Pentolan Pertamina digusur gara-gara sama-sama rebutan proyek?

Pentolan Pertamina digusur gara-gara rebutan proyek

Semua orang tahu, Pertamina merupakan ladang dan sumber korupsi yang akut. Terutama pada sektor pengadaan. Mau cari easy hard cash kemana lagi?

Caranya bisa ngutip satu sen dollar dari milyaran dollar yang dibayar tunai. atau dari nilai tukar dollar terhadap rupiah. atau dari biaya transportasi, mulai dari pengapalan, distribusi, alokasi, atau lainnya.

tikus punya cara tersendiri untuk menggali ribuan terowongan di bawah jalur resmi.

mana ada maling yang mau ngajarin dan diajarin? maling itu mandiri. kalau dia tahu dia diajarin, dia langsung tahu, gue bakalan kena kibus.

emang ada maling mau diakalin?

ada semacam kode etik di antara sesama maling.

There is honor among thieves.


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357288/pertamina-gelar-rups-hari-ini-ada-yang-dicopot
Pertamina Gelar RUPS Hari Ini, Ada Yang Dicopot?
Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 09:40 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Kalau tak ada aral melintang, hari ini (Jumat, 3/2/2017), PT Pertamina (Persero) bakal menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta. Acara digelar pukul 10.00 WIB.

Berdasarkan informasi di kalangan wartawan Kementerian BUMN, berkembang isu panas menyangkut petinggi BUMN sektor migas ini. Ya apalagi kalau tidak perombakan. Padahal, kinerja Pertamina di bawah Dwi Soetjipto lumayan moncer.

Pada Semeseter I-2016 misalnya, PT Pertamina (Persero) bisa untung Rp 8,3 triliun dari berdagang BBM. Selain itu, Pertamina berhasil menerapkan efisiensi besar-besaran.

Dengan tata kelola yang baik, wajar bila Pertamina sangat ekspansif. Ingin membangun kilang baru, serta mengelola sejumlah blok migas secara optimal di sejumlah daerah.

Beredarnya informasi soal pergantian di jajaran direksi, bikin resah. Tapi, kita tunggu saja kepastiannya beberapa jam ke depan. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357297/rups-pertamina-dirut-dan-wadirut-tergusur
RUPS Pertamina, Dirut dan Wadirut Tergusur?
Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 10:10 WIB


Dirut Pertamina Dwi Soetjipto dan Wadirut Pertamina Ahmad Bambang – (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta – Terkait Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar PT Pertamina (Persero) di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (3/2/2017), ada isu menarik. Kabarnya dua bos BUMN migas ini bakal diganti.

Di kalangan wartawan ESDM, tersiar kabar adanya informasi pencopotan dua pucuk pimpinan Pertamina. Yakni Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto dan Wakil Direktur Utama Pertamina Ahmad Bambang.

Kabarnya, dalam RUPS Pertamina hari ini, keduanya bakal resmi dicopot Menteri BUMN Rini Soemarno.

Sekedar mengingatkan saja, Dwi Soetjipto sebelumnya menjabat Dirut PT Semen Indonesia. Pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur yang hobi silat ini dipilih memimpin Pertamina sejak November 2014.

Sedangkan Ahmad Bambang diangkat sebagai Wadirut Pertamina per Oktober 2016. Sebelumnya, pria kelahiran Kediri, Jawa Timur ini menjabat sebagai direktur pemasaran Pertamina.

Di bawah Dwi Soetjipto, kinerja Pertamina lumayan kinclong. Pada Semester I-2016 misalnya, PT Pertamina (Persero) bisa untung Rp 8,3 triliun dari berdagang BBM. Selain itu, Pertamina berhasil menerapkan efisiensi besar-besaran.

Dengan tata kelola yang baik, wajar bila Pertamina sangat ekspansif. Ingin membangun kilang baru, serta mengelola sejumlah blok migas secara optimal di sejumlah daerah.

Belum diketahui secara pasti apa penyebab kedua petinggi Pertamina dicopot. Kabarnya, Rachmad Hardadi yang menjabat sebagai Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Pertamina, bakal ditunjuk sebagai plt direktur utama. Sampai ada dirut dan wadirut definitif. Rahmad Hardadi menjabat sebagai Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357303/jelang-rups-inilah-cuitan-wadirut-pertamina
Jelang RUPS, Inilah Cuitan Wadirut Pertamina
Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 10:20 WIB


Wadirut Pertamina Ahmad Bambang – (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta – Isu pergantian direksi PT Pertamina (Persero) bertiup kencang sebelum RUPS digelar hari ini (Jumat, 3/2/2017). Ada cuitan Wakil Dirut Ahmad Bambang, salah satu yang kena ‘reshuffle’.

Melalui akun twitter Ahmad Bambang yakni abe_ptm, pada 3 Februari 2017, pukul 06.51 tertuliskan begini. “Alhamdulillah telah aku tunaikan amanah ini meski dgn tertatih-tatih. Semoga bermanfaat bagi orang banyak dalam jangka panjang. Aamiin.”

Bisa jadi dari cuitan Abe, sapaan akrab Ahmad Bambang, mengkonfirmasi dirinya dicopot dari posisi wadirut Pertamina. Kerja keras pria kelahiran Kediri, Jawa Timur hingga tertatih-tatih, akhirnya lewat juga. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357311/bos-bos-pertamina-temui-menteri-bumn
Bos-bos Pertamina Temui Menteri BUMN
Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 10:56 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Jajaran direksi dan Komisaris Pertamina merapat ke Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pagi ini, Jumat (3/2/2017). Hal ini berkaitan dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menyusul perombakan dua direksi di jabatan tinggi Pertamina.

Menurut pantauan, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto dan Wakil Direktur Utama, Ahmad Bambang serta Direktur Hulu Pertamina, Syamsu Alam sudah hadir di Kantor Kementerian BUMN pukul 10:00.

Disusul oleh Wakil Komisaris Utama Pertamina, Arcandra Tahar, keempatnya kompak masuk melalui pintu bawah.

Sementara Komisaris Utama Pertamina, Tanri Abeng hadir dalam waktu yang sama hanya saja melalui pintu utama.

Saat ditemui wartawan, Tjip dan Syamsu Alam kompak mengatakan tidak tahu menahu mengenai kedatangannya pagi ini. “Engga tahu, diundang aja datang ke sini,” ucap Tjip, Jumat (3/2/2017).

Menurut informasi yang diterima INILAHCOM, Wakil Direktur Utama Pertamina, Ahmad Bambang, bakal memberikan keterangan persnya mengenai perombakan direksi tersebut.


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357340/dirut-wadirut-pertamina-mental-mendadak
Dirut & Wadirut Pertamina Mental Mendadak
Oleh : Uji sukma medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 13:38 WIB


Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Tanri Abeng – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Tanri Abeng menuturkan alasan pencopotan dua petinggi PT Pertamina (Persero), terkait matahari kembar.

Kata Tanri, nomenklatur jabatan Wakil direktur utama dihapus. Di mana, RUPS memutuskan untuk tidak ada posisi wakil dirut. “Sesuai keputusan RUPS yang tadi disampaikan. Gak ada lagi yang namanya wadirut,” terang Tanri di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (3/2/2017).

Selanjutnya, kata Tanri, kalaupun mungkin akan dipertahankan sembilan direktur. Namun nomunklaturnya berubah. “Fokusnya juga berubah. Penugasan (kewenangannya) juga berubah. Ini juga penelahaan kembali oleh dewan komut,” kata dia.

Tanri menambahkan,adanya teamwork dalam sebuah organisasi memang penting. Hanya saja, kata dia, terkadang struktur organisasi (wadirut) itu mengganjal akan terjadinya kerja tim yang efektif.

Ya, Tanri yang pernah menjadi manager Bir Bintang bergaji semiliar, boleh saja bilang nomenklatur wadirut dihapus. Tapi, posisi Dwi Sotjipto sebagai direktur utara kok mental juga? [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357347/sarjana-hukum-pimpin-pertamina
Sarjana Hukum Pimpin Pertamina
Oleh : Uji sukma medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 14:00 WIB


plt Dirut Pertamina Yenny Andayani – (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta – Sejak hari ini (Jumat, 3/2/2017), Dwi Soetjipto tak lagi menjabat direktur utama PT Pertamina (Persero). Berdasarkan keputusan RUPS, dia dicopot. Pengganti sementaranya adalah Yenni Andayani.

Sebelum ditunjuk sebagai pelaksana tugas (plt), Yenni adalah Direktur Gas dan Energi Baru Terbarukan Pertamina per 28 November 2014. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri BUMN No.SK 265/MBU/11/2014 tanggal 28 November 2014 dan SK No.Kpts-051/ C00000/2014-S0 tentang Tugas dan Wewenang Direksi dan Perubahan Garis Lapor Organisasi PT Pertamina (Persero).

Wanita kelahiran 24 Maret 1965 ini, memulai karir di Pertamina pada 1991. Dirinya sempat menjadi direktur utama PT Nusantara Gas Company Services di Osaka, Jepang, Direktur Utama PT Donggi-Senoro LNG (2009-2012) dan Senior Vice President Gas and Power, Direktorat Gas PT Pertamina (Persero) (2013-2014).

Dan, lulusan Sarjana Hukum Universitas Parahyangan tahun 1988 ini, sempat menduduki sejumlah posisi strategis di Pertamina. Misalnya menjadi Senior Vice President Gas and Power Direktorat Gas, Vice President Strategic Planning & Business. Yenny juga sempat mendaftar kerja di salah satu media nasional sebagai jurnalis dan Kementerian Luar Negeri RI. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357360/gonjang-ganjing-di-pertamina-dwi-dicopot
Gonjang-ganjing di Pertamina, Dwi Dicopot
Oleh : Latihono Sujantyo | Jumat, 3 Februari 2017 | 14:13 WIB


Dwi Soetjipto – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta – Ada apa di balik pencopotan Dwi Soetjipto sebagai Dirut Pertamina?

Hari ini, Jumat (03/02/2017), jabatan Dwi Soetjipto sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) dicopot lewat rapat umum pemegang saham (RUPS). Berbarengan dengan itu, posisi Ahmad Bambang sebagai Wakil Direktur Utama juga dicopot. RUPS juga memutuskan meniadakan jabatan Wakil Direktur Utama Pertamina.

Benarkah? Bisa jadi demikian. Hanya saja, banyak kalangan mengatakan, sebenarnya matahari kembar di Pertamina tidak akan muncul seandainya tidak ada surat usulan dari jajaran komisaris. Asal tahu saja, pada 8 Agustus 2016 Dewan Komisari Pertamina mengirim surat kepada Menteri BUMN Rini Soemarno berjudul: Usulan Perubahan Struktur dan Penambahan Anggota Direksi Pertamina.

Surat ini ditekenoleh Komisaris Utama Tanri Abeng, Wakil Komisaris Utama Edwin Hidayat Abdullah, dan komisaris lainnya, yakni Sahala Lumban Gaol, Suahasil Nazara, dan Widhyawan Prawiraatmadja.

Dalam surat tersebut, Dewan Komisaris Pertamina mengusulkan penambahan dua direksi,yakni Wakil Direktur Utama Hilir dan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia.

Wakil Direktur Utama akan bertindak selaku Chief Operating Officer (COO) pada sektor hilir dan EBT.Posisi ini sekaligus memimpin dan mengkoordinasikan Direktur Marketing dan Retail, Direktur Pengolahan dan Senior Vice President EBT. Selain itu,Wakil Direktur Utama bertanggung jawab secara keseluruhan atas kinerja operasional dan finansial pada sektor hilir, seluruh kilang eksisting dan pemanfaatan EBT.

Tak sampai berhenti sampai di situ tanggung jawab Wakil Direktur Utama. Ia juga bertanggung jawab memimpin dan mengawasi pelaksanaan kebijakan dan keputusan direksi dalam kegiatan usaha hilir dan EBT.

Pendek kata, banyak kewenangan diberikan kepada Wakil Direktur Utama, termasuk mengkoordinasikan kebijakan atau strategi bisnis anak-anak perusahaan yang berada di bawah lingkup hilir dan EBT dengan Direktur Marketing & Retail, Direktur Pengolahan, dan SVP EBT.

Alasan Dewan Komisaris mengusulkan seperti itu karena semakin kompleks dan mengguritanya bisnis Pertamina, antara lain sejumlahmegaproyek pengembangan berskala nasional di sektor pengolahan dan petrokimia.

Saat surat itu dikirim, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto sedang berada di Iran. Dwi berada di Iran untuk menandatangani kerja sama pengelolaan blok minyak dan gas bumi (migas) dengan perusahaan minyak milik negara tersebut. Di Iran, Dwi didampingi Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam dan tim dari Upstream Business Development Pertamina.

Tiba di Jakarta tanggal 10 Agustus, Dwi yang ditanya wartawan mengatakan ia belum mengetahui usulan dari Dewan Komisaris tersebut. “Jangan tanya saya. Tanya pemegang saham,” katanya usai acara “The 4th Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2016” di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Ada apa di balik usulan ini? Sejumlah kalangan mencurigai usulan tersebut sebagai bagian dari upaya melengserkan atau menjepit Dwi sebagai Direktur Utama Pertamina. Kecurigaan itu muncul karena saat surat tersebut dikirim, Dwi sedang berada di luar negeri. Kemudian pembahasan perubahan struktur direksi tersebut juga tidak melibatkan Dewan Direksi. [lat]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357370/gaya-dwi-soetjipto-membersihkan-pertamina
Gaya Dwi Soetjipto Membersihkan Pertamina
Oleh : Latihono Sujantyo | Jumat, 3 Februari 2017 | 14:40 WIB


Dwi Soetjipto – (Foto: inilahcom)

Sejak menjabat Dirut Pertamina, Dwi Soetjipto langsung melakukan pembersihan di BUMN migas tersebut.

Sebenarnya, masih dua tahun lagi Dwi Soetjipto memimpin PT Pertamina (Persero). Seperti diketahui, Presiden Jokowi pada November 2014 menunjuk Direktur Utama PT Semen Indonesia itu untuk memimpin Pertamina periode 2014-2019.

“Pak Jokowi melihat bahwa Pak Dwi salah satu putra terbaik bangsa, karena telah berhasil membawa Semen Indonesia menjadi pemain global,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno, saat itu.

Sejak Dwi menjabat Direktur Utama Pertamina November 2014, citra BUMN migas itu cukup beragam. Komplain kelangkaan BBM, harga mahal, tidak efisien, hingga sarang mafia. Sejak itu, dia bertekad Pertamina harus dibersihkan.Maklum, transaksi yang dikelola Pertamina 20-25 kali transaksi di PT Semen Indonesia Tbk yang juga pernah dinahkodainya.

Itulahsebabnya, langkah pertama yang dilakukan Dwi adalah membubarkan anak perusahaan Pertamina Energy Trading Limited (Petral) yang berkantor di Singapura. Pasca pembubaran Petral, Pertamina bisa hemat Rp250 miliar per hari dari transaksi hariannya yang mencapai Rp1,7 triliun. Total penghematan dari pembubaran Petral mencapai US$608 juta di tahun 2015.

Selain itu, Dwi juga melakukan bersih-bersih pada praktik backing kapal sehingga looses dan kini terjadi efisiensi US$255 juta. Lalu dari revitalisasi integrated supply chain (ISC) bisa efisiensi sebesar US$208 jutadan sentralisasi procurement dapat dihemat US$90 juta.

Yang tak kalah pentingnya, menurut Dwi, Pertamina juga tengah membersihkan aset-aset tanah dan gedung miliknya yang dikuasai pihak ketiga, atau direkayasa orang dalam untuk dikuasai pihak luar. Berdasarkan data Asset Management Pertamina, sedikitnya ada 10 aset yang sedang dalam upaya penguasaan kembali oleh Pertamina.

“Saya kira kita perlu ngecek lagi kontrak kita dengan pihak ketiga terkait penggunaan infrasrtuktur Pertamina,” tegas Dwi.

Dalam dokumen yang beredar, dari ke-10 aset tersebut jika dihitung dengan harga kekinian nilainya mencapai Rp6,42 triliun.

Dwi menyadari bersih-bersih yang dilakukannya akan menganggu beberapa pihak. Tapi dia bilang tidak takut. [lat]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357372/dwi-dicopot-alasannya-penyegaranmatahari-kembar
Dwi Dicopot, Alasannya Penyegaran&Matahari Kembar
Oleh : Uji sukma medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 14:53 WIB


Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Tanri Abeng – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta – Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Tanri Abeng bilang, pergantian di jajaran direksi Pertamina adalah penyegaran. Dan yang lebih penting lagi adalah teamwork.

Usai RUPS Pertamina, Jumat (3/2/2017) di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Tanri menerangkan soal pencopotan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto dan Wadirut Ahmad Bambang.

Selanjutnya RUPS menunjuk Yenni Andayani yang sebelumnya menjabat Direktur Energi Baru Terbarukan (EBT), sebagai pelaksana tugas harian (plt) Dirut Pertamina. Sedangkan posisi wakil dirut Pertamina dihapuskan. “Dalam sebuah organisasi yang terpenting adalah adanya teamwork,” kata Tanri.

Selain itu, Tanri menyorot adanya kursi wadirut justru menambah masalah, khususnya menyangkut struktur organisasi. “Cuma terkadang struktur itu mengganjal akan terjadinya kerja tim yang efektif. RUPS hari ini dengan menteri meniadakan jabatan wadirut,” tegas Tanri.

Masih kata Tanri yang pernah menjabat menteri BUMN ini, dewan komisaris Pertamina
mengusulkan adanya penyegaran. Di mana, pemegang saham harus memutuskan bagaimana pengawalan dari struktur organisasi ke depan yang semakin menantang.

“Sebagai perusahaaan besar yang multikompleks tidaklah mudah untuk bisa dimanajemenkan secara efektif. Kami harapkan tim ini bisa bekerjasama tugas- tugas yang sudah dicanangkan. Pertamina harus jadi world class energi company,”tukasnya.

Soal adanya matahari kembar yang menggambarkan posisi dirut dengan wadirut di Pertamina, memang sempat mengemuka. Di mana, sejak Oktober 2016, Ahmad Bambang ditunjuk sebagai wadirut. Sebelumnya dia adalah direktur pemasaran.

Namun, alih-alih Pertamina bisa mengebut pekerjaan. Adanya dualisme kepemimpinan ini,melahirkan masalah baru. Hal ini sempat disentil Anggota Komisi VII DPR asal Demokrat Mulyadi dalam sebuah rapat kerja.

“Kepemimpinan ganda di Pertamina, ini menurut kami perlu penanganan serius. Karena bagaimanapun ini jadi tanggung jawab pak menteri di sektor (migas),” ujar Mulyadi. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357375/pertamina-jadi-sapi-perah
Pertamina Jadi Sapi Perah
Oleh : Latihono Sujantyo | Jumat, 3 Februari 2017 | 14:54 WIB

INILAHCOM, Jakarta – Selama menjabat Dirut Pertamina, Karen Agustiawan kerap mendapat ancaman akan dipecat karena tidak mau melayani permintaan uang.

Sudah menjadi rahasia umum, selama ini Pertamina menjadi sapi perahan banyak pihak. Pernyataan soal sapi perah, bahkan pernah disampaikan oleh Karen Agustiawan, Dirut Pertamina periode 2009-2014.

Karen mengungkapkan soal itu, saat diperiksa sebagai saksi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan penerimaan hadiah bagi anggota Komisi VII DPR terkait aktivitas di Kementerian ESDM, pada 27 Januari 2014. Karen menjadi saksi untuk tersangka Waryono Karno, Sekjen Kementerian ESDM.

Dalam kesaksiannya, Karen membantah pernah memberikan uang THR melalui Rudi Rubiandini, mantan Ketua SKK Migas. “Tidak sepeser pun uang yang saya berikan ke Komisi VII,” kata Karensaat itu.

Kalimat selanjutnya bahkan lebih tegas. “Selama saya sebagai dirut, itu tidak akan pernah terjadi. BUMN tidak akan dijadikan sebagai sapi perah. Selama saya sebagai dirut, Pertamina tidak akan jadi sapi perah,” tegas Karen.

Menurut Rudi Alfonso, kuasa hukum Karen, kliennya selama menjabat Dirut Pertamina bahkan sering mendapat ancaman pemecatan. Ancaman didapat karena Karen kerap menolak memberikan apapun kepada siapapun. Termasuk buat anggota DPR.

“Saya pastikan tidak ada pemberian (THR). Ibu ini sudah sering diancam untuk dipecat, karena dia tidak pernah melayani permintaan itu,” kata Rudi.

Belakangan, Karen memilih menyatakan mundur dari Dirut Pertamina pada 1 Oktober 2014. Dia memilih pensiun dan ingin hidup tenang.

Icshanudin Noorsy, pengamat ekonomi, juga pernah mengatakan bahwa pemerintah perlu membebaskan Pertamina dari posisi sapi perahan. Tujuannya, agar menjadi perusahaan minyak multinasional. Ia bahkan menegaskan agar pemerintah bisa melepaskan Pertamina dari mafia minyak di Tanah Air.

“Suka tidak suka, kita punya masalah besar. Kesalahan kita adalah menyamaratakan semua BUMN dan hanya menjadikan BUMN sebagai sapi perahan,” kata Icshanudin Noorsy dalam dialog bertema “Pertamina dalam Bisnis dan Politik”, beberapa waktu lalu.

Pihak lain yang terang-terangan menyebut Pertamina menjadi sapi perahan tak lain Muhammad Said Didu, mantan Sekretaris Menteri BUMN. Menurutnya, ada tiga perusahaan BUMN paling rawan menjadi sapi perah. “Pertamina, PLN, dan asuransi. Tiga perusahaan itu paling rawan,” kata Said, pada Oktober 2012.

Menurut Said, beberapa titik rawan di Pertamina yang biasa dijadikan obyek para pemeras tak lain masalah jual beli minyak, transportasi, service atau perbaikan, sludgekilang, dan kerjasama. “Pertamina mengelola uang Rp 1,5 triliun hingga Rp 2 triliun per hari, sangat besar,” katanya. [lat]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357380/kerap-cekcok-pendapat-dwibambang-terpental
Kerap Cekcok Pendapat, Dwi&Bambang Terpental
Oleh : Uji sukma medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 15:19 WIB


Komisaris Utama Pertamina, Tanri Abeng – (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta – Komisaris Utama Pertamina, Tanri Abeng bilang, pencopotan Dirut dan Wadirut Pertamina karena keduanya tidak kompak. Acapkali berbeda pandangan dalam membahas masalah-masalah strategis.

Tanri memiliki sejumlah catatan beda pandangan yang cukup keras dari Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang, saat menjabat Dirut dan Wadirut Pertamina. Semisal, penunjukkan 20 tenaga strategis, masalah kilang rusak hingga keputusan mengenai impor solar.

Akibat kerasnya dualisme inilah, Pertamina acapkali mengalami keterlambatan keputusan. “Itu barangkali ada 20 tenaga-tenaga strategis yang mestinya sudah diganti atau sudah diisi. Dan itu tidak diisi atau tidak diganti,” kata Tanri di Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (3/2/2017).

Apa yang dibeberkan Tanri, baru masalah segelintir. Kalau mau dibeberkan, masih banyak hal-hal yang seharusnya tidak perlu terjadi. Misalnya, saat pembahasan importasi solar, wadirut seharusnya tidak masuk terlampau dalam. Karena hal itu menyangkut kebijakan strategis. “Kalau soal alokasinya memang kewenangan wadirut, tapi mengimpor adalah kewenangan dirut. Jadi, wadirut tidak bisa memutuskan impor atau tidak loh. Dia hanya minta pengalokasian, itupun sebenarnya sudah dikirim permintaannya oleh dirut,” papar Tanri.

Tetapi karena dirut belum menandatangani maka wadirut bisa dialihtugaskan untuk menandatangani keputusan itu. Sebetulnya, hal ini tidak jadi masalah. Sayangnya, kedua pemangku jabatan tertinggi Pertamina itu, malah mempermasalahkannya.

“Tidak masalah sebenarnya. Pak Tjip mestinya kan tandatangani tapi dia kan keluar kota. Kok mereka ga begitu bekerja sama. Kalau misalnya saja kalau saya dirut lupa tanda tangan ya saya telpon wadirut ‘eh itu saya belum teken, you laksanakan’,” tutur Tanri.

“Sebetulnya kan mereka bisa berkomunikasi. Tapi justru malah dipermasalahkan diantara mereka, nah ini semua menurut saya kerja sama yang tidak mendukung tercapainya kinerja yang optimal,” lanjut Tanri.

Mengenai kilang yang rusak, lanjut mantan Menteri BUMN itu, memang perlu dilakukan pergantian. Dan hal itu adalah sesuatu yang lumrah saja. “Dulu-dulu juga begitu, tapi ini frekuensinya lebih. Kita bisa menyadari bahwa seorang direktur yang baru mungkin memerlukan penyesuaian. Tapi dalam kondisi itu masalah-masalah yang tidak perlu diangkat seperti impor (solar) itu loh,” pungkasnya. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2357394/direksi-pertamina-dirombak-menteri-rini-sedih
Direksi Pertamina Dirombak, Menteri Rini Sedih?
Oleh : Uji Sukma Medianti | Jumat, 3 Februari 2017 | 16:06 WIB


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno – (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno dengan pencopotan dua direksi Pertamina.

“Saya sedih, saya mengetahui keduanya dan saya salah satu yang mendukung pemilihannya Pak Tjip (sebagai direktur utama),” kata Rini di Kementerian BUMN, Jumat (3/2/2017).

Rini melanjutkan, Dwi Soetjipto yang pada saat itu diangkat sebagai Direktur Utama (Dirut), bukan orang internal Pertamina.

“Itupun (karena bukan orang Pertamina) posisinya membuat berat. Tapi kami harap bisa berjalan dengan baik dan Alhamdulillah itu berjalan dengan baik,” ujar Rini.

Ketidakstabilan yang terjadi antara Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang, kata Rini, terlihat dalam mengambil keputusan saat rapat direksi.

“Jadi kalau yang satu tidak setuju yang lain jalan sendiri. Akhirnya kan bukan teamwork,” ungkapnya.

Padahal, lanjut Rini, dalam tata kelola perusahaan yang baik keputusan direksi ditanggung bersama tidak bisa sendiri-sendiri.

“Kalau sudah tidak ikut, GCG (Good Corporate Governance) jadi masalah,” lanjutnya.

Sebelum pencopotan direksi ini, Rini mengaku telah menutup komunikasi dengan dua direksi itu. “Saya sengaja tidak mau komunikasi dengan keduanya. Karena saya memang mengharapkan, secara GCG dewan komisaris itu sudah melakukan fungsinya,” terangnya.

Pencopotan ini, kata Rini, memang mendadak. Sebab permasalahan ‘personality’ kedua direksi dianggap sudah terlalu akut.

“Betul (diputuskan mendadak), karena dianggapnya sudah parah oleh dewan komisaris. Jadi tentunya kami harus respon. Alhamdulillah bisa langsung diberi waktu Presiden, jadi kami langsung laporkan dulu,” jelasnya. [hid]


Advertisements