stress test ekonomi & perbankan di Indonesia

Krisis Finansil Cina: Perspektif Kebijakan Moneter, Corporate Finance (Analisa Laporan Keuangan), dan Investment Banking (Valuasi Nilai)
oleh : Sando Sasako
Jakarta, 28 Maret 2016

ISBN 978-602-73508-5-4

Untuk mendapatkan buku ini,
silahkan hubungi kami di +62 851 0518 7118


 
Krisis Finansil Cina
 


Daftar Isi

Kata Pengantar iii
Kata Pengantar dalam buku ‘Corporate Financing’ v

Daftar Isi vii
Daftar Tabel x
Daftar Bagan xi

Pendahuluan 1
Masalah Pengukuran 1
Data, Informasi, Fakta 2
Data Mining 4
Pemilahan Data 5
Business Intelligence 7
Analisa Kuantitatif 8
Analisa Data 8
Self-Organising Map 9
Hambatan bagi Efektivitas Analisa Data 11
Confirmatory Data Analysis 11

Analisa Finansil 11
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK, GAAP, IFRS) 12
Peran Perusahaan Audit dalam PSAK 12
Analisa Finansil sebagai Alat Ukur Kinerja Keuangan 12
Analisa Fundamental 13

Rasio-rasio Finansil 14
Pertumbuhan 14
Produktivitas 14
Kontribusi terhadap Stakeholder 14
Dividend Policy Ratios 14

Rasio-rasio Aktivitas Usaha 15
Perputaran aset (asset turnover) 15
Perputaran aset rata-rata (asset turnover) 15
Rasio perputaran aset tetap (fixed assets turnover) 15
Perputaran piutang (receivables turnover) 16
Rata-rata periode penagihan (average collection period) 16
Perputaran inventaris (inventory turnover) 16
Periode inventaris (inventory period) 16

Rasio-rasio Likuiditas 17
Rasio lancar (current ratio, CR) 17
Rasio modal kerja (working capital ratio) 18
Rasio cepat (quick ratio, QR) 18
Rasio kas (cash ratio) 18
Pendapatan lancar (current income) 19
Rasio pendapatan bunga (Time Interest Earned, Interest Coverage) 19
Rasio investasi terhadap kebijakan (investment to policy ratio) 19
Rasio utang lancar terhadap inventaris (current debts to inventory ratio) 19

Rasio-rasio Profitabilitas 19
Marjin laba kotor (gross profit margin) 20
Marjin laba bersih (net profit margin) 20
Return on Equity (ROE) 20
Return on Asset (ROA) dan Return on Capital Employed (ROCE) 20
Return on Capital (ROC) dan Return on Invested Capital (ROIC) 21
Return on Investment (ROI) 21
Beban bunga (Interest Coverage, Times Interest Earned) 22
Beban finansil (financial leverage) 22
Efisiensi beban finansil (efficiency of financial leverage) 22

Rasio-rasio Struktur Modal 23
Rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio) 23
Rasio kapitalisasi (capitalisation ratio) 24
Tingkat pertumbuhan ekuitas (equity growth rate) 24
Beban finansil (financial leverage) 24
Rasio utang (debt ratio) 24
Rasio modal saham terhadap aset tetap bersih 24
Rasio utang lancar terhadap modal saham (Current Debts to Net Worth Ratio) 24
Rasio kewajiban total terhadap modal saham (Total Liabilities to Net Worth Ratio) 25
Rasio aset tetap terhadap modal saham (Fixed Assets to Net Worth Ratio) 25

Rasio-rasio Kecukupan Modal 25

Solvabilitas 25
Solvency ratio (SR) 26
Rasio utang terhadap aset (Debt to Asset Ratio, DAR) 26
Rasio utang terhadap modal (Debt to Equity Ratio, DER) 26
Kemampuan laba menutup biaya tetap (Fixed Charge Coverage). 26
Rasio pinjaman terhadap aset (Loan to Asset Ratio, LAR) 27
Rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio, LDR) 27

Risks vs Rewards 27
Risiko Mencari Keuntungan 28
Efek Domino Risiko 29
Rent-Seeking Behaviours 30

When the Deal Slips Away 32
Indikator Kesulitan Finansil 34
Indeks Kerentanan 36
Stress Test 38
Indeks Stabilitas Sistem Keuangan 40
Financial Stability Index 43
Indeks Kesehatan Finansil ala IMF 44
Laporan Stabilitas Finansil Global ala IMF 48
Operasi Moneter 48
Inflasi Terencana sebagai Prasyarat Kestabilan Finansil 50

Dinamika Pasar Finansil 52
Dinamika Aset Finansil 53
Kerapuhan Sistem Finansil 54

Krisis Finansil 55
Menelikung Krisis Finansil 56
Kasus LTCM 57
Krisis Subprime Mortgage 60
Kasus Lehman Brothers 63
Krisis Eurozone 64
Spiral Kekacauan Krisis Eurozone 65
Debt Exposures of PIGS 66
AS 68
Inggris 69
Jerman 69
Perancis 70
Jepang 71
Yunani 72
Irlandia 73
Italia 74
Portugis 74
Spanyol 75
Some PIGS are More PIGS 76
Krisis Finansil Cina 77
Kenapa Cina menjadi begitu penting? 78
Bermain dengan nilai tukar 81
Pasar CNH 82
Dominansi nilai tukar CNH terhadap CNY 87
Qualified Foreign Institutional Investor 90
Renminbi Qualified Foreign Institutional Investor 90
Qualified Domestic Institutional Investor 91
Qualified Domestic Individual Investor 91
Shanghai-Hong Kong Stock Connect 91
Pilot Free Trade Zones 91
Mainland-Hong Kong Mutual Recognition of Funds 92
Kenapa pasar finansil Cina bisa crash? 92
Ketika gelembung finansil Cina mulai pecah 93
Pelonggaran likuiditas sebagai solusi ancaman resesi 94
Aksi pemadam kebakaran ala pemerintah Cina 96
Permasalahan fundamental ekonomi Cina 99
Beban utang Cina 101
Kebijakan dan otoritas moneter Cina 102
Pasar obligasi Cina 103
Obligasi Panda 105
Obligasi dim sum 106
Daftar emisi obligasi dim sum 108
Aksi pemerintah Cina terhadap masalah tunggakan utang 110

Policy and Politicisation 113
Primary Dealer 113
Solusi Teoritis, Bisa dan Benarkah? 116
Kebijakan Too Big To Fail 117
Cashless Solution 118
Minyak sebagai Mata Uang dan Sumber Kemakmuran 120
Negative Interest Rates Policy 125

Kas 129

Pengadaan Aset 130
Asset Investment 130
Asset Financing 131
Capital Expenditures 132
Menghitung Biaya Modal 134
Biaya utang 134
Biaya saham preferensi 134
Biaya laba ditahan 134
Biaya ekuitas eksternal 135
WACC 135
Biaya modal marjinal 136
Break point 136

Off-Balance Sheet Financing 136
Perubahan Portofolio The Fed 136
OBS sebagai Produk Inovasi Menyembunyikan Risiko Finansil 137
MBS sebagai Produk Rekayasa Finansil Penyebab Krisis 2008 139
Bencana Prilaku Berisiko Berlebihan 141
Bertaruh pada Aset Fiktif 142
Akuntansi OBS 144
Fleksibilitas Pasal Karet 145
Penyesuaian Pasal Karet 146
Memanfaatkan Celah Hukum 147

Equity Financing 148

Debt Financing 149

Struktur Modal 152
Teori Struktur Modal 153
Teori Pensinyalan 154
Struktur Modal dalam Praktek dan Realitas 155
Menghitung Tingkat Optimal Struktur Modal 155
Besar Beban Operasi 156
Analisis EBIT/EPS terhadap Efek Beban Finansil 157
Besar Beban Finansil 157
Besar Beban Total 158
Efek Struktur Modal terhadap Harga Saham dan Biaya Modal 159
Likuiditas dan Arus Kas 159

Struktur Finansil 160
Ukuran Optimal Beban/Struktur Finansil 161

Valuasi Nilai 162
Corporate Financing vs Investment Banking 163
Pentingnya Valuasi Nilai 164
Valuasi Usaha 164
Komponen Pendapatan 166
Komponen Neraca 167
Komponen Arus Kas 167

Time Value of Money 168
Future Value 169
Future Value Interest Factor for i & n 169
Present Value 169
Present Value Interest Factor for i & n 169
Future Value untuk Anuitas Biasa 169
Future Value Interest Factor untuk Anuitas Biasa 170
Future Value untuk Anuitas Awal 170
Present Value untuk Anuitas Biasa 170
Present Value Interest Factor untuk Anuitas Biasa 170
Present Value untuk Anuitas Awal 170
Present Value untuk Perpetuities 171
Present Value untuk Aliran Arus Kas Variabel 171
Future Value untuk Aliran Arus Kas Variabel 171
Future Value untuk Periode Semesteran atau lainnya 171
Amortisasi Pinjaman 172

Referensi 173
Web 173
e-book 177
Buku 180

Daftar Lampiran

Lampiran – Variabel yang umum dipakai sebagai ukuran stabilitas finansil 181
Jenis data yang digunakan dalam laporan stabilitas finansil beberapa bank sentral (AT-ES) 181
Jenis data yang digunakan dalam laporan stabilitas finansil beberapa bank sentral (GB-TR, ECB, IMF) 182
Variabel yang umum dipakai sebagai ukuran stabilitas finansil 183

Lampiran – Ukuran dan skenario dalam laporan stabilitas finansil global, Okt. 2015 185
Ukuran likuiditas 185
Ukuran utang korporasi di pasar emerging 187
Asumsi dalam skenario gangguan pada pasar aset global 189
Mekanisme transmisi kejutan dalam skenario gangguan pada pasar aset global 190
Asumsi dalam skenario normalisasi yang berhasil 191
Mekanisme transmisi kejutan dalam skenario normalisasi yang berhasil 192

Lampiran – Ukuran Kerentanan Finansil 193
Indikator valuasi risk appetite / aset 193
Indikator ketidakseimbangan non-finansil 194
Indikator kerentanan finansil 195
Indikator Kebijakan Macroprudential 196

Lampiran – Daftar Indikator dalam ISSK Bank Indonesia 197

Lampiran – Profil Cina 199

Lampiran – Jumlah (instrumen) utang Cina menurut emiten, domestik, nasional, internasional, 2015Q2-2015Q4 201

Daftar Tabel

Table 1 – Aktivitas M&A di business intelligence dengan nilai >$100 juta, 2009-2014q1 7
Table 2 – Beberapa indikator kebijakan macroprudential 36
Table 3 – Indikator pengukuran stabilitas sistem keuangan 42
Table 4 – Indikator utama kesehatan finansil ala IMF 45
Table 5 – Indikator tambahan (encouraged) bagi kesehatan finansil ala IMF 45
Table 6 – Indikator parsial dan bobot dalam indeks stabilitas perbankan Republik Ceko 47
Table 7 – Indikator kesehatan finansil ala ECS (Macro-Prudential Indicators) 47
Table 8 – Tiga skenario stabilitas finansil 48
Table 9 – Operasi moneter menurut standing facility 49
Table 10 – Pentingnya likuiditas yang lentur (resilient) 50
Table 11 – Penambahan likuiditas menurut jenis instrumen OPT 50
Table 12 – Penyerapan likuiditas menurut jenis instrumen OPT 50
Table 13 – Nilai ekspor dan impor AS-Cina untuk 5 produk utama, 2014-2015 (US$ juta) 100
Table 14 – Nilai ekspor dan impor AS-Cina untuk produk teknologi tinggi, 2015 (US$ juta) 100
Table 15 – PDB Cina, 2010-2014 dalam milyaran ¥ dan US$ 101
Table 16 – Nilai obligasi pemerintah dan korporasi di Cina, 2002-2015 (US$ milyar) 101
Table 17 – Buletin harga obligasi di pasar uang Hong Kong, 11 Maret 2016 107
Table 18 – Daftar 22 primary dealer di Amerika Serikat, 2014 114
Table 19 – Beberapa veteran primary dealer pilihan Bank Sentral Amerika 114
Table 20 – Daftar 19 primary dealer di Indonesia, 2014-2015 115
Table 21 – Nilai derivatif 25 bank terbesar di AS, Nov. 2015 (US$ milyar) 119
Table 22 – Ringkasan Perlakuan Transaksi Sekuritisasi menurut UK GAAP 145
Table 23 – Jenis data yang digunakan dalam laporan stabilitas finansil beberapa bank sentral (AT-ES) 181
Table 24 – Jenis data yang digunakan dalam laporan stabilitas finansil beberapa bank sentral (GB-TR, ECB, IMF) 182
Table 25 – Variabel yang umum dipakai sebagai ukuran stabilitas finansil 184
Table 26 – Ukuran likuiditas 186
Table 27 – Ukuran utang korporasi di pasar emerging 188
Table 28 – Asumsi dalam skenario gangguan pada pasar aset global 189
Table 29 – Mekanisme transmisi kejutan dalam skenario gangguan pada pasar aset global 190
Table 30 – Asumsi dalam skenario normalisasi yang berhasil 191
Table 31 – Mekanisme transmisi kejutan dalam skenario normalisasi yang berhasil 192
Table 32 – Indikator valuasi risk appetite / aset 193
Table 33 – Indikator ketidakseimbangan non-finansil 194
Table 34 – Indikator kerentanan finansil 195
Table 35 – Indikator Kebijakan Macroprudential 196
Table 36 – Daftar indikator pembentuk ISSK 197
Table 37 – Profil Singkat Cina 199
Table 38 – Indikator Ekonomi Cina, 2011-2017 200
Table 39 – Utang Cina menurut emiten, domestik, nasional, internasional, 2015Q2-2015Q4 202

Daftar Bagan

Figure 1 – Diagram alur hierarki DIKW (Data-Information-Knowledge-Wisdom) 3
Figure 2 – Kontinuum pemahaman dalam konteks DIKW 3
Figure 3 – Proses data mining 4
Figure 4 – Hubungan antara Data, Informasi, dan Intelijen 6
Figure 5 – Analisa eksplorasi data 9
Figure 6 – Taksonomi ketidakpastian 27
Figure 7 – Igloo ketidakpastian 28
Figure 8 – PV perusahaan berutang 32
Figure 9 – Skema indeks kerentanan dan komponennya 37
Figure 10 – Siklus pengawasan macroprudential 38
Figure 11 – Prasyarat bagi antisipasi dan pencegahan ketidakstabilan sistem finansil 39
Figure 12 – Hubungan antara stabilitas sistem finansil dan stabilitas moneter 39
Figure 13 – Keterkaitan antar-variabel dalam BAMBI (Banking Model of Bank Indonesia) 41
Figure 14 – Beberapa indikator pembentuk Indeks Stabilitas Sistem Keuangan (ISSK) 42
Figure 15 – Peran Bank Indonesia dalam menciptakan stabilitas moneter 49
Figure 16 – Bentuk interaksi antara BI, pempus, dan pemda dalam mengendalikan inflasi 51
Figure 17 – Perkembangan aktivitas perbankan internasional 52
Figure 18 – Aset Riel dan Aset Fiktif Bank-bank di AS, 1995–2000 58
Figure 19 – Nilai Derivatif dan Modal 25 Bank AS Ternama (US$ milyar) 59
Figure 20 – CDOs direpresentasikan dalam bentuk building blocks, The Big Short, 2015 60
Figure 21 – Pasar rumah di AS, 1989-2006 61
Figure 22 – Pemetaan proses penularan krisis finansil 2008 62
Figure 23 – Pinjaman sektoral dari Bank of England, 1997-2012 63
Figure 24 – Utang-piutang PIGS 67
Figure 25 – Utang AS ke 4 negara adidaya dan PIGS 68
Figure 26 – Utang Inggris ke 4 negara adidaya dan PIGS 69
Figure 27 – Utang Jerman ke 4 negara adidaya dan PIGS 70
Figure 28 – Utang Perancis ke 4 negara adidaya dan PIGS 71
Figure 29 – Utang Jepang ke 4 negara adidaya dan PIGS 71
Figure 30 – Utang Yunani ke 4 negara adidaya dan PIGS 72
Figure 31 – Utang Irlandia ke 4 negara adidaya dan PIGS 73
Figure 32 – Utang Italia ke 4 negara adidaya dan PIGS 74
Figure 33 – Utang Portugis ke 4 negara adidaya dan PIGS 75
Figure 34 – Utang Spanyol ke 4 negara adidaya dan PIGS 76
Figure 35 – Cadangan Devisa Cina, Des. 1999 – Jan. 2016 78
Figure 36 – Tiga Kekuatan Ekonomi Dunia 79
Figure 37 – Nilai perdagangan Cina dengan negara lain (impor + ekspor) 80
Figure 38 – Nilai tukar bilateral yuan terhadap 3 mata uang dunia, USD, ¥, dan €. 81
Figure 39 – Cadangan devisa Cina dan nilai tukar CNY dan CNH 83
Figure 40 – Selisih CNY dengan CNH, Agustus 2010-Januari 2016 83
Figure 41 – Selisih tajam antara CNY dan CNH berdampak pada lonjakan bunga antar-bank di bulan Januari 2016 84
Figure 42 – Intervensi pasar CNH bisa menyesuaikan bunga CNH dengan CNY, 20151110-20160126 85
Figure 43 – Pasar deposit CNH, Maret 2009 – Des. 2015 86
Figure 44 – Distribusi CNH menurut bank sentral (offshore yuan’s swap line), Nov. 2015 88
Figure 45 – Penyelesaian perdagangan dalam CNH, 2009Q3-2015Q4 89
Figure 46 – Pasar deposit CNH menurut negara, 2014 89
Figure 47 – Beberapa alternatif indikator pertumbuhan ekonomi Cina mengacu pada penurunan yang lebih besar (greater slowdown), 2010–2015 95
Figure 48 – Indeks Saham Gabungan Shanghai (SCI), Mei 2015 sampai 5 Februari 2016 97
Figure 49 – Indeks Saham Gabungan Shanghai, 1 Januari 2015 – 8 Maret 2016 98
Figure 50 – Triple policy trilemma 99
Figure 51 – Pasar obligasi Cina, 2003-2014 104
Figure 52 – Aktivitas perdagangan pasar sekunder obligasi Cina, 2000-2014 104
Figure 53 – Pangsa pasar obligasi Cina menurut jenis obligasi, Des. 2014 104
Figure 54 – Daftar emisi obligasi Panda, 20151010-20160121 106
Figure 55 – Emisi obligasi CNY, 2008-2015 111
Figure 56 – Emisi obligasi CNH, 2008-2015 111
Figure 57 – Asset backed securities di Cina, 2005-2014 112
Figure 58 – Peristiwa bersejarah dan harga minyak mentah, 1861-2014 (US$/b) 121
Figure 59 – Harga minyak mentah Brent (US$), 20040102-20160106 123
Figure 60 – Kelebihan pasokan minyak mentah dunia, 2012q3-2015q3 123
Figure 61 – Distribusi ladang produksi minyak shale AS, April 2015 124
Figure 62 – Suku bunga deposito dan pembiayaan ulang ECB, 2008-Maret 2016 127
Figure 63 – Prediksi nilai tengah suku bunga Federal Funds, Des. 2015-2019 127
Figure 64 – Federal funds target rata (%), 1983-2015 128
Figure 65 – Federal funds rate, 1 Juli 1954-18 Feb. 2016 128
Figure 66 – Skema sumber pendanaan perusahaan 130
Figure 67 – Factors adding to reserves and off balance sheet securities lending program 137
Figure 68 – Multiplikasi Penciptaan Aset Fiktif 143
Figure 69 – Klasifikasi struktur aset, struktur finansil, dan struktur kapital 161


Contents
01 20150109 Uji Daya Tahan Sistem Keuangan Indonesia, BI Lakukan Stress Test Secara Reguler
04 20150112 Hasil Stress Test BI, Perbankan RI Masih Kuat
03 20150325 STRESS TEST PERBANKAN: Lonceng Otoritas Membuat Deposan Terperangah
05 20150402 Transparansi Stress Test
02 20150815 BCA, Permata conduct stress tests as rupiah falls
07 DEFINISI STABILITAS SISTEM KEUANGAN
08 PENTINGNYA STABILITAS SISTEM KEUANGAN
06 KERANGKA STABILITAS SISTEM KEUANGAN
09 PERAN BANK INDONESIA DALAM STABILITAS KEUANGAN
10 FORUM STABILITAS SISTEM KEUANGAN
11 SERBA-SERBI STABILITAS SISTEM KEUANGAN

01 20150109 Uji Daya Tahan Sistem Keuangan Indonesia, BI Lakukan Stress Test Secara Reguler
2016-03-23 03:24 PM
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/serbaserbi/Pages/BI-Lakukan-Stress-Test-Secara-Reguler.aspx
Uji Daya Tahan Sistem Keuangan Indonesia, BI Lakukan Stress Test Secara Reguler
Departemen Komunikasi, 09-01-2015
Tel (021) 500 131 Fax.: (021) 386-4884, E-mail : bicara@bi.go.id

Bank Indonesia melakukan stress test secara reguler untuk mengetahui daya tahan sistem keuangan Indonesia dalam menghadapi berbagai risiko yang mengancam dari waktu ke waktu. Hasil stress test tersebut juga diumumkan secara terbuka sebagai bentuk himbauan agar pihak-pihak terkait dapat memitigasi risiko dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan apabila keadaa memburuk.

Hasil stress test Bank Indonesia (BI) terkini menunjukkan sistem keuangan Indonesia memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi risiko kredit dan risiko pasar (suku bunga, nilai tukar dan harga SBN). “Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia tetap terjaga, baik dari dilihat dari sisi perbankan, korporasi maupun rumah tangga”, jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah pada 9 Januari 2015 di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta.

Dari sisi perbankan, hasil stress test dengan menggunakan data neraca dan kinerja bank posisi Oktober 2014, menunjukkan bahwa dari sisi permodalan, perbankan Indonesia masih cukup kuat meskipun terjadi penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, koreksi harga Surat Berharga Negara (SBN) dengan skenario terburuk, yaitu penurunan harga SBN sebesar 20% menunjukkan penurunan Capital Adequacy Ratio (CAR) hanya sebesar 142 bps sehingga permodalan masih cukup memadai untuk mengantisipasi risiko kerugian terkait penurunan harga SBN. Stress test secara terintegrasi dengan kombinasi risiko pasar dan risiko kredit, juga menunjukkan CAR industri perbankan maupun per kelompok BUKU masih cukup kuat diatas 8%.

Dari sisi korporasi, penguatan dolar AS akan berdampak pada peningkatan kewajiban valas korporasi terutama bagi korporasi yang memiliki Utang Luar Negeri (ULN) relatif tinggi. Peningkatan kewajiban valas korporasi yang tidak diikuti dengan peningkatan aset valas berpotensi menggerus permodalan korporasi. Terkait dengan hal tersebut, berdasarkan hasil stress test ketahanan korporasi swasta non bank yang memiliki ULN menunjukkan bahwa dari 91 korporasi yang memiliki ULN dan posisi Net Foreign Liabilities (NFL) dengan data per triwulan II 2014 diperkirakan terdapat 7 korporasi atau 8,77% dari total korporasi yang di-observasi berpotensi insolvent (equity negatif) apabila nilai tukar Rupiah melemah sampai dengan kurs Rp15.500/USD.

“Pengujian dengan skenario Rp15.500/USD tolong jangan diartikan bahwa angka tersebut adalah level tolerasi BI. Kami juga menguji dengan berbagai variasi angka. Intinya, kami tidak menetapkan level tertentu dalam stabilitasi nilai tukar rupiah”, jelas Halim Alamsyah

Selain sisi perbankan dan korporasi yang menunjukkan hasil yang positif, dari sisi Rumah Tangga (RT) juga menunjukkan tingkat leverage RT masih berada pada level yang aman. Dalam hal ini, utang RT masih dapat ditutup oleh pendapatan dan asetnya. Hal ini ditunjukkan dengan porsi pengeluaran untuk cicilan pinjaman (Debt Service Ratio/DSR) masih lebih rendah dibandingkan dengan persyaratan yang ditetapkan bank bagi calon debitur yang umumnya ditetapkan sekitar 30% dari penghasilan. Meskipun tingkat DSR RT relatif rendah, namun terdapat potensi risiko yang patut diwaspadai terutama pada kelompok RT berpenghasilan rendah. Stress test ini menggunakan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada posisi Juni 2014.

“Meskipun hasil stress test menunjukkan hasil yang positif, BI senantiasa akan menjaga ketersediaan likuiditas di pasar keuangan dan mengedepankan stabilitas nilai tukar untuk mengeliminir dampak rambatannya terhadap SSK. BI juga akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan supervisory action dan mempercepat pendalaman pasar keuangan, termasuk penyempurnaan pasar repo untuk menjaga ketersediaan likuiditas melalui pasar uang yang lebih efisien.”, pungkas Halim.

Sekilas Metodologi Stress Test

Sama seperti Bank sentral di banyak negara, Bank Indonesia juga melakukan general check-up dan stress test secara reguler untuk mengetahui daya tahan sistem keuangan dalam menghadapi krisis.

Penilaian risiko yang dilakukan antara lain berupa asesmen dampak risiko baik yang berasal dari dalam maupun di luar sistem keuangan terhadap elemen lain di sistem keuangan. Penilaian risiko lebih lanjut juga dilakukan atas rambatannya terhadap dan sektor riil atau yang lebih dikenal dengan feedback loop. Untuk saat ini, penilaian risiko tersebut dilakukan dengan fokus utama pada sektor perbankan serta pada sektor korporasi yang memiliki interkoneksi tinggi dengan sektor perbankan. Dalam penilaian risiko, dilakukan melalui penentuan stress scenario untuk melihat reaksi dari sektor perbankan, korporasi dan interaksi antar keduanya.

Halim Alamsyah, juga menjelaskan bahwa kedepan perekonomian dan sistem keuangan Indonesia akan dihadapkan oleh empat risiko utama. “Pertama, normalisasi kebijakan moneter AS. Kedua, potensi risiko likuiditas yang masih tinggi. Ketiga, berlanjutnya penurunan harga-harga komoditas. Dan terakhir adalah meningkatnya kerawanan eksternal akibat kembali naiknya rasio utang luar negeri”, jelasnya.

Melihat tantangan tersebut, Bank Indonesia menyusun stress scenario secara komprehensif baik dari sisi suku bunga, nilai tukar dan variabel makro lainnya. Secara lebih lanjut, Bank Indonesia juga melakukan pengukuran stress scenario likuiditas dan interbank secara seksama.

Exchange rate stress-test ditujukan untuk memperkirakan dampak perubahan nilai tukar terhadap modal bank dan kinerja korporasi. Interest rate stress-test mengestimasi dampak perubahan suku bunga terhadap perbankan, khususnya saat Fed melakukan normalisasi kebijakannya. Perhitungan macro stress-test lainnya dimaksudkan menganalisa dampak dari guncangan variabel makroekonomi terhadap kinerja sektor perbankan secara lebih utuh.

Bank Indonesia juga makin memperkuat credit risk stress test dengan mempertimbangkan pemburukan kinerja korporasi berbasis komoditas menyusul tren perlambatan harga komoditas global. Sementara itu, liquidity stress-test digunakan untuk menghitung kemampuan alat likuid bank atau korporasi dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya terutama jika ada kebutuhan likuiditas dalam jumlah besar dari korporasi yang memiliki eksposur komoditas yang besar. Hal tersebut juga dilengkapi dengan interbank stress-test untuk mengetahui potensi kegagalan bank dalam memenuhi kewajiban antar bank.

Secara umum, perhitungan stress test menggunakan dua pendekatan yaitu bottom-up dan top-down. Bottom-up stress-test bertujuan untuk menilai ketahanan industri perbankan atau korporasi yang didapatkan dengan menggabungkan ketahanan individu institusi keuangan atau korporasi dalam merespon guncangan yang terjadi sehingga diperoleh dampak secara agregat. Mayoritas perhitungan stress-test menggunakan metode bottom-up dilakukan secara parsial, dan terintegrasi. Selai itu, pada metode ini juga menggunakan model yang berbeda untuk setiap individual mengingat bank atau korporasi mengadopsi business model yang berbeda-beda misalnya korporasi dengan net kewajiban valas akan mengalami kerugian pada saat terjadi depresiasi nilai tukar, dan sebaliknya korporasi yang memiliki net aset valas akan mengalami keuntungan.

Di sisi lain, top-down stress-test dilakukan untuk melihat kerentanan industri perbankan atau korporasi secara agregat yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan. Berbeda dengan bottom-up stress-test yang menggunakan data dan model internal, top-down stress-test dilakukan oleh otoritas dan dihitung dengan menggunakan asumsi, model, dan perlakuan yang sama untuk semua bank atau korporasi. Saat ini, Bank Indonesia telah secara rutin melakukan top-down stress-test bagi keseluruhan bank umum dengan menggunakan balance sheet approach terhadap tiga risiko utama bank, baik secara parsial maupun terintegrasi. Selain itu, metode top-down juga digunakan dalam perhitungan macro stress-test.


04 20150112 Hasil Stress Test BI, Perbankan RI Masih Kuat
2016-03-23 03:27 PM
http://economy.okezone.com/read/2015/01/12/457/1090923/hasil-stress-test-bi-perbankan-ri-masih-kuat
Hasil Stress Test BI, Perbankan RI Masih Kuat
Meutia Febrina Anugrah, Senin, 12 Januari 2015 – 11:14 wib

JAKARTA – Hasil stress test Bank Indonesia (BI) pada Juni 2014 menunjukkan sistem keuangan Indonesia memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi risiko kredit dan risiko pasar (suku bunga, nilai tukar dan harga SBN). Stress test ini menggunakan hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada posisi Juni 2014.

“Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia tetap terjaga, baik dari dilihat dari sisi perbankan, korporasi maupun rumah tangga,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah yang dikutip dari laman resmi BI, Senin (12/1/2015).

Dari sisi perbankan, hasil stress test dengan menggunakan data neraca dan kinerja bank posisi Oktober 2014, menunjukkan bahwa dari sisi permodalan, perbankan Indonesia masih cukup kuat meskipun terjadi penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, koreksi harga Surat Berharga Negara (SBN) dengan skenario terburuk, yaitu penurunan harga SBN sebesar 20 persen menunjukkan penurunan Capital Adequacy Ratio (CAR) hanya sebesar 142 bps sehingga permodalan masih cukup memadai untuk mengantisipasi risiko kerugian terkait penurunan harga SBN.

Stress test secara terintegrasi dengan kombinasi risiko pasar dan risiko kredit, juga menunjukkan CAR industri perbankan maupun per kelompok BUKU masih cukup kuat di atas 8 persen. Dari sisi korporasi, penguatan dolar AS akan berdampak pada peningkatan kewajiban valas korporasi terutama bagi korporasi yang memiliki Utang Luar Negeri (ULN) relatif tinggi.

Peningkatan kewajiban valas korporasi yang tidak diikuti dengan peningkatan aset valas berpotensi menggerus permodalan korporasi. Terkait dengan hal tersebut, berdasarkan hasil stress test ketahanan korporasi swasta nonbank yang memiliki ULN menunjukkan bahwa dari 91 korporasi yang memiliki ULN dan posisi Net Foreign Liabilities (NFL) dengan data per triwulan II 2014 diperkirakan terdapat 7 korporasi atau 8,77 persen dari total korporasi yang di-observasi berpotensi insolvent (equity negatif) apabila nilai tukar Rupiah melemah sampai dengan kurs Rp15.500 per USD.

“Pengujian dengan skenario Rp15.500 per USD tolong jangan diartikan bahwa angka tersebut adalah level tolerasi BI. Kami juga menguji dengan berbagai variasi angka. Intinya, kami tidak menetapkan level tertentu dalam stabilitasi nilai tukar rupiah”, jelas Halim Alamsyah

Tak hanya itu, sisi Rumah Tangga (RT) juga menunjukkan tingkat leverage RT masih berada pada level yang aman. Dalam hal ini, utang RT masih dapat ditutup oleh pendapatan dan asetnya. Hal ini ditunjukkan dengan porsi pengeluaran untuk cicilan pinjaman (Debt Service Ratio/DSR) masih lebih rendah dibandingkan dengan persyaratan yang ditetapkan bank bagi calon debitur yang umumnya ditetapkan sekitar 30 persen dari penghasilan. Meskipun tingkat DSR RT relatif rendah, namun terdapat potensi risiko yang patut diwaspadai terutama pada kelompok RT berpenghasilan rendah.

“Meskipun hasil stress test menunjukkan hasil yang positif, BI senantiasa akan menjaga ketersediaan likuiditas di pasar keuangan dan mengedepankan stabilitas nilai tukar untuk mengeliminir dampak rambatannya terhadap SSK. BI juga akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan supervisory action dan mempercepat pendalaman pasar keuangan, termasuk penyempurnaan pasar repo untuk menjaga ketersediaan likuiditas melalui pasar uang yang lebih efisien.”, pungkas Halim.


03 20150325 STRESS TEST PERBANKAN: Lonceng Otoritas Membuat Deposan Terperangah
2016-03-23 03:27 PM
http://finansial.bisnis.com/read/20150325/90/415371/stress-test-perbankan-lonceng-otoritas-membuat-deposan-terperangah
STRESS TEST PERBANKAN: Lonceng Otoritas Membuat Deposan Terperangah
Novita Sari Simamora Rabu, 25/03/2015 00:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA–Dua pengawas perbankan, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) pada bulan ini baru saja memaparkan hasil stress test untuk mengetahui daya tahan industri perbankan menghadapi krisis.

Pengawas mikroprudensial dan makroprudensial merilis tema yang sama, yakni stress test, tetapimemiliki hasil berbeda.

Saat kebijakan moneter ketat, telah berimbas memperlambat bisnis bank, ditambah sentimen ekonomi global. Dalam stress test yang diadakan BI secara regular, hasil menyatakan bahwa bank-bank di Tanah Air mampu untuk memitigasi risiko. Baik risiko kredit, suku bunga, nilai tukar dan harga surat berharga negara (SBN).

Pengujian stress test itu berskenario Rp15.500 per dolar, dipadu dengan penurunan SBN hingga 20% bakal menurunkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) hingga 142 basis poin. Di sisi lain, paparan stress test, BI mengklaim bahwa modal bank masih cukup kuat.

Sedangkan pengawas mikroprudensial perbankan, memaparkan dengan skenario Rp15.000 per dolar, akan ada paling banyak 5 bank kecil yang mencatatkan modal yang terpukul.

Sontak, deposan kakap yang meletakkan dana di bank-bank kecil bertanya-tanya, “Bank apa yang mau koleps? Aduh, gimana uang kami di bank-bank itu?”

Kutipan di atas adalah curahan hati bankir kelas menengah. Dia adalah bankir yang bertugas di bank umum kegiatan usaha (BUKU) 2 dengan modal Rp1 triliun–Rp5 triliun. Bankir itu mempertanyakan kembali hasil stress test yang dirilis OJK.

“Deposan kami, banyak yang bertanya-tanya kondisi keamanan bank. Syukurnya, deposan kakap itu bertanya pada manajemen, sehingga kami menenangkan kepanikannya. Kalau deposan-deposan itu enggak konfirmasi ulang ke kami dan langsung menarik dana, maka kondisi akan sulit,” ucap bankir swasta.

Bankir itu mempertanyakan dasar otoritas yang memprediksikan akan ada sekitar 5 bank yang terpukul, apalagi mengingat fluktuatif nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sebab, dalam stress test BI, dengan skenario yang lebih tinggi Rp500 per dolar dari OJK, pun diklaim aman.

Merespons itu, Anggota Dewan Komisioner merangkap Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan skenario dan variabel yang digunakan otoritas di Lapangan Banteng dan Thamrin juga berbeda.

“OJK melalukan stress test untuk industri secara keseluruhan dan individual bank. Jadi kami lebih lengkap,” ucapnya, Kamis (19/3/2015).

Nelson menggungkapkan variable yang digunakan OJK antara lain kurs, pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Stress test yang dilakukan OJK juga mempertimbangkan profil risiko yang ada di pasar dan kondisi makro ekonomi dari hari ke hari.

Meski otoritas di Jalan Thamrin memberikan sinyal ketat sejak pertengan 2013, bank-bank kelas menengah dan kecil itu tetap optimis untuk tumbuh. Tertekan. Pasti iya. Namun optimisme tetap muncul dari bankir yang berpotensi terpukul.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengungkapkan bank sentral tetap melakukan stress test yang rutin, akan tetapi hasil tersebut tidak akan dipublikasikan secara rutin. “Kami lakukan stress test untuk bank sistemik juga,” tuturnya.

Pada kesempatan terpisah, Deputi Komisioner OJK Irwan Lubis menilai terpukulnya bank-bank kecil didongkrak oleh pemburukan kualitas aset. Apalagi mengingat tren capital adequacy ratio perbankan yang diprediksi bakal menembus 3%.

Hasil stress test, secara tersirat untuk mengingatkan bank-bank terutama bank kelas menengah dan kecil untuk kian berhati-hati mengelola kualitas aset. Bila sinyal tersebut tak direspon dengan pembenahan dan menerapkan prinsip kehati-hatian, besar kemungkinan akan ada bank yang terpukul.


05 20150402 Transparansi Stress Test
2016-03-23 03:28 PM
http://www.neraca.co.id/article/52257/transparansi-stress-test
Transparansi Stress Test
Kamis, 02/04/2015

Untuk pertama kalinya sejak 2009, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) sudah merilis terbuka hasil stress test perbankan ke publik. Meski diantara bank-bank yang tidak lolos tes terdapat Citigroup, bank ternama di AS, kebijakan The Fed itu patut kita acungi jempol dan patut ditiru oleh Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

BI dan OJK sebenarnya sudah sejak lama melakukan tes serupa untuk perbankan yang beroperasi di Indonesia, namun hasilnya tetap tidak terbuka alias tertutup mengumumkan nama bank yang gagal tes tersebut. Padahal stress test tidak termasuk dalam kategori rahasia bank yang diatur UU Bank Indonesia.

Stress test memang dapat menggambarkan kemampuan bank untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dalam kondisi krisis, yang didasarkan pada berbagai skenario. Penetapan cakupan dan frekuensi stress test harus sesuai dengan skala dan kompleksitas usaha, serta eksposur risiko likuiditas bank.

Tidak hanya The Fed. Bank Sentral Spanyol, Bank of Spain, juga sudah memutuskan akan mempublikasikan hasil stress test perbankan negara itu pada tahun lalu. Langkah Spanyol ini akan menambah tekanan pada negara Eropa lainnya untuk mengambil langkah serupa.

Dengan menggunakan skenario stress secara spesifik pada bank maupun stress pada pasar yang sudah mempertimbangkan berbagai faktor, maka pihak bank sentral dapat mengetahui potensi penyebab kondisi krisis likuiditas, durasi peristiwa dan kedalaman (severity) permasalahan yang ditimbulkan oleh bank yang bersangkutan.

Dalam menetapkan skenario untuk stress test, bank menggunakan skenario yang bersifat historis dan/atau hipotesis dengan mempertimbangkan aktivitas bisnis dan kerentanan bank. Karena krisis yang terjadi atas suatu instrumen keuangan, atau produk tertentu yang dapat berdampak pada bank yang memiliki eksposur pada suatu instrumen keuangan atau produk tertentu, misalnya produk terstruktur (structured product).

Pengalaman The Fed mengumumkan hasil uji stress perbankan telah menghasilkan efek positif pada perekonomian. Pertama, sentimen investor membaik, karena kehadiraninformasi tersebut memungkinkan mereka untuk lebih mampu menilai risiko untuk pengambilan keputusan investasi. Ini berarti bahwa aliran modal swasta di sektor keuangan akan meningkat, dan bunga obligasi bank dan utang lainnya

akan menurun. Kedua, sangat perlu untuk lulus uji yang sama perbankan sudah harus meningkatkan modalnya.

Bank Indonesia sebagai lembaga pengawas makroprudensial di negeri ini, tentu sangat berkepentingan dengan program stress test untuk menentukan skenario yang dapat mengancam kelangsungan hidup bank (reverse stress test), sehingga kemudian terungkap risiko-risiko dan interaksi antar risiko yang sebelumnya terselubung dan tidak diketahui oleh masyarakat luas.

Apalagi dengan adanya UU No. 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), BI sebagai lembaga publik sejatinya harus mematuhi ketentuan hukum tersebut. Artinya, hasil stress test perbankan wajib diumumkan ke publik sesuai UU tersebut. Karena pada hakikatnya setiap orang berhak melihat dan mengetahui informasi publik, dan menyebarluaskan informasi hasil stress test perbankan.

Hanya masalahnya pada pasal 17 huruf e (6) UU tersebut disebutkan, proses dan hasil pengawasan perbankan masuk kategori informasi yang dikecualikan, sehingga masyarakat tidak dapat mengakses informasi seperti hasil stress test perbankan. Nah, DPR seharusnya cepat tanggap mengajukan usulan perubahan pasal tersebut, mengingat dinamika perubahan sangat cepat sekali. Kebijakan The Fed yang mengumumkan secara terbuka sejatinya menjadi dasar untuk mengubah pasal tersebut.


02 20150815 BCA, Permata conduct stress tests as rupiah falls
2016-03-23 03:26 PM
http://www.thejakartapost.com/news/2015/08/15/bca-permata-conduct-stress-tests-rupiah-falls.html
BCA, Permata conduct stress tests as rupiah falls
The Jakarta Post, Jakarta | Business | Sat, August 15 2015, 4:10 PM

Bank Central Asia (BCA), the country’s third largest bank, said its financial performance would be resilient enough to cope with the impact of the sharp depreciation of the rupiah against the US dollar even if the rupiah continued falling.

BCA president director Jahja Setiaatmadja said its stress test showed that the bank would be resilient enough to face rupiah depreciation as it had minimal exposure to dollar-denominated loans.

“We learned a lot from our experience in 1998,” Jahja said on Friday as quoted by Kontan newspaper in reference to the time when Indonesian currency fell to as low as Rp 15,000 per US dollar, a situation which led to Indonesia’s worst ever financial crisis.

Jahja said that during the 1998 financial crisis, the share of dollar-denominated loans in the total portfolio touched 35 percent, which significantly affected the bank’s financial performance. The bank then reduced the quantity of dollar loans to reduce the risk of a second crisis.

BCA recently joined a stress test carried out by the Financial Services Authority (OJK) to gauge the impact of the depreciation of the rupiah on its financial performance. The test was based on a simulation of what would happen if the rupiah fell to Rp 14,000 per dollar.

The rupiah fell 0.14 percent to close at Rp 13,787 per dollar on Thursday, based on data compiled by Bloomberg. Meanwhile, Indonesian currency reached 13,381 in the Wednesday afternoon trading session, the weakest level in 17 years since the 1998 Asian financial crisis.

Dollar loans stood at US$1.5 billion, 5.7 percent of BCA’s total outstanding loans, which was Rp 347 trillion in the first half of the year, up 7.9 percent from the previous year

Meanwhile, Sinarmas Sekuritas analyst Evan Lie Hadiwidjaja said that BCA had been conservative about its loan expansion, highlighting quality over loan portfolio growth to avoid non-performing loans (NPL).

The bank’s NPL for the first half of the year stood at 0.7 percent, still under the average for the country’s banking sector, 2.5 percent.

Meanwhile, publicly listed PermataBank also conducted a routine stress test to measure the bank’s capital resilience against the worsening economy. Among the factors tested were the performance of borrowers, loan-loss provision, NPLs, risk-weighted assets (RWA) and capital adequacy ratio (CAR).

PermataBank’s president director Roy Arman Arfandy said the bank used different scenarios of rupiah value in the stress test. “The impact of the rupiah fluctuation on the bank’s NOP [net open position] is not significant to the bank’s performance, as the bank’s openness to foreign exchange is relatively small,” said Roy.

He added that in the scenario where the rupiah stood at Rp 14,000 per dollar, the bank would not suffer significantly in its NPR, CAR and loan to deposit ratio (LDR).
However, the rupiah depreciation would affect corporate borrowers, which are engaged in import activities, he said.

The bank has taken measures to keep its financial performance intact, including a more careful approach to channel loans in the commodities and automotive sector to keep the NPL level down, as well as focus on the earnings from fee-based income.

Its fee-based income increased by 34.9 percent to Rp 1.1 trillion in the first half of the year from Rp 815 billion in the same period last year. The increase was driven by bancassurance, trade finance, as well as its equity participation in PT Astra Sedaya Finance. Meanwhile, its net profit was up 5 percent to Rp 837 billion in the first half of the year, compared to Rp 801 billion last year. (fsu)


07 DEFINISI STABILITAS SISTEM KEUANGAN
2016-03-24 06:37 AM
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/ikhtisar/definisi/Contents/Default.aspx
DEFINISI STABILITAS SISTEM KEUANGAN

Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) sebenarnya belum memiliki definisi baku yang telah diterima secara internasional. Oleh karena itu, muncul beberapa definisi mengenai SSK yang pada intinya mengatakan bahwa suatu sistem keuangan memasuki tahap tidak stabil pada saat sistem tersebut telah membahayakan dan menghambat kegiatan ekonomi. Di bawah ini dikutip beberapa definisi SSK yang diambil dari berbagai sumber:

” Sistem keuangan yang stabil mampu mengalokasikan sumber dana dan menyerap kejutan (shock) yang terjadi sehingga dapat mencegah gangguan terhadap kegiatan sektor riil dan sistem keuangan.”

” Sistem keuangan yang stabil adalah sistem keuangan yang kuat dan tahan terhadap berbagai gangguan ekonomi sehingga tetap mampu melakukan fungsi intermediasi, melaksanakan pembayaran dan menyebar risiko secara baik.”

” Stabilitas sistem keuangan adalah suatu kondisi dimana mekanisme ekonomi dalam penetapan harga, alokasi dana dan pengelolaan risiko berfungsi secara baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi.”

Arti stabilitas sistem keuangan dapat dipahami dengan melakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang dapat menyebabkan instabilitas di sektor keuangan. Ketidakstabilan sistem keuangan dapat dipicu oleh berbagai macam penyebab dan gejolak. Hal ini umumnya merupakan kombinasi antara kegagalan pasar, baik karena faktor struktural maupun perilaku. Kegagalan pasar itu sendiri dapat bersumber dari eksternal (internasional) dan internal (domestik). Risiko yang sering menyertai kegiatan dalam sistem keuangan antara lain risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar dan risiko operasional.

Meningkatnya kecenderungan globalisasi sektor finansial yang didukung oleh perkembangan teknologi menyebabkan sistem keuangan menjadi semakin terintegrasi tanpa jeda waktu dan batas wilayah. Selain itu, inovasi produk keuangan semakin dinamis dan beragam dengan kompleksitas yang semakin tinggi. Berbagai perkembangan tersebut selain dapat mengakibatkan sumber-sumber pemicu ketidakstabilan sistem keuangan meningkat dan semakin beragam, juga dapat mengakibatkan semakin sulitnya mengatasi ketidakstabilan tersebut.

Identifikasi terhadap sumber ketidakstabilan sistem keuangan umumnya lebih bersifat forward looking (melihat kedepan). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi risiko yang akan timbul serta akan mempengaruhi kondisi sistem keuangan mendatang. Atas dasar hasil identifikasi tersebut selanjutnya dilakukan analisis sampai seberapa jauh risiko berpotensi menjadi semakin membahayakan, meluas dan bersifat sistemik sehingga mampu melumpuhkan perekonomian.

DefinisiSSK.jpg
Bagan – Hubungan antara stabilitas sistem keuangan dengan stabilitas moneter


08 PENTINGNYA STABILITAS SISTEM KEUANGAN
2016-03-24 06:44 AM
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/ikhtisar/pentingnya/Contents/Default.aspx
PENTINGNYA STABILITAS SISTEM KEUANGAN

Sistem keuangan memegang peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Sebagai bagian dari sistem perekonomian, sistem keuangan berfungsi mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus kepada yang mengalami defisit. Apabila sistem keuangan tidak stabil dan tidak berfungsi secara efisien, pengalokasian dana tidak akan berjalan dengan baik sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi. Pengalaman menunjukkan, sistem keuangan yang tidak stabil, terlebih lagi jika mengakibatkan terjadinya krisis, memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk upaya penyelamatannya.

Pelajaran berharga pernah dialami Indonesia ketika terjadi krisis keuangan tahun 1998, dimana pada waktu itu biaya krisis sangat signifikan. Selain itu, diperlukan waktu yang lama untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. Krisis tahun 1998 ini membuktikan bahwa stabilitas sistem keuangan merupakan aspek yang sangat penting dalam membentuk dan menjaga perekonomian yang berkelanjutan. Sistem keuangan yang tidak stabil cenderung rentan terhadap berbagai gejolak sehingga mengganggu perputaran roda perekonomian.

Secara umum dapat dikatakan bahwa ketidakstabilan sistem keuangan dapat mengakibatkan timbulnya beberapa kondisi yang tidak menguntungkan seperti:

  • Transmisi kebijakan moneter tidak berfungsi secara normal sehingga kebijakan moneter menjadi tidak efektif.
  • Fungsi intermediasi tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya akibat alokasi dana yang tidak tepat sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi.
  • Ketidakpercayaan publik terhadap sistem keuangan yang umumnya akan diikuti dengan perilaku panik para investor untuk menarik dananya sehingga mendorong terjadinya kesulitan likuiditas.
  • Sangat tingginya biaya penyelamatan terhadap sistem keuangan apabila terjadi krisis yang bersifat sistemik.

Atas dasar kondisi di atas, upaya untuk menghindari atau mengurangi risiko kemungkinan terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan sangatlah diperlukan, terutama untuk menghindari kerugian yang begitu besar lagi.


06 KERANGKA STABILITAS SISTEM KEUANGAN
2016-03-23 03:29 PM
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/peran-bi/kerangka/Contents/Default.aspx
KERANGKA STABILITAS SISTEM KEUANGAN

Dalam kapasitasnya menjaga stabilitas sistem keuangan, tidak seluruh cakupan dalam sistem keuangan berada dalam wewenang Bank Indonesia. Di sisi lain, sebagai sebuah sistem, stabilitas keuangan harus dilakukan secara utuh. Oleh karena itu, dalam menjaga stabilitas sistem keuangan secara menyeluruh diperlukan kerangka kerjasama dengan lembaga terkait yaitu pemerintah dan otoritas jasa keuangan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari duplikasi dan gesekan kepentingan dari masing-masing lembaga terkait. Gambaran umum kerangka stabilitas sistem keuangan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Misi dan Tujuan

Penetapan misi dan tujuan dimaksudkan untuk memberikan landasan yang jelas bagi lembaga yang memonitor stabilitas sistem keuangan. Di banyak negara, misi untuk menjaga stabilitas keuangan dilakukan oleh bank sentral (misal: Inggris, Australia, Korea dan Malaysia). Di Indonesia sendiri, tugas ini sudah termasuk dalam tugas pokok Bank Indonesia, yaitu mencapai dan memelihara stabilitas Rupiah melalui stabilitas moneter dan didukung oleh stabilitas keuangan. Jadi dalam prakteknya, fungsi untuk menjaga stabilitas moneter tidak dapat terlepas dari fungsi menjaga stabilitas sistem keuangan.

Strategi

Dalam menjaga stabilitas sistem keuangan diperlukan strategi monitoring stabilitas sistem keuangan dan solusi bila terjadi krisis. Strategi tersebut mencakup koordinasi dan kerjasama, pemantauan, pencegahan krisis dan manajemen krisis.

1. Koordinasi dan kerjasama

Upaya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, selain dilakukan oleh Bank Indonesia juga oleh instansi terkait lainnya. Jadi berbagai instrumen dalam stabilitas sistem keuangan, tidak hanya ditentukan oleh bank sentral, tetapi juga oleh otoritas lainnya. Untuk pengelolaan informasi dan efektivitas kebijakan dalam stabilisasi sistem keuangan, maka perlu adanya koordinasi antara lembaga tersebut. Hal ini dimaksudkan agar setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh otoritas yang terlibat dalam stabilitas sistem keuangan, dapat terhindar dari pertentangan dan dampak negatif. Pengalaman di negara lain menunjukkan bahwa koordinasi sulit terjadi apabila fungsi pengawasan & pengaturan perbankan dipisahkan dari bank sentral. Namun jika pemisahan terpaksa harus dilakukan, maka koordinasi dapat dilakukan melalui pembentukan Forum Stabilitas Sistem Keuangan yang beranggotakan bank sentral (Bank Indonesia), otoritas pengawas sistem keuangan, dan pemerintah yang didukung oleh kekuatan hukum.

2. Pemantauan

Pemantauan terhadap stabilitas keuangan penting dilakukan untuk mampu mengukur tekanan risiko yang akan timbul, khususnya gangguan yang bersifat sistemik atau dapat menciptakan krisis. Melalui deteksi dini ini, pencegahan terjadinya instabilitas keuangan yang mematikan perekonomian dapat dilakukan melalui kebijakan bank sentral maupun pemerintah. Pemantauan stabilitas keuangan merupakan tugas bank sentral yang merupakan satu kesatuan dalam menjaga stabilitas keuangan. Ada dua indikator utama yang menjadi target pemantauan, yakni indikator microprudential dan indikator makroekonomi. Kedua indikator tersebut saling melengkapi sebagai aksi dan reaksi dalam sistem keuangan dan ekonomi. Pemantauan indikator microprudential dilakukan terhadap kondisi mikro institusi keuangan dalam sistem keuangan. Melalui pemantauan ini dapat diketahui potensi risiko likuiditas, risiko pasar, risiko kredit dan rentabilitas institusi keuangan, yang dimaksudkan untuk mengukur ketahanan sistem keuangan. Pemantauan indikator makroekonomi juga perlu dilakukan terhadap kondisi makroekonomi domestik maupun internasional yang berdampak signifikan terhadap stabilitas keuangan. Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, selanjutnya dilakukan analisis guna memprediksi kondisi stabilitas sistem keuangan.

Indikator Pengukuran Stabilitas Sistem Keuangan

Indikator microprudential (Agregat)
Kecukupan modal
§ Rasio modal agregat

Kualitas Aset

  • Bagi Kreditur

§ Konsentrasi kredit secara sektoral
§ Pinjaman dalam mata uang asing
§ Pinjaman terhadap pihak terkait, kredit macet (NPL) dan pencadangannya

  • Bagi Debitur

§ DER (rasio hutang thd modal), laba perusahaan

Manajemen Sistem Keuangan yang Sehat
§ Pertumbuhan jumlah lembaga keuangan, dan lain-lain

Pendapatan dan Keuntungan
§ ROA, ROE, dan rasio beban terhadap pendapatan

Likuiditas
§ Kredit bank sentral kpd Lemb.Keu, LDR, struktur jangka waktu aset dan kewajiban

Sensitivitas terhadap risiko pasar
§ Risiko nilai tukar, suku bunga dan harga saham

Indikator berbasis pasar
§ Harga pasar instrumen keuangan, peringkat kredit, sovereign yield spread, dll.

Indikator makroekonomi
Pertumbuhan ekonomi
§ Tingkat pertumbuhan agregat
§ Sektor ekonomi yang jatuh

BOP
§ Defisit neraca berjalan
§ Kecukupan cadangan devisa
§ Pinjaman luar negeri (termasuk struktur jangka waktu)
§ Term of trade
§ Komposisi dan jangka waktu aliran modal

Inflasi
§ Volatilitas inflasi

Suku Bunga dan Nilai Tukar
§ Volatilitas suku bunga dan nilai tukar
§ Tingkat suku bunga domestik
§ Stabilitas nilai tukar yang berkelanjutan
§ Jaminan nilai tukar

Efek menular
§ Trade spillover
§ Korelasi pasar keuangan

Faktor-faktor lain
§ Investasi dan pemberian pinjaman yang terarah
§ Dana pemerintah pada sistem perbankan
§ Hutang jatuh tempo

3. Pencegahan Krisis

Pencegahan krisis dilakukan dengan cara mencegah ketidakstabilan dalam sistem keuangan. Terdapat berbagai langkah kebijakan untuk mengatasi ketidakstabilan dalam sistem keuangan. Langkah-langkah tersebut diadopsi dari standar/regulasi yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga internasional, seperti International Monetary fund (IMF), Bank for International Settlement (BIS), maupun asosiasi profesional lainnya.

4. Manajemen krisis

Meskipun pendekatan untuk mencegah timbulnya krisis cukup banyak, namun tidak ada jaminan bahwa krisis tidak akan terjadi lagi. Karena potensi terjadinya krisis selalu ada, maka perlu adanya pengelolaan krisis. Manajemen krisis ini berisi prosedur penyelesaian krisis dan kejelasan peran serta tanggung jawab dari masing-masing institusi yang terlibat didalamnya. Apabila suatu bank dinyatakan dalam kesulitan misalnya, maka diperlukan langkah-langkah di bawah ini:

Institusi yang berwenang harus menetapkan apakah bank yang dinyatakan dalam kesulitan itu tergolong sistemik atau tidak.
Proses penyelamatan harus ditetapkan secara hukum mengingat adanya penggunaan dana publik dalam proses penyelamatan tersebut.
Peran Bank Indonesia, otoritas pengawasan, dan pemerintah harus ditetapkan secara jelas.


09 PERAN BANK INDONESIA DALAM STABILITAS KEUANGAN
2016-03-24 06:45 AM
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/peran-bi/peran/Contents/Default.aspx
PERAN BANK INDONESIA DALAM STABILITAS KEUANGAN

Sebagai otoritas moneter, perbankan dan sistem pembayaran, tugas utama Bank Indonesia tidak saja menjaga stabilitas moneter, namun juga stabilitas sistem keuangan (perbankan dan sistem pembayaran). Keberhasilan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas moneter tanpa diikuti oleh stabilitas sistem keuangan, tidak akan banyak artinya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Stabilitas moneter dan stabilitas keuangan ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Kebijakan moneter memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas keuangan begitu pula sebaliknya, stabilitas keuangan merupakan pilar yang mendasari efektivitas kebijakan moneter. Sistem keuangan merupakan salah satu alur transmisi kebijakan moneter, sehingga bila terjadi ketidakstabilan sistem keuangan maka transmisi kebijakan moneter tidak dapat berjalan secara normal.
Sebaliknya, ketidakstabilan moneter secara fundamental akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan akibat tidak efektifnya fungsi sistem keuangan. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa stabilitas sistem keuangan juga masih merupakan tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia.

Pertanyaannya, bagaimana peranan Bank Indonesia dalam memelihara stabilitas sistem keuangan? Sebagai bank sentral, Bank Indonesia memiliki lima peran utama dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Kelima peran utama yang mencakup kebijakan dan instrumen dalam menjaga stabilitas sistem keuangan itu adalah:

Pertama, Bank Indonesia memiliki tugas untuk menjaga stabilitas moneter antara lain melalui instrumen suku bunga dalam operasi pasar terbuka. Bank Indonesia dituntut untuk mampu menetapkan kebijakan moneter secara tepat dan berimbang. Hal ini mengingat gangguan stabilitas moneter memiliki dampak langsung terhadap berbagai aspek ekonomi.
Kebijakan moneter melalui penerapan suku bunga yang terlalu ketat, akan cenderung bersifat mematikan kegiatan ekonomi. Begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, untuk menciptakan stabilitas moneter, Bank Indonesia telah menerapkan suatu kebijakan yang disebut inflation targeting framework.

Kedua, Bank Indonesia memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan yang sehat, khususnya perbankan. Penciptaan kinerja lembaga perbankan seperti itu dilakukan melalui mekanisme pengawasan dan regulasi. Seperti halnya di negara-negara lain, sektor perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan.
Oleh sebab itu, kegagalan di sektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan mengganggu perekonomian. Untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut, sistem pengawasan dan kebijakan perbankan yang efektif haruslah ditegakkan. Selain itu, disiplin pasar melalui kewenangan dalam pengawasan dan pembuat kebijakan serta penegakan hukum (law enforcement) harus dijalankan.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa negara-negara yang menerapkan disiplin pasar, memiliki stabilitas sistem keuangan yang kokoh. Sementara itu, upaya penegakan hukum (law enforcement) dimaksudkan untuk melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap sistem keuangan. Untuk menciptakan stabilitas di sektor perbankan secara berkelanjutan, Bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan rencana implementasi Basel II.

Ketiga, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran. Bila terjadi gagal bayar (failure to settle) pada salah satu peserta dalam sistem sistem pembayaran, maka akan timbul risiko potensial yang cukup serius dan mengganggu kelancaran sistem pembayaran. Kegagalan tersebut dapat menimbulkan risiko yang bersifat menular (contagion risk) sehingga menimbulkan gangguan yang bersifat sistemik.
Bank Indonesia mengembangkan mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi risiko dalam sistem pembayaran yang cenderung semakin meningkat. Antara lain dengan menerapkan sistem pembayaran yang bersifat real time atau dikenal dengan nama sistem RTGS (Real Time Gross Settlement) yang dapat lebih meningkatkan keamanan dan kecepatan sistem pembayaran.
Sebagai otoritas dalam sistem pembayaran, Bank Indonesia memiliki informasi dan keahlian untuk mengidentifikasi risiko potensial dalam sistem pembayaran.

Keempat, melalui fungsinya dalam riset dan pemantauan, Bank Indonesia dapat mengakses informasi-informasi yang dinilai mengancam stabilitas keuangan. Melalui pemantauan secara macroprudential, Bank Indonesia dapat memonitor kerentanan sektor keuangan dan mendeteksi potensi kejutan (potential shock) yang berdampak pada stabilitas sistem keuangan.
Melalui riset, Bank Indonesia dapat mengembangkan instrumen dan indikator macroprudential untuk mendeteksi kerentanan sektor keuangan. Hasil riset dan pemantauan tersebut, selanjutnya akan menjadi rekomendasi bagi otoritas terkait dalam mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meredam gangguan dalam sektor keuangan.

Kelima, Bank Indonesia memiliki fungsi sebagai jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort (LoLR). Fungsi LoLR merupakan peran tradisional Bank Indonesia sebagai bank sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. Fungsi sebagai LoLR mencakup penyediaan likuiditas pada kondisi normal maupun krisis.
Fungsi ini hanya diberikan kepada bank yang menghadapi masalah likuiditas dan berpotensi memicu terjadinya krisis yang bersifat sistemik. Pada kondisi normal, fungsi LoLR dapat diterapkan pada bank yang mengalami kesulitan likuiditas temporer namun masih memiliki kemampuan untuk membayar kembali. Dalam menjalankan fungsinya sebagai LoLR, Bank Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard. Oleh karena itu, pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan yang ketat harus diterapkan dalam penyediaan likuiditas tersebut.

inflation targeting framework http://www.bi.go.id/id/moneter/kerangka-kebijakan
mekanisme pengawasan dan regulasi http://www.bi.go.id/id/peraturan/perbankan
Arsitektur Perbankan Indonesia http://www.bi.go.id/id/perbankan/arsitektur/struktur
implementasi Basel II http://www.bi.go.id/id/perbankan/implementasi-basel
sistem pembayaran http://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran
jaring pengaman sistim keuangan http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/manajemen-krisis/jaring-pengaman


10 FORUM STABILITAS SISTEM KEUANGAN
2016-03-24 06:50 AM
http://www.bi.go.id/id/perbankan/ssk/forum/Contents/Default.aspx
FORUM STABILITAS SISTEM KEUANGAN

Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FSSK) adalah forumkoordinasi, kerja sama dan pertukaran informasi antara otoritas yang berkepentingan dalam pemeliharaan stabilitas sistem keuangan Indonesia. Forum ini sangat diperlukan terutama dalam menghadapi risiko atau dampak sistemik, yang penyelesaiannya menuntut kebijakan dan pengambilan keputusan bersama secara efektif dan responsif. FSSK dibentuk pada tanggal 30 Desember 2005, berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.

Empat fungsi pokok FSSK, yakni :
1. Menunjang pelaksanaan tugas Komite Koordinasi dalam proses pengambilan keputusan terhadap Bank Bermasalah yang ditengarai sistemik;
2. Melakukan koordinasi dan tukar menukar informasi untuk sinkronisasi peraturan perundang-undangan dan ketentuan di bidang perbankan, lembaga keuangan non bank, dan pasar modal;
3. Membahas berbagai permasalahan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga yang berkecimpung dalam sistem keuangan yang berpotensi sistemik berdasarkan informasi dari otoritas pengawas lembaga keuangan;
4. Mengkoordinasikan pelaksanaan atau persiapan inisiatif tertentu di sektor keuangan.

Untuk memudahkan pelaksanaan keempat fungsi di atas, FSSK dikelompokkan dalam tiga jenjang, yakni:
1. Forum Pengarah, bertugas memberikan arahan kepada Forum Pelaksana mengenai fungsi pokok FSSK. Forum Pengarah terdiri dari 7 orang anggota, yakni 3 orang setingkat Direktur Jenderal (Dirjen) Departemen Keuangan, 3 orang anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia dan 1 orang Kepala Eksekutif LPS.
2. Forum Pelaksana, bertugas melaksanakan fungsi pokok FSSK sesuai arahan dari Forum Pengarah terdiri dari 14 orang anggota, yakni 6 orang Direktur di Departemen Keuangan, 6 orang Direktur Bank Indonesia, dan 2 orang Direktur LPS.
3. Tim Kerja, berfungsi menunjang kelancaran tugas Forum Pengarah dan Forum Pelaksana, beranggotakan pejabat-pejabat dari Departemen Keuangan, BI dan LPS yang dibentuk berdasarkan usulan dari masing-masing lembaga dan keputusan Forum Pengarah.


11 SERBA-SERBI STABILITAS SISTEM KEUANGAN
2016-03-24 06:50 AM
SERBA-SERBI STABILITAS SISTEM KEUANGAN

Tanggal Judul Hits
09-01-2015 Uji Daya Tahan Sistem Keuangan Indonesia, BI Lakukan Stress Test Secara Reguler 3910
28-10-2014 Siklus Keuangan Indonesia Mengindikasikan Perlambatan 3293
21-10-2014 Stress Test BI Menunjukkan Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia Tetap Terjaga Menghadapi Risiko Capital Outflow 3022
12-09-2014 Stabilitas Sistem Keuangan : Likuiditas dan Risiko Kredit Perbankan Indonesia Masih Terkendali 3467


Advertisements