oleh Ibu Menkes RI, pada waktu itu.

Dengan diangkatnya Endang sebagai Menteri Kesehatan RI yang baru, akhirnya kontroversi Namru 2 tutup buku pada 23 Oktober 2009. Namun kerjasama dengan AS tetap berlanjut. Namru 2 berganti nama menjadi Indonesia -United States Center For Medical Research (IUC). Dan tetap berkonsentrasi melakukan penelitian biomedis untuk pengembangan vaksin, dianostik, identifikasi virus, bakteri dan lain-lain. Endang berjanji akan menjadi Menkes yang pro rakyat.

Endang mengaku berjuang melawan kanker paru-paru sejak Oktober 2010, setahun setelah dirinya menjadi Menkes RI. Dan sempat berobat ke luar negeri, di Guangzhou, China, pada Oktober hingga Nopember 2010. Sejak jumpa pers pada 2011, hiruk pikuk tentang penyakit kanker paru-paru ibu Menkes pun hilang, tenggelam dengan adanya rutinitas Endang seperti biasa.

Hingga pada 17 April 2012, Endang dikabarkan cuti perawatan medis di RSCM. Dan pada 26 April 2012 usai menjenguk Endang, SBY menyetujui pengunduran diri Endang, yang kondisi kesehatannya naik turun bahkan sempat kritis beberapa hari. Akhirnya pada 2 Mei 2012, pukul 11.41 WIB, Endang meninggal dunia.

Munculnya Penyakit Misterius Ibu Menkes RI

2,5 tahun setelah kontroversi Namru 2, Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih meninggal dunia secara “misterius”. Ada apa dengan Laboratorium biologi militer AS di Jakarta?

Seorang warga negara asing yang mengaku professor kesehatan dan pernah bekerja di Namru – Mr.Bule, beliau tidak mau disebutkan namanya – menuturkan kepada Pelita Online (26/10/2012) bahwa: “Bisa saja ibu Endang (Menkes RI waktu itu) tak sengaja menghirup virus paru-paru ganas yang jenisnya belum banyak diketahui banyak orang (para ahli medis). Mungkin saat dia berkunjung ke Namru 2. Karena waktu itu memang Namru menjadi sorotan publik di Indonesia”.

“Bila anda bekerja sebagai ilmuwan yang meneliti virus-virus berbahaya, maka anda akan rentan sekali terkena dampak buruknya. Perlu super hati-hati bila kita berkunjung ke Laboratorium biomedis. Sedikit saja kesalahan, fatal akibatnya, dan nyawa anda taruhannya. Maka tak heran ilmuwan mendapat gaji besar,” ujarnya.

Mr.Bule mengaku pernah bekerja sebagai ilmuwan beberapa tahun sebelum munculnya Kontroversi Namru 2. Insiden biomedis – kecelakaan karena terkena virus atau juga bakteri, sering kali tanpa di sengaja, dan murni kecelakaan – bukan perbuatan kriminal.

Sulit membuktikan, kapan dan bagaimana “insiden biomedis” itu terjadi. Ini tidak seperti kasus meracuni orang – seperti Munir misalnya. Di Amerika Serikat saja, kasus kematian misterius yang disebabkan oleh “insiden biomedis” kerap kali terjadi, dan pemerintah AS sering tutup mulut.

“Baru Pelita Online saja media massa yang berani mengungkap misteri ini, yang lain tidak! Fakta boleh di ungkap karena itu kebenaran, dan itu wajib! Saya segera akan pergi dari Indonesia. Tidak ada lagi urusan saya di sini, hanya sebagai touris. Anda bisa temui nanti dokumen rahasia ini, mungkin 20 atau 40 tahun dari sekarang, sesuai konstitusi Negara kami, anda berhak tahu,” tegas Mr.Bule.
(pelitaonline.com)


http://juliesartoni.blogspot.co.id/2013/08/namru-ii-dan-perjuangan-ibu-siti.html
NAMRU II dan Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari melawan konspirasi USA (Vaksin Flu Burung di-Indonesia)
Julie Sartoni
Agustus 2013

Mantan Menteri Kesehatan terpilih Endang Rahayu Setyaningsih adalah staf Departemen Kesehatan, yang paling ‘dekat’ dengan Namru (The US Naval Medical Reseach Unit Two) atau Unit 2 Pelayanan Medis Angkatan Laut.

Endang adalah seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1979, dan memperoleh gelar master dan dokter dari Harvard School of Public Health, Boston, masing-masing tahun 1992 dan 1997. Ia menjalani karier di bidang kesehatan dengan menjadi dokter puskesmas di NTT dan pernah menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Ia juga pernah ditugaskan di Kanwil Departemen Kesehatan DKI Jakarta menjadi seorang peneliti, dan pernah menjabat Kepala Litbang Biomedik dan Farmasi Departemen Kesehatan.


Ibu Menkes Baru : Endang Rahayu Setyaningsih
Mantan Menkes : Alm.Endang Rahayu Setyaningsih

“Dia (Endang) adalah mantan pegawai Namru. Dia memang sekarang ini tidak mempunyai jabatan khusus sebagai peneliti biasa,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam perbincangan dengan TvOne, Rabu, 21 Oktober 2009.

Dipilihnya Endang Rahayu Sedyaningsih sebagai menteri kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II membuat kaget Siti Fadilah Supari. Siti yang masih menjabat Menkes hingga pelantikan menteri baru Kamis besok, tidak habis pikir, kenapa Endang yang terpilih.

“Semua juga kaget, ternyata, kok bisa dia. Dia itu eselon II dan tidak punya jabatan,” kata Siti dalam perbincangan dengan tvOne setelah Yudhoyono mengumumkan susunan KIB II, Rabu 21 Oktober 2009. Menurut Siti Fadilah, Endang memang lulusan dari Amerika Serikat. Siti melanjutkan, Endang dikenal sebagai staf Departemen Kesehatan yang ‘dekat’ dengan Namru. “Ibu Endang ini adalah orang yang paling dekat dengan Namru diantara dengan semua pegawai Depkes,” ujar Siti Fadilah.

Meski pun bekerja di Depkes, kata dia, pekerjaan sehari-hari Endang hanya di laboratorium. “Tapi disertasinya di masyarakat. Dia tidak punya pengalaman di puskermas. Tapi saya melihat kecerdasannya,” kata Siti. Maka itu, Siti Fadilah berharap untuk periode mendatang, Endang Setyaningsih dapat mengikuti kebijakan yang sudah diambil sebelumnya.

“Dimana Namru, sudah secara resmi sudah tutup. dan saya mohon, ini jangan dibuka lagi,” ujar dia. (sumber berita) http://politik.vivanews.com/

Munculnya nama Endang Rahayu Sedyaningsih di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu II, Rabu (21/10), memunculkan tudingan dia terlalu pro Amerika Serikat. Tetapi hal itu dibantah oleh mantan staf peneliti Namru 2 itu. Endang mengakui bahwa semasa Menkes Siti Fadhilah Supari, dia sempat diskors karena dianggap berpihak kepada AS dalam soal virus flu burung.

“Bagi saya ini persoalan yang tidak penting-penting amat. Dan ini wajar kalau atasan tidak senang kemudian menskors bawahannya,” kata Endang dalam wawancara dengan Media Indonesia, Rabu (21/10) malam. (sumber) http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/101565/3/1/Menkes-Bantah-Terlalu-Pro-Amerika-Serikat

Ada apa dengan NAMRU 2?

Dalam Lembar Fakta tentang NAMRU-2 yang ada di situs Kedubes Amerika Serikat dinyatakan bahwa Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU-2) adalah sebuah laboratorium penelitian biomedis yang meneliti penyakit menular demi kepentingan bersama Amerika Serikat, Departemen Kesehatan RI, dan komunitas kesehatan umum internasional. NAMRU-2 didirikan pada tahun 1970 sesuai permintaan Departemen Kesehatan RI.

Kegiatan penelitian bersama ini menitikberatkan pada malaria, penyakit akibat virus seperti demam berdarah, infeksi usus yang mengakibatkan diare dan penyakit menular lainnya termasuk flu burung. Penelitian NAMRU-2 hanya berhubungan dengan penyakit-penyakit tropis yang terjadi secara alamiah.

Laboratorium Namru berada di kompleks Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Kenapa NAMRU bisa bercokol begitu lama di Indonesia???

Apa yang mereka cari di negara kepulauan ini, dan apa manfaat kehadiran mereka bagi Indonesia???

Dan, kenapa lembaga dari Amerika Serikat ini terkesan begitu misterius???

Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab mengenai lembaga riset ini. Dan aku berani memastikan, tak satu pun wartawan di Indonesia memiliki akses ke lembaga ini; malahan mungkin mereka pun tak pernah tahu keberadaan NAMRU.

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Siti Fadilah Supari telah melarang semua rumah sakit di Indonesia untuk mengirimkan sampel virus flu burung ke laboratorium Namru. Sebab, kontrak kerjasama dengan Namru telah berakhir sejak Desember 2005.

Pakar intelijen Laksamana Muda (Purn) Subardo tetap meyakini keberadaan laboratorium medis milik angkatan laut AS, The U.S. Naval Medical Research Unit Two (NAMRU-2) merupakan alat intelijen AS. Hal ini diyakini Subardo berdasarkan penilaiannya selama lebih dari 30 tahun bekerja di bidang intelijen serta pernah menjabat sebagai Kepala Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) tahun 1986-1998.

“Kalau saya pribadi yakin itu ada motif intelijen dari Amerika. Saya kan kerja di bidang intelijen ini sejak Letnan hingga Bintang Dua (laksmana muda). Lebih dari 30 tahun,” kata Subardo di sela-sela Seminar Hari Kesadaran Keamanan Informasi (HKKI) di Fakultas MIPA UGM, Yogyakarta, Jumat (25/4/2008).

Meski meyakini keberadaan NAMRU-2 terkait operasi intelijen milik AS, Subardo, mengaku dirinya tidak lagi mempunyai wewenang menangani persoalan tersebut. Dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah khususnya melalui Badan Intelijen Negara (BIN).

“Saya tidak punya wewenang lagi. Itu urusannya pemerintah dan BIN. Saya hanya mengungkapkan ini agar kita lebih waspada, sebab penyadapan informasi melalui intelijen ada di mana-mana,” tegasnya.

Menurut dia kesadaran akan keamanan informasi di Indonesia sampai saat ini masih cukup lemah. Hal ini terbukti dari laporan Lemsaneg beberapa waktu lalu yang menemukan bukti dari 28 kantor Kedubes Indonesia di Luar Negeri, sebanyak 16 diantaranya telah disadap sehingga harus dilakukan pembersihan dan pembenahan. Kasus ini menurutnya sebagai preseden buruk bagi Indonesia untuk lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan informasi.

“Sekitar 16 kedubes yang disadap di luar negeri. Jelas hal itu sebagai preseden buruk agar kita lebih berhati-hati melakukan pengamanan, khususnya informasi,” imbuhnya. (sumber detiknews) http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/04/tgl/25/time/191541/idnews/929732/idkanal/10

Kontroversi keberadaan Naval Medical Research Unit 2 (Namru-2) di Indonesia rampung sudah. Tercatat sejak 16 Oktober 2009, Namru-2 sudah tidak beroperasi lagi.

“Surat resmi penghentian kerjasama dengan Namru resmi dilayangkan dubes AS di Indonesia tanggal 16 Oktober kemarin. Jadi perjanjian yang diawali 16 Januari 1970 sudah resmi berakhir 16 Oktober kemarin,” ujar mantan Menkes Siti Fadilah Supari kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/10/2009). Siti Fadilah mengatakan dirinya keberadaan Namru-2 mengganggu kedaulatan Indonesia. Sebab, pusat penelitian itu meneliti virus yang dilakukan Angkatan Laut AS.

“Saya tidak akan rela kalau di wilayah yang berdaulat ini ada penelitian tapi ada militernya, tapi kok tidak jelas. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” harapnya..

Oleh karena itu Siti Fadilah berharap pada penerusnya, Endang Rahayu Edyaningsih, agar tidak membuka lagi Namru-2. Dia yakin Endang bisa melanjutkan kebijakannya tersebut. “Saya kira Ibu Endang bisa mengikuti langkah-langkah yang telah kita ambil pada periode ini, di mana Namru sudah secara resmi ditutup, dan saya mohon jangan dibuka lagi,” katanya. (sumber) http://www.detiknews.com/read/2009/10/22/010526/1226054/10/sejarah-namru-2-berakhir-16-oktober-2009

Saatnya Dunia Berubah

Saatnya-dunia-berubah Bagi Anda yang masih percaya akan adanya nasionalisme dan keadilan global dalam hubungan internasional maka wajib hukumnya untuk membeli buku ini. Buku ini sebenarnya catatan harian dari Ibu Menteri Siti Fadilah Supari ketika memperjuangkan transparansi dan keadilan dalam organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization).

Ceritanya berawal ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung untuk menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka. Namun anehnya, hasil penelitian dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected countries). Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial.

Vietnam, contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung. Vietnam pun memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang didapat malah terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu perusahaan farmasi AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal kalau bukan dari sampel virus flu burung Vietnam.

Ibu Menteri mencium aroma kapitalistik dari negara-negara maju, sebut saja, Amerika Serikat. Jelas saja ini akan sangat merugikan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya apabila memberikan virus Flu Burung namun tidak mendapatkan vaksinnya. Ada dugaan kalau WHO justru menjual kembali virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk dibuatkan vaksinnya yang akan dijual secara komersial kepada negara-negara yang menderita pandemi Flu Burung.

Hal ini semakin jelas ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman mendatangi Ibu Menteri Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan sampel virus Flu Burung Indonesia kepada WHO. Dari hasil sebuah penelitian, virus Flu Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi. Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi virus Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus Flu Burung ala Indonesia yang sangat dibutuhkan WHO adalah sebuah bargaining power untuk mereformasi WHO yang tidak adil dan menguntungkan AS saja.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC. Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratory di New Mexico, AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS. Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?

Dimulailah pertarungan antara Daud dan Goliat. Daud yang diwakili Menteri Kesehatan RI melawan Goliat yang diwakili WHO dan AS. Sangat seru membaca bagaimana Ibu Menteri Kesehatan berjuang menghadapi perwakilan WHO yang sangat ngotot meminta RI memberikan virus Flu Burung tanpa syarat. Meskipun berlatar belakang dokter, Ibu Menteri berusaha belajar bagaimana berdiplomasi multilateral di tingkat organisasi internasional.

Untunglah DEPLU RI bersedia membantu Ibu Siti Fadilah dalam menggalang dukungan dari negara lain untuk proposal Indonesia. Bu Siti Fadilah pun cukup lihai dalam menggunakan media internasional untuk menyudutkan WHO dan AS. Beberapa kali media internasional seperti The Economist, Guardian mendukung dan memuji perjuangan Ibu Siti Fadilah. Anehnya, media nasional dan anggota DPR justru mencaci maki gerakan ini (mungkin karena keterbatasan informasi dan sibuk buat “UUD”).

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu. Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon. Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

Sangat seru membaca dialog-dialog antara Ibu Siti Fadilah dengan pejabat-pejabat WHO seperti David Heyman dan Margareth Chan. Terjadi beberapa kali pertemuan menegangkan antara Ibu Siti Fadilah Supari dengan WHO. Bahkan, pejabat-pejabat senior AS sendiri sempat bertemu dua kali dengan Ibu Siti Fadilah membujuk Ibu Siti Fadilah membatalkan niat Indonesia untuk mereformasi WHO.

Meskipun berdarah Jawa, bagi saya Ibu Siti Fadilah ini orang Batak tulen. Tidak ada basa-basi, langsung menusuk ke inti persoalan. Bahkan ketika memberikan pidato di depan majelis sidang World Health Assembly, Ibu Siti Fadilah tidak sungkan menuduh pabrik farmasi AS dapat membuat senjata biologi melalui virus Flu Burung ini. Telinga pejabat AS pun panas mendengar hal ini.

Ibu Siti Fadilah pun sangat tegar dalam prinsip dengan cerdas mencari solusi permasalahan. Dalam beberapa sidang, deadlock hampir terjadi. Pak Makarim Wibisono, duta besar Indonesia untuk PBB pun sempat menyerah terhadap situasi sidang. Tetapi Ibu Siti Fadilah tetap tegar dengan mencari berbagai senjata ampuh untuk menaklukkan AS. Dan akhirnya ketemu satu senjata ampuh untuk tidak terjadi deadlock!

Menarik juga untuk mengikuti sisi religius dari perjuangan reformasi WHO ini. Ketika ketika terjadi keterlambatan penerbangan dari Iran ke Jenewa, Ibu Siti Fadilah hampir tidak bisa mengikuti proses sidang World Health Assembly yang menentukan apakah agenda Indonesia diluluskan atau tidak. Tapi untungnya, sidang WHO pun terlambat sehingga Ibu Siti Fadilah dapat menyampaikan pidatonya untuk meyakinkan proposal Indonesia. Ada satu kejadian seru lagi dimana ketika memasuki persidangan, agenda Indonesia tidak mendapat satupun dukungan (co-sponsorship) dari negara-negara anggota WHO.

Namun menjelang detik-detik akhir, Iran datang dan menandatangi co-sponsorship dan membantu mencarikan dukungan dari negara-negara muslim dan sosialis. Indonesia akhirnya didukung oleh semua negara anggota WHO dan tidak ada yang mendukung AS. Luar biasa! Ibu Siti Fadilah sangat yakin kalau Tuhan yang Maha Kuasa berada di balik perjuangannya.

Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui bagaimana AS melalui WHO berupaya membujuk Indonesia membatalkan rencana reformasi WHO, segeralah membeli buku It’s Time for the World to Change. ini. Akan terlihat sangat nyata bahwa AS di berbagai arena internasional memiliki segudang pengaruh untuk merealisasikan kepentingan negaranya.

Entah melalui pemberian uang, bantuan atau bahkan sanksi. Saya sungguh menikmati buku ini, bahkan beberapa kali saya merinding ketika membaca buku ini. Rupanya masih ada satu kejadian dimana kapitalisme egoistik global yang biasanya memangsa negara berkembang bisa dipadamkan oleh seorang pejabat senior di Republik Indonesia. Terima kasih Ibu Siti Fadilah Supari atas perjuangannya! (sumber artikel) http://portalhi.web.id/?p=96

Berikut adalah kutipan dari berbagai pihak dan media terhadap buku dan perjuangan yang dilakukan oleh Siti Fadilah :

“Keberhasilan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mereformasi WHO adalah contoh sangat bagus keberhasilan perjuangan berdiplomasi kelas dunia secara modern.” Prof. Dr. Juwono Soedarsono, Menteri Pertahanan Indonesia.

“For the sake of basic human interests, the Indonesian government declares that genomic data on bird flu viruses can be accessed by anyone”. With those words, spoken on August, 3rd, Siti Fadilah Supari started a revolution that could yet save the world from the ravages of a pandemic disease. That is because Indonesia’s health minister has chosen a weapon that may prove more useful than todays best vaccines in tackling such emerging threats as avian flu: transparency. The Economist, London (UK), August 10th, 2006 (sumber). http://id.wikipedia.org/wiki/Saatnya_Dunia_Berubah%21_Tangan_Tuhan_di_Balik_Virus_Flu_Burung

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung. “Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi. Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.

“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon (silahkan saja). Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menindas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya” ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku. “Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua. “Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran. “Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu. *ahahahhaaaa….

Apa yang dikhawatirkan Oleh Menkes pada saat itu?

http://serbasejarah.files.wordpress.com/2009/10/sitifadilah.jpg?w=300&h=239
sitifadilah

Ceritanya bermula dari paksaan WHO terhadap Indonesia agar mengirimkan virus flu burung H5N1 strain Indonesia yang melanda negeri ini dua tahun lalu ke WHO Collaborating Center (CC) untuk dilakukan risk assesement, diagnosis, dan kemudian dibuatkan seed virus. Entah bagaimana caranya, virus asal Indonesia itu berpindah tangan ke Medimmune dan diolah menjadi seed virus.

Hebatnya, seed virus ini diakui sebagai miliknya karena diolah dengan teknologi yang sudah mereka patenkan. Indonesia, yang memiliki virusnya tidak punya hak apa-apa. Padahal, dengan seed virus inilah perusahaan swasta itu membuat vaksin yang dijual ke seluruh dunia dengan harga mahal.

Bagi Siti Fadilah, hal ini aneh. Yang memiliki teknologi mendapatkan hak amat banyak. Sebaliknya, yang memiliki virus tidak dapat apa-apa. “Sehebat apapun teknologi Medimmune, jika ditempelkan di jidatnya kan tidak akan menghasilkan seed virus H5N1 strain Indonesia,” kata lulusan kedokteran Universitas Gadjah Mada yang juga lulus program doktor di Universitas Indonesia itu dalam bukunya yang berjudul Saatnya Dunia Berubah – Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

Siti Fadilah melihat ketidakadilan itu – yang ternyata sudah berlangsung selama 60 (enam puluh) tahun dilakukan oleh WHO. Tergeraklah nuraninya. Ia sadar, dirinya hanyalah seorang Menteri Kesehatan dari negara bukan super power. Namun, ia berpikir dan bergerak cepat. Nalurinya mengatakan, kalau bahwa pemaksaan pengiriman virus ke WHO adalah salah satu kunci lingkaran setan. Maka kalau ia enggan mengirimkan virus itu, dunia akan bereaksi. Intuisinya benar. Dunia bereaksi. Negara barat – terutama pemerintah dari negara penghasil vaksin – geger. Mereka takut virus tersebut menyebar ke seluruh dunia dan terjadi pandemi.(sumber). http://sudutpandang.com/2008/05/siti-fadilah-sapari-menghancurkan-lingkaran-setan-dunia/

Indonesia dan WHO telah menjalin kesepakatan tentang pengiriman virus dengan cara baru, yang memberikan akses vaksin terhadap negara pengirim virus. Siti Fadillah Supari berharap Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih, tidak mengubah kesepakatan itu.

“Saya khawatir kalau policy tentang virus yang ditandatangani WHO. Jangan sampai diubah!” kata Siti di rumah dinasnya, Jl Denpasar, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2009).

Dikatakan Siti, persoalan virus sangat penting karena menyangkut ketahanan nasional. Dia berharap penggantinya mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi.

“Saya kira dia yang bisa mengerti. Saya harap dia punya jiwa nasionalis sehingga bisa meneruskan apa-apa yang bisa dicapai di WHO,” kata perempuan asal Solo, Jawa Tengah itu.

Jika ternyata tidak? “Saya akan berteriak. Saya harap semua ikut mengawal,” pungkasnya

Sumber:
Virus, Namru 2 dan Ibu Menkes Baru http://serbasejarah.wordpress.com/2009/10/22/virus-namru-2-dan-ibu-menkes-baru/

Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari, dalam melawan konspirasi USA (Vaksin Flu Burung di-Indonesia) http://konspirasizionis.wordpress.com/2010/09/06/perjuangan-ibu-siti-fadilah-supari-dalam-melawan-konspirasi-usa-vaksin-flu-burung-di-indonesia/#more-133

Komentar:
Saya sangat bangga dan salut atas Perjuangan Ibu Siti Fadilah Supari dalam melawan konspirasi USA (Vaksin Flu Burung diIndonesia). Apalagi ditengah kehausan Indonesia akan pemimpin yang mempunyai rasa Nasionalis dan kemanusiaan yang tinggi untuk membela rakyat kecil dan menjaga harga diri Bangsa ini.

Saya punya pengalaman yang sedikit menyedihkan ketika menumpangi salah satu taksi diJakarta, ditengah kemacetan sang sopir bercerita alasan dia pindah dan mengadu nasib diJakarta dengan menjadi sopir taksi dikarenakan usaha peternakan ayam-nya diMedan bangkrut oleh isu Flu Burung. Dimana terlihat salah satu ayam mati mendadak, mungkin karena mahal dan membutuhkan waktu sehingga semua ayam dipeternakannya harus dibunuh dan dibakar. Padahal belum tentu gejala itu adalah virus flu burung. Dan banyak cerita menyedihkan lainnya yang jelas-jelas merugikan Pemerintah untuk membeli vaksin unggas dan yang pastinya pengusaha kecil dan masyarat Indonesia.

Mendengar cerita diatas, alangkah baiknya kita mendukung Ibu Siti Fadilah dan para pemimpin yang mempunyai rasa Nasional tinggi agar lebih waspada terhadap segala bentuk Konspirasi, intervensi dan propaganda asing terutama AS dan sekutunya yang selalu mencari cara menarik keuntungan untuk kepentingan negaranya dalam Dunia Kesehatan, Pertahanan dan segala bidang.

“There is a transnational ruling class, a “Superclass”, that agrees on establishing a world government. The middle class is targeted for elimination, because most of the world has no middle class, and to fully integrate and internationalize a middle class, would require industrialization and development in Africa, and certain places in Asia and Latin America.

The goal of the Superclass is not to lose their wealth and power to a transnational middle class, but rather to extinguish the notion of a middle class, and transnationalize a lower, uneducated, labor oriented class, through which they will secure ultimate wealth and power.

The global economic crisis serves these ends, as whatever remaining wealth the middle class holds is in the process of being eliminated, and as the crisis progresses, the middle classes of the world will suffer, while a great percentage of lower classes of the world, poverty-stricken even prior to the crisis, will suffer the greatest, most probably leading to a massive reduction in population levels, particularly in the “underdeveloped” or “Third World” states.”
Andrew Gavin Marshall


http://www.kompasiana.com/ferlyqc/ibu-menkeu-dijebak-3-pria_54ff9767a33311b45e50f8ae
Ibu Menkeu “Dijebak” 3 Pria
Ferly Norman
15 Maret 2010 10:15:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 17:25:01

Banyak orang bertanya-tanya termasuk saya mengapa Ibu Menkeu kita Sri Mulyani Indrawati (SMI) terjebak didalam pusaran skandal Bank Century. Seolah-olah kecemerlangannya sebagai akademisi yang handal dan kepiawiannya mereformasi birokrasi Kemenkeu sirna bagai ditelan oleh bumi.

Secara pribadi kita ketahui, SMI adalah orang yang sangat tegas dan disiplin dalam menjalankan tugasnya. Ini sangat jelas terlihat ketika kasus suspend saham Bumi Resouces milik Aburizal Bakri. Walaupun Aburizal ketika itu Menko Kesra dan salah satu pendukung utama SBY ketika Pilpres 2004, tetapi SMI tetap bersikeras untuk tidak mencabut keputusannya. Orang dalam Kemenkeu pun menkonfirmasi bahwa SMI sangat teliti dan disiplin dalam mengambil kebijakan.

Kembali kepada skandal BC, ada beberapa indikasi mengapa SMI terlihat dijebak ketika “malam laknat” bail out BC pada tanggal 21 November 2008. Dilihat dari jam rapat KSSK dari jam 00.11 sampai mendekati jam 6 pagi, tampak SMI digiring dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Karena periode itu adalah jam biologis tubuh manusia beristirahat. Selain itu ada “gertakan” dari Bank Indonesia (BI) agar BC harus diselamatkan pada malam itu juga agar tidak kalah kliring pada paginya. Kedua factor inilah yang membuat SMI tidak dapat berfikir “jernih” ketika itu.

Yudi Latif dengan tepat menggambarkan situasi yang dihadapi SMI ketika itu, Ibu Ani membuat kesalahan bukan karena tidak mampu dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua KSSK, tetapi hanya keteledoran dan kesialan saja (Kompas,2/3). Jadi dalam pepatah bahasa Inggris, posisi SMI adalah “the right man in the wrong time” sehinggamenyebabkan SMI saat ini “from hero to zero”.

Sekarang kembali dengan judul diatas, siapakah tiga pria yang diduga menjebak SMI? Berdasarkan olahan dari berbagai sumber ketiga pria itu adalah sbb:

Pertama adalah Marsillam Simandjuntak, ia diposisikan sebagai “ahli hukum” di rapat-rapat KSSK. Jabatan resminya adalah Ketua UKP3R dibawah langsung Presiden Yudhoyono. Entah mengapa seorang Marsillam ikut-ikutan dalam rapat KSSK.

Selain itu bekas Jaksa Agung RI ini, diragukan keahliannya berguna saat itu, padahal ahli hukum yang diperlukan dalam rapat KSSK itu adalah ahli hukum ekonomi/perbankan, Tata Negara/Administrasi Negara.

Oleh sebab itu tidak aneh keputusan KSSK tidak berlandaskan konstruksi hukum yang tepat. Contohnya keberadaan Komite Koordinasi, jelas-jelas di penjelasan UU LPS pasal 21 ayat 2 mengatakan diperlukan UU terpisah untuk membentuk KK. Hal ini juga dibenarkan oleh beberapa ahli hukum tata negara seperti Irman Putra Siddin. Inilah missing link serangkaian kebijakan bail out BC.

Dengan demikian bail out BC dengan sendirinya gugur dan tidak sah dari perspektif Hukum Administrasi Negara karena KK yang “ilegal”. Ada satu petunjuk jelas Marsillam menginterfensi SMI, ini mencuat gara-gara kasus keseleo lidahnya SMI menyebut Marsillam dengan “Robert” di rapat KSSK.

Dialog lengkapnya dimulai dari pernyataan Dirut Bank Mandiri Agus Martowardjojo yang menduga nasabah dengan dana besar dikuasai pemilik di Century. Kalau dana dibawah Rp 2 M bisa diselamatkan, yang diatas Rp 2 M tanggung jawab pemilik. Agus menyarankan tindakan terhadap Robert harus keras dan cepat.

Lalu dijawab SMI,”Ya udah,rapat tertutup sekarang kita… ya,Robert (Marsillam).” Lalu ‘Robert’ (Marsillam) menjawab,’Saya kira Ibu rapat tertutup saja dengan catatan, bahwa kesimpulan pasalnya adalah keadaan krisis yang kita hadapi sekarang.” (Tempo,27/12/09). Ini terang dan jelas sampai menit-menit terakhir sebelum rapat KK, SMI selalu “diganggu” oleh seorang Marsilam Simandjuntak.

Pria kedua yang menjebak SMI adalah Raden Pardede (RP) sebagai sekretaris KSSK. Dialah yang memberikan koreksi atas surat Gubernur BI yang ditandatangani oleh Boediono pada jam 23 malam tanggal 20 November 2008.

Surat GBI tersebut memuat perkiraan BI terhadap jumlah likuiditas yang diperlukan BC, terdiri dari: pemenuhan kebutuhan modal (CAR) Rp 1,77 Triliun (Rp 632 M + Rp 1,138 M). Disamping itu memerlukan likuiditas tambahan sebesar Rp 4,79 Trilyun, sehingga total kebutuhan likuditas penyelamatan BC adalah Rp 6,56 Triliun (lihat “buku putih BC” versi BI, QA Pengawasan BC, yang dikeluarkan oleh Humas Media BI di website BI).

Kemudian di “buku putih” tersebut menyebutkan: Selanjutnya hasil pembahasan dengan sekretaris KSSK menyepakati bahwa yang digunakan adalah data kebutuhan modal berdasarkan neraca per 31 Oktober 2008 dengan asumsi SSB macet masih merupakan perkiraan.

Disepekati juga bahwa jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan pemburukan kondisi bank selama bulan November 2008. Raden Pardede pun mengkonfirmasi surat tersebut ada (Tempo, 3/1/2010). Tetapi akhirnya BI merevisi surat tersebut dan memakai angka Rp 632 miliar sebagai patokan awal. Disini terlihat RP selaku sekretaris KSSK berperanan penting sebagai “pemasok” informasi yang tidak valid kepada SMI.

Jadi tidaklah mengherankan pada hari seninnya (24/10/2008) SMI terperanjat melihat kebutuhan modal BC membengkak menjadi Rp 2,77 Triliun. Dari transkrip rapat konsultasi KSSK saat itu SMI berujar,” Jika begini bisa mati berdiri kita”. Sekjend Kemenkeu Mulia Nasution bersaksi,”Bu Menteri kaget dan marahlah, karena jumlahnya begitu besar” (Tempo 27/12/2009).

Pria ketiga adalah tidak lain dan tidak bukan Boediono. BI dibawah komando Boediono adalah institusi yang menjadi sumber bencana semua ini. Bagaimana sebuah institusi sebesar BI sangat “santun” mengawasi BC selama 3 tahun lamanya.

Sebenarnya BC dapat ditutup saja dan diumukan ke publik akibat dirampok secara sistemis oleh pemliknya diikuti oleh penangkapan RT. Publik pasti memahaminya dan tidak akan ada dampak sistemik lebih lanjut. Tetapi jika langkah ini diambil pasti BI akan kehilangan mukanya.

Sehingga pada kasus BC ini BI seakan mendompleng kekuasaan KSSK untuk ikut “cuci tangan” dengan melepaskan tanggung jawabnya dengan menyerahkan “bangkai” BC kepada LPS.

Sekarang nasi sudah jadi bubur, SMI tidak dapat berkelit dengan keputusan DPR agar ia bertanggung jawab terhadap keputusan KSSK. Seandainya SMI ketika itu mengikuti opini dari beberapa pembantu seniornya yaitu; Anggito Abimanyu (Ketua Badan Kebijakan Fiskal), Fuad Rahmany (Ketua Bapepam-LK) yang meragukan penilaian BI terhadap BC sebagai bank gagal sistemik.

Atau mendengar saran Dirut Bank Mandiri Agus Martowardjojo agar BC dilikuidasi saja beserta tindakan keras dan cepat terhadap RT. Atau menghubungi Pejabat Presiden saat itu Jusuf Kalla, niscaya SMI masih harum namanya sampai saat ini.

Sebenarnya ada opsi lain menunda keputusan KSSK malam itu, yaitu dengan “mengguyur” kembali BC dengan FPJP beberapa milyar rupiah untuk hari Jum’at tanggal 21/11/2008. Persis seperti BI memberi BC dana intrahari sebesar Rp 10M pada 13 Nov 2008 saat kalah kliring. Sehingga SMI dapat berfikir lebih jernih selama 3 hari karena sabtu dan minggu operasional bank tutup. Jadi betullah penilaian Yudi Latif diawal tadi, SMI membuat kesalahan karena keteledoran dan kesialan.


nyanyian Komjen Susno Duadji berikut http://polhukam.kompasiana.com/2010/03/15/mengapa-nyanyian-susno-ditelan-angin/ kalau benar syair lagu Pak Susno, ada uang 11 T yang menguap, lebih besar dari talangan Century kan ? atau setidaknya banyak pejabat yang bisa digebuk agar pemerintahan Indonesia lebih bersih.

Ferly Norman15 Maret 2010 17:34:52
Justru pas di pansus kemarin secara implisit SMI tidak “happy” dengan data BI nya Mas Bapaeogi. Ke JK ngomong gitu juga dan transkrip rapat KSSK juga Balas


http://www.kompasiana.com/ferlyqc/agus-martowardojo-si-three-musketeers_54ffcac3a33311ea4a5115e3
Agus Martowardojo Si “Three Musketeers”
Ferly Norman
20 Mei 2010 10:41:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 16:05:39

Akhirnya Agus Martowardojo resmi dilantik oleh Presiden sore ini di Istana Merdeka. Pengangkatan sang Dirut Bank Mandiri ini sangatlah tepat karena:

1. Dialah salah satu “three musketeers” pejabat keuangan yang cerdas, good looking, sukses dan masih fresh selain Anggito Abimanyu (Ketua Badan Kebijakan Fiskal Depkeu) dan Fuad Rahmany (Ketua Bapepam LK). Merekalah bertiga adalah orang yang berani berdebat dengan Boediono dan Sri Mulyani ketika rapat KSSK bail out Bank Century tanggal 21 Oktober 2008.

Di malam “jahanam” itu mereka bertiga mengeluarkan keraguan akan dampak resiko sistemik yang ditimbulkan jika Bank Century tidak diselamatkan. Agus Martowardojo menduga nasabah dengan dana besar dikuasai pemilik di Century. “Kalau dana dibawah Rp 2 M bisa diselamatkan, yang diatas Rp 2 M tanggung jawab pemilik,” ujar Agus. Agus menyarankan tindakan terhadap Robert harus keras dan cepat agar BC dilikuidasi saja beserta tindakan keras dan cepat terhadap Robert Tantular.

Tapi apa lacur, SMI akhirnya tidak mendengarkan pembantu terbaiknya dalam kelompok three musketeers itu, sehingga terbenamlah nama harumnya di depan mata rakyat Indonesia. Lebih lengkap lihat tulisan saya “Ibu Menkeu Dijebak 3 Pria” di Kompasiana sbb: {http://www.kompasiana.com/dashboard/write?edit&pid=94142}

2. Dengan latar belakang lama bergelut di perbankan yang notabene sektor riil, diharapkan Agus Martowardojo akan lebih memperhatikan sektor riil yang selama ini agak “terbengkalai” di bawah Sri Mulyani. Dibawah Sri Mulyani ekonomi makro menjadi “panglima” dari mikro, seharusnya keduanya berjalan seiring dan seimbang agar ekonomi berjalan berkesinambungan.

Padahal sektor riil inilah sektor yang menyentuh langsung dengan rakyat sehingga kedepannya industri manufaktur, jasa dan UKM akan lebih menggeliat. Kelemahan Agus di ekonomi makro dan anggaran bisa ditutup oleh Dr. Ani Ratnawati yang sebelumnya adalah Dirjen Anggaran Depkeu. Salut untuk Presiden dalam mengkombinasikan pasangan ini.

3. Saya berandai-andai, Menteri Perindustrian kita MS. Hidayat adalah orang sektor riil karena sebelumnya Ketua Kadin. Dialah menteri yang terang-terangan menentang ACFTA dengan Cina. Kemudian Menkeu sudah diisi oleh orang sektor rill juga, tinggal Menteri Perdagangan Mari Elka yang bukan pro sektor riil. Jika Mendag diganti dengan orang yang pro sektor riil maka lengkaplah tim ekonomi Presiden berjubah pro dengan ekonomi wong cilik.

Terakhir saya ucapkan selamat bekerja dan jalankan amanah dan jabatan tersebut sebesar-besarnya bagi keuntungan Nusa dan Bangsa. Good Luck untuk Agus Martowardojo dan salut untuk Presiden.


Anak kemaren sore, masih bau pesing, ngasih komentar positif buat Agus Marto?
Wake up man!

Advertisements