Layanan trauma healing di Jakarta

Layanan trauma healing di Jakarta

Banyak pihak tidak menyadari bahwa trauma sebagai penyakit hati yang bersifat residen, kronis, dan akut. Bagi penderita, stigma yang diterima bisa berupa label ketegangan atau sakit psikis, gangguan mental, jiwa, dan emosi, prilaku menyimpang (disordered behaviour), ketakutan (fear), kegelisahan (anxiety), defisiensi moral.

Salah satu penyebabnya bisa akibat kenyataan yang tidak sesuai keinginan dan/atau ekspektasi. Kenyataan tersebut bisa berupa pengalaman, situasi, kondisi yang dialami seseorang. Harapan yang tidak sesuai kenyataan banyak membuat orang tidak berdaya (powerless), sakit hati (emotionally painful), dan kecewa berat (distressing).

Derajat trauma dan pemicunya bisa sangat berbeda untuk setiap individu. Banyak kondisi bisa membuat orang cepat mengalami trauma dan sering, tetapi tidak traumatik bagi orang dengan kepribadian yang lain. Tipe orang yang rentan terhadap trauma biasanya memiliki karakteristik yang sama, pernah mengalami PTSD, tetapi tidak mau mengakui bahwa mereka berada dalam kondisi PTSD.

Trauma akibat kekerasan dan serangan (assault) atau penyaksian kekerasan yang bersifat fisik mungkin sangat mudah diidentifikasi. Kondisi ini sangat berbeda ketika penyebabnya bersifat laten dan non-fisik seperti praktek dan perlakuan yang diskriminatif, rasialisme, pemaksaan (oppression), ketidaksetaraan (dalam hal kekuasaan, kekayaan, kemakmuran, atau kemiskinan), atau lainnya.

Beberapa tanda-tanda trauma mencakup gelisah, gemetaran (shaken), disorientasi, non-responsif, menarik diri, atau absen kalau diajak bicara. Beberapa bentuk kegelisahan bisa bermanifestasi pada mengigau (night terrors), gugup (edginess), mudah tersinggung (irritability), susah konsentrasi, mood swings. Beberapa sinonim dengan kegelisahan mencakup discomfort, disquiet, discernment, restlessness, unrest, twitter, flutter, sharpness, acuity, acumen, acuteness, nerves.

Beberapa tanda-tanda fisik adanya trauma mencakup pucat, lesu (lethargy), lelah (fatigue), susah berkonsentrasi, gampang jantungan (racing heartbeat), sering panik (panic attacks), dan tidak mampu mengendalikan diri. Beberapa gejala trauma yang bersifat fisik mencakup susah tidur (mimpi buruk), gampang terkejut, gampang jantungan, nyeri otot dan ngilu (aches, pains), lelah, susah berkonsentrasi, gugup dan gampang dihasut, otot tegang.

Beberapa gejala emosi traumatik mencakup pengingkaran (denial), marah (anger), sedih (sadness), dan ledakan emosi. Beberapa bentuk trauma emosi dan psikologis mencakup emosi yang berkepanjangan, kesedihan yang berlarut-larut, ingatan bahaya dan ketakutan serta rasa tidak aman dan tidak nyaman yang cenderung konstan.

Beberapa gejala trauma yang bersifat emosi dan psikologis mencakup:
terkejut (shock), pengingkaran, tidak percaya (disbelief).
marah, gampang tersinggung (irritability), mood swings.
rasa bersalah (guilt), malu, menyalahkan diri sendiri.
rasa sedih atau tidak punya harapan.
bingung, susah berkonsentrasi.
gelisah dan takut.
menarik diri dari pihak lain.
mati rasa dan tidak terhubung (disconnected).

Kehilangan akibat perceraian dan/atau kematian merupakan salah satu penyebab trauma bagi beberapa orang untuk bisa move-on.

Untuk meredakan beban emosi dan psikologis akibat kejadian traumatis di masa yang sudah lama berlalu dan/atau baru saja berlalu, hubungi kami di +62 851 0518 7118.


Advertisements